Home Berita Menakar ‘Paslon’ Pimpinan PBNU: Aroma Pertempuran AHWA di Muktamar ke-35

Menakar ‘Paslon’ Pimpinan PBNU: Aroma Pertempuran AHWA di Muktamar ke-35

0
5 views
Bagikan :

JAKARTA, TELUSUR.ID – Dinamika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 mulai memanas dengan munculnya berbagai spekulasi mengenai peta kekuatan figur calon pemimpin. Tokoh warga NU yang juga dikenal sebagai kiai kampung, HRM. Khalilur R Ab. S atau yang akrab disapa Gus Lilur, memberikan analisis mendalam mengenai situasi ini.

Dalam keterangannya, Gus Lilur sengaja menggunakan istilah “paslon” atau pasangan calon untuk membaca dinamika yang ada. Meski istilah ini tidak dikenal dalam struktur formal organisasi NU, ia menilai terminologi tersebut sangat membantu untuk menjelaskan realitas politik organisasi yang sedang berlangsung di lapangan.

“Secara normatif, Rais Aam memang dipilih melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Namun, dalam realitas politik internal, komposisi AHWA tidak sepenuhnya steril,” ujar Gus Lilur saat membedah persiapan muktamar diterima Telusur.id, Selasa (28/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa arah pilihan AHWA kerap dikondisikan dan dipengaruhi oleh relasi kepentingan antara calon Rais Aam dan calon Ketua Umum. Dengan kata lain, pilihan AHWA tidak terlepas dari konfigurasi awal yang dibentuk oleh para aktor utama di balik layar.

Gus Lilur kemudian menyoroti pergerakan Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Ia menyebut adanya informasi mengenai upaya menutup celah bagi dua kiai alim NU untuk masuk dalam jajaran anggota AHWA, yakni KH. Nurul Huda Jazuli dan KH. Kafabihi Makhrus.

“Informasi ini perlu dibaca sebagai dinamika internal yang masih sangat cair. Namun, dalam kacamata politik organisasi, hal ini menunjukkan komposisi AHWA telah menjadi arena strategis yang sangat menentukan,” lanjutnya menekankan pentingnya posisi tersebut.

Menurut narasi yang berkembang, kedua kiai tersebut dipersepsikan memiliki kecenderungan untuk mendukung Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam. Di sisi lain, Gus Ipul disebut-sebut tetap menginginkan Miftachul Akhyar untuk bertahan di posisi tertinggi sebagai Rais Aam.

Kondisi ini menandakan bahwa pertarungan Muktamar sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum forum resmi dibuka. “Pertarungan bukan hanya terjadi di ruang pemilihan, tetapi sudah berlangsung di ruang-ruang penentu siapa yang berhak memilih,” ungkap Gus Lilur dalam catatannya.

Lebih lanjut, ia memetakan setidaknya ada lima poros kekuatan yang muncul saat ini. Poros pertama adalah Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang tetap mencalonkan diri sebagai Ketua Umum, namun masih dalam proses mencari pasangan yang tepat untuk posisi Rais Aam.

Sementara itu, poros kedua menempatkan Saifullah Yusuf yang berupaya mempertahankan posisinya sebagai Sekjen. Gus Ipul diprediksi akan mendorong kembali Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam sembari menggodok figur ideal untuk menduduki kursi Ketua Umum.

Tak hanya internal PBNU, pengaruh eksternal juga terbaca pada poros ketiga. Gus Lilur melihat adanya jaringan yang beririsan dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang tengah mendorong skema Ketua Umum tertentu dengan menyodorkan Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam.

Selanjutnya, muncul poros keempat yang berkaitan dengan jaringan di Kementerian Agama. Kelompok ini mulai mempertimbangkan figur Menteri Agama, Nasaruddin Umar, sebagai calon Ketua Umum, meski posisi Rais Aam dalam skema ini masih sangat terbuka untuk dikonfigurasikan.

Adapun poros kelima, menurut Gus Lilur, adalah munculnya paslon alternatif. Figur ini biasanya lahir dari kompromi di detik-detik akhir ketika tidak ada satu pun poros dominan yang mampu menguasai mayoritas suara muktamirin.

Situasi ini semakin menarik jika dikaitkan dengan dinamika dalam forum IKA PMII. Gus Lilur menyebut ada potensi koalisi besar jika tokoh-tokoh seperti Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, dan Nazaruddin Umar benar-benar berpadu dalam satu barisan.

“Jika konfigurasi itu bersatu, maka bukan tidak mungkin hasil Muktamar telah ‘selesai’ sebelum forum resmi berlangsung. Namun, NU punya tradisi sendiri di mana faktor kiai pesantren sering menjadi penentu akhir di luar kalkulasi formal,” tuturnya.

Ia juga melontarkan pertanyaan reflektif mengenai alasan mengapa Gus Yahya tidak lagi berpasangan dengan Miftachul Akhyar. Menurutnya, perubahan konfigurasi ini mencerminkan adanya ketegangan atau perbedaan strategi dan jaringan yang tidak selalu tampak di permukaan.

Dalam skenario lain, Gus Lilur melihat potensi komunikasi antara Gus Yahya dengan Said Aqil Siradj untuk posisi Rais Aam, meskipun kabarnya belum ada jawaban pasti. Saat ini, Gus Yahya diklaim masih mengantongi modal dukungan sekitar 40 persen suara.

Sebagai penutup, Gus Lilur menegaskan bahwa jika Said Aqil memilih konfigurasi lain, Gus Yahya kemungkinan akan mencari alternatif seperti Asep Saifuddin Halim atau Ma’ruf Amin. “Ini adalah pertarungan mendalam tentang arah NU ke depan. Menarik untuk terus diikuti,” pungkasnya.

NO COMMENTS

Tinggalkan Balasan