SURABAYA, TELUSUR.ID – Menjelang perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), kegelisahan mendalam mulai muncul dari akar rumput mengenai arah masa depan organisasi. HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, atau yang akrab disapa Gus Lilur, mengingatkan agar agenda besar ini tidak sekadar menjadi rutinitas, melainkan momentum krusial untuk menjaga marwah keulamaan dari tarikan kepentingan politik praktis.
Gus Lilur menegaskan bahwa NU didirikan oleh para ulama besar dengan fondasi ilmu dan akhlak yang kokoh, bukan sebagai instrumen kekuasaan. Menurutnya, Muktamar kali ini harus berani melakukan koreksi total terhadap realitas internal organisasi yang dinilai mulai menyimpang dari khittah aslinya.
“NU ini didirikan untuk pengabdian umat, bukan untuk menjadi alat kepentingan kekuasaan. Penyimpangan orientasi ini harus segera dikoreksi melalui muktamar yang berani dan jujur dalam melihat realitas yang ada,” ujar Gus Lilur dalam keterangannya kepada Telusur.id, Rabu (15/4/2026).
Ia menyoroti munculnya figur-figur yang kental dengan latar belakang politik seperti Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf dalam dinamika internal NU. Gus Lilur menilai, dominasi aktor politik menunjukkan batas antara organisasi keagamaan dan panggung politik yang semakin kabur dan mengkhawatirkan.
Bahkan, ia tidak segan menyinggung kepemimpinan Yahya Cholil Staquf sebagai bagian dari dinamika yang perlu dievaluasi secara terbuka. Baginya, evaluasi ini bukan tentang kebencian pribadi, melainkan demi menjaga martabat organisasi agar tetap dipercaya oleh jamaah.
Gus Lilur juga melontarkan kritik pedas terhadap fenomena yang ia sebut sebagai “gus-gus nanggung”. Ia menyayangkan adanya oknum pengurus yang menggunakan legitimasi NU hanya untuk membangun jejaring kekuasaan pribadi daripada memperkuat basis kaderisasi dan keilmuan.
“Kita punya tradisi besar, punya ribuan pesantren, dan forum bahtsul masail yang mendalam. Namun ironisnya, kenapa yang sering tampil di permukaan justru bukan mereka yang paling alim, melainkan yang paling dekat dengan akses kekuasaan,” kritiknya dengan nada tajam.
Padahal, ia menekankan bahwa Nahdlatul Ulama sebenarnya memiliki stok figur pemimpin yang melimpah dengan kapasitas keulamaan serta intelektualitas tinggi. Tokoh-tokoh ini dianggap jauh lebih kredibel untuk menakhodai arah organisasi di masa depan.
Gus Lilur menyebutkan sederet nama potensial seperti Nasaruddin Umar, Said Aqil Siradj, Abdus Salam Shohib, Yusuf Chudlory, Zulfa Mustofa, hingga Bahauddin Nursalim (Gus Baha). Menurutnya, mereka memiliki rekam jejak keilmuan yang jelas dan diakui secara luas oleh publik.
“NU ini kaya akan tokoh hebat. Jangan sampai kepemimpinan nasional NU terjebak pada figur yang itu-itu saja hanya karena faktor kedekatan politik. Kita butuh pemimpin yang berangkat dari tradisi kitab, bukan dari kepentingan elektoral,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menyerukan agar Muktamar menjadi ajang untuk memutus rantai haus kekuasaan di tubuh jam’iyah. Gus Lilur mengingatkan agar siapapun yang ingin berpolitik untuk segera beralih ke partai politik tanpa membawa atribut atau simbol-simbol organisasi.
Independensi NU, menurutnya, adalah kunci utama agar organisasi ini tetap menjadi penyejuk bagi umat. Jika NU kehilangan jarak dari kekuasaan, ia khawatir peran organisasi sebagai penjaga moral bangsa akan tergerus dan perlahan sirna.
Gus Lilur juga mendorong agar Muktamar mengembalikan fokus pada penguatan ekosistem intelektual pesantren. Ia ingin NU kembali dihormati karena kedalaman ilmu pengetahuannya, bukan karena pengaruh politiknya di lingkaran pemerintahan.
Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa Muktamar kali ini adalah ujian sejarah bagi para kiai dan ulama. “Ini bukan soal hari ini saja, tapi soal masa depan NU. Kita mau kembali ke jalan ulama atau terus terseret arus kekuasaan. Itulah yang sedang dipertaruhkan saat ini,” pungkasnya.



