YOGYAKARTA, TELUSUR.ID – Menjelang perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, keturunan atau Bani KH Abdul Wahab Chasbullah merapatkan barisan dengan menggelar Halal Bihalal di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tradisi ini menjadi istimewa karena untuk pertama kalinya dilaksanakan di luar Jombang, Jawa Timur.
Cicit KH Abdul Wahab Chasbullah, Muhammad Romahurmuziy, menyatakan bahwa agenda di Yogyakarta ini merupakan tradisi baru sekaligus ajang konsolidasi keluarga besar. Pertemuan ini dilakukan sebagai respons terhadap rencana pelaksanaan Muktamar NU yang diprediksi jatuh pada September 2026.
“Hari ini kita berkumpul untuk membuat tradisi baru, sekaligus bagian dari sambutan kita terhadap Muktamar NU ke-35. Insyaallah menurut informasi terakhir, Muktamar akan diadakan pada bulan September mendatang,” ujar sosok yang akrab disapa Gus Rommy ini, Minggu (29/3/2026) dikutip Telusur.id.
Gus Rommy mengungkapkan bahwa anggota keluarga Bani Wahab banyak yang menduduki posisi strategis di berbagai tingkatan kepengurusan NU. Oleh karena itu, momentum ini digunakan untuk memastikan terbentuknya pengurus yang solid dan mampu membawa organisasi lebih maju.
Dalam kesempatan tersebut, para zuriah pendiri NU juga menyoroti dinamika internal yang sempat memanas beberapa waktu lalu. Keluarga besar menyayangkan terjadinya ketegangan di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang sempat menjadi konsumsi publik.
Gus Rommy berharap proses islah atau perdamaian yang telah dicapai dapat berjalan secara paripurna. Ia menekankan pentingnya peran para zuriah pendiri, baik dari Bani Hasyim, Bani Bisri, maupun Bani Wahab, dalam mengawal jalannya Muktamar agar tetap kondusif.
Melalui kepengurusan yang solid, NU diharapkan dapat semakin memastikan kontribusinya dalam meningkatkan kualitas SDM di Indonesia. Sebagai ormas dengan jemaah terbesar, NU memiliki tanggung jawab besar untuk hadir sebagai pelayan umat atau khadimul ummah.

“Seluruh badan otonom di lingkungan NU harus bergerak dalam pelayanan umat. Mulai dari pendidikan di bawah RMI yang menaungi 30.000 pesantren, hingga sektor kesehatan dan parenting,” jelas Gus Rommy di SMA Global Darussalam Academy.
Terkait pertemuan terbatas yang digelar pasca-Halal Bihalal, Gus Rommy menjelaskan bahwa agenda tersebut diikuti oleh perwakilan 11 Bani dari garis keturunan KH Wahab Chasbullah. Pertemuan ini bertujuan melahirkan kesepakatan bersama yang akan disuarakan dalam Muktamar.
Bani Wahab menginginkan adanya sebuah resolusi yang mampu mengakhiri segala potensi ketegangan yang berulang di tubuh NU. Hal ini penting agar jamiah sebesar NU tidak menjadi “bulan-bulanan” atau memberikan contoh yang kurang baik bagi publik.
Gus Rommy mengingatkan bahwa para masyayikh pendiri NU telah memberikan kontribusi tanpa batas bagi tegaknya NKRI. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen ormas Islam untuk memiliki semangat yang sama dalam mempertahankan kedaulatan negara.
Disinggung mengenai kemungkinan dirinya masuk dalam bursa kepemimpinan PBNU pada Muktamar mendatang, Gus Rommy tidak memberikan jawaban eksplisit. Saat ini, ia mengaku masih fokus berkhidmat di bidang pendidikan untuk menyiapkan generasi emas Indonesia.
“Saya tidak dalam posisi mengiyakan atau tidak karena waktu Muktamar masih cukup lama. Kita kembalikan saja semuanya kepada Muktamirin. Fokus saya adalah kontribusi di dunia pendidikan agar kita bisa mandiri secara teknologi,” tegasnya.
Terkait dukungan dari internal Bani Wahab terhadap dirinya, Gus Rommy menyebut hal tersebut masih bergantung pada hasil musyawarah keluarga besar. Ia memilih untuk mengikuti perkembangan dinamika yang ada hingga mendekati hari pelaksanaan Muktamar nanti.



