Gus Salam Gerilya Silaturahmi Jelang Muktamar NU, Tegaskan Pentingnya Rekonsiliasi Total

0
13 views
Bagikan :

JOMBANG, TELUSUR.ID – Dinamika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) kian menghangat. KH Abdussalam Shohib, atau yang akrab disapa Gus Salam, terus mengintensifkan langkah konsolidasi dengan melakukan silaturahmi ke sejumlah kiai sepuh serta jajaran struktur organisasi di berbagai tingkatan.

Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang ini bergerak dalam senyap melalui “gerilya” silaturahmi. Langkah ini ditegaskannya sebagai bagian dari ikhtiar untuk mencari kepercayaan dan restu para masyayikh, bukan sekadar mengejar jabatan formal.

Upaya ini sejalan dengan santernya informasi di akar rumput yang menyebut Gus Salam siap memberikan pengabdian terbaiknya di jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kabar kesiapannya mencalonkan diri sebagai Ketua Umum kian menguat di tengah publik.

Ditemui di Ndalem Kesepuhan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar pada Selasa (14/4/2026), Gus Salam memberikan tanggapan terkait isu tersebut. Ia mengaku kurang nyaman jika harus menggunakan terminologi politik praktis dalam ruang lingkup organisasi ulama.

Menurut Gus Salam, istilah ‘mencalonkan’ atau ‘dicalonkan’ kurang pas jika ditarik ke dalam konteks Nahdlatul Ulama. Ia menilai filosofi dasar organisasi ini sangat berbeda dengan partai politik atau lembaga birokrasi pemerintahan.

“Di NU itu perspektifnya adalah pengabdian atau khidmah. Karena itu, saya lebih memilih menyebut langkah ini sebagai ikhtiar untuk mencari kepercayaan dari para sesepuh,” ungkap cucu dari KH Bisri Syansuri, salah satu tokoh kunci pendiri NU tersebut dikutip Telusur.id

Dalam beberapa waktu terakhir, Gus Salam mengaku telah menempuh perjalanan panjang menemui para kiai sepuh dan pengasuh pesantren. Fokus kunjungannya tersebar di lumbung-lumbung basis NU, mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat.

Bagi Gus Salam, kunjungan tersebut murni dilakukan untuk memohon doa serta restu. Ia meyakini bahwa restu dari para masyayikh merupakan bekal utama dan paling berkah dalam menjalankan peran pengabdian di tubuh organisasi sebesar NU.

Selain merapat ke para kiai sepuh, Gus Salam juga aktif menjalin komunikasi dua arah dengan struktur tingkat wilayah (PWNU) dan cabang (PCNU). Komunikasi ini penting untuk memotret realitas organisasi di tingkat bawah secara langsung.

Ia menargetkan dapat menjangkau setidaknya 80 hingga 90 persen struktur organisasi sebelum peluit Muktamar ditiupkan. Upaya ini dilakukan guna menyerap aspirasi sekaligus menyamakan visi mengenai masa depan Nahdlatul Ulama.

Terkait pelaksanaan Muktamar sendiri, Gus Salam menekankan pentingnya kejelasan jadwal dan lokasi dari pihak PBNU. Kepastian tersebut dinilai krusial agar roda organisasi tidak terhambat oleh ketidakpastian administratif yang berlarut-larut.

Ia menyoroti banyaknya kepengurusan di tingkat daerah yang saat ini belum bersifat definitif. Menurut pantauannya, ketidakpastian status kepengurusan ini dapat berdampak pada efektivitas program kerja organisasi di masyarakat.

“Banyak SK di tingkat cabang yang sudah tidak aktif, ada yang masih berstatus karateker, bahkan ada yang sudah berjalan lebih dari satu tahun. Kondisi ini tentu mengganggu kinerja organisasi secara keseluruhan,” tuturnya dengan nada serius.

Selain persoalan administratif, Gus Salam membawa pesan kuat mengenai urgensi rekonsiliasi internal. Ia memandang perbedaan pandangan dalam organisasi adalah hal lumrah, namun tidak boleh mengarah pada perpecahan yang bersifat destruktif.

“Yang paling prinsip adalah rekonsiliasi total. NU adalah organisasi besar dengan tingkat kepercayaan umat yang sangat tinggi. Maka dari itu, menjaga persatuan dan kebersamaan adalah harga mati,” tegasnya.

Dukungan moral bagi Gus Salam juga mengalir deras dari internal pesantren, termasuk dari Pembina Ikatan Keluarga Alumni (IKAPM) Mamba’ul Ma’arif, Sholahudin Fathurohman. Ia menyatakan bahwa keluarga besar alumni dan dzuriah telah mufakat untuk mendorong Gus Salam.

Keputusan mendukung Gus Salam diambil setelah menimbang aspek keilmuan dan garis keturunan (dzuriah) yang memiliki legitimasi kuat. “Kami sepakat meminta beliau maju. Secara kapabilitas, kami sangat yakin beliau mampu membawa NU lebih baik,” pungkas Sholahudin.

Tinggalkan Balasan