Jaga Keutuhan NKRI, Ketua GMPK Abd. Aziz Kawal Pendirian Rumah Besar Santri se-Nusantara

0
23 views
Dari kiri ke kanan: Abd. Aziz, Kiai Muhammad Ali Cholil, dan Kiai Imam Buchori Cholil._
Bagikan :

MALANG, Telusur.id – Ketua Umum DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK), Abd. Aziz, menegaskan komitmennya dalam mengawal lahirnya Ikatan Himpunan Santri dan Alumni Pesantren se-Nusantara (IHSAN) sebagai pilar baru penjaga keutuhan bangsa.

Lembaga ini dirancang menjadi rumah besar yang mewadahi jutaan santri dan alumni pesantren di Indonesia agar tetap berada dalam satu bingkai visi keumatan yang kokoh dan terorganisir.

Abd. Aziz yang merupakan kader Nahdliyin mengungkapkan bahwa keterlibatannya bermula dari diskusi mendalam bersama cicit Syaikhona Cholil Bangkalan, Lora Imam Buchori Cholil (Ra Imam), yang kini menjabat sebagai Rais Syuriyah PBNU.

Dalam komunikasi tersebut, terungkap sebuah gagasan besar dari Kiai Muhammad Ali Cholil (Ra Ali) untuk mendirikan wadah formal yang mampu mengonsolidasikan kekuatan alumni pesantren dari Sabang sampai Merauke.

Sebagai sosok yang besar di lingkungan pesantren, Abd. Aziz menilai persatuan alumni adalah kebutuhan mendesak untuk menyangga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah dinamika global.

“Santri dan alumni pesantren harus bersatu sebagai garda terdepan dalam menjaga moralitas dan merawat hubungan kemanusiaan di tanah air,” ujar Abd. Aziz CEO Progesif Law dalam keterangan tertulisnya kepada Telusur.id, Senin (13/4/2026).

Aziz menjelaskan bahwa IHSAN diikhtiarkan sebagai upaya nyata untuk menjembatani berbagai problema bangsa, terutama potensi gesekan berbasis SARA yang kerap mengancam harmoni sosial.

Ia menekankan pentingnya peran santri dalam mengikis perbedaan dan memperjumpakan persamaan demi mencapai cita-cita luhur para pendiri bangsa yang religius namun tetap nasionalis.

Dalam kapasitasnya sebagai praktisi hukum, Abd. Aziz dipercaya untuk menyusun kerangka legalitas kelembagaan, mulai dari AD/ART hingga proses pendaftaran di Kementerian Hukum.

“Tugas saya adalah memastikan secara domain hukum bahwa IHSAN memiliki fondasi organisasi yang kuat, profesional, dan akuntabel sejak awal pendiriannya,” tegas pria yang juga dikenal sebagai advokat tersebut.

Aziz memaparkan bahwa salah satu misi utama IHSAN adalah menegaskan kontribusi nyata pesantren dalam pembangunan nasional serta menjaga marwah para ulama dari berbagai gangguan.

Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa santri memiliki peran strategis sebagai penggerak sosial yang mampu menjaga nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin di tengah masyarakat.

Dalam diskusi bersama para pengasuh pesantren, Aziz juga mengusulkan program prioritas berupa tindakan preventif untuk mengantisipasi konflik di daerah-daerah rawan.

Ia meyakini jika seluruh Ketua Alumni Pesantren bersatu, potensi konflik sosial seperti yang pernah terjadi di masa lalu dapat dicegah melalui langkah yang terencana, terukur, dan terprediksi (3T).

“Kita ingin memastikan bahwa kehadiran IHSAN mampu meminimalisir risiko sosial sebelum masalah tersebut membesar dan merugikan kedaulatan warga,” tambah Ketua Umum GMPK tersebut.

Selain fokus pada kerukunan, lembaga ini juga akan memelopori Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) dan Doa Kebangsaan secara masif di 38 provinsi serta ratusan kabupaten/kota.

Abd. Aziz menyatakan bahwa dukungan dari para kiai dan tokoh pesantren terus mengalir deras, menunjukkan bahwa visi lembaga ini sangat relevan dengan kebutuhan umat saat ini.

Menutup keterangannya, Aziz memastikan deklarasi akbar IHSAN akan segera digelar di Kalimantan, yang nantinya akan menjadi tonggak sejarah baru bagi gerakan santri dan alumni pesantren se-Nusantara.

 

Tinggalkan Balasan