Peringatan Nuzulul Qur’an di Denanyar Jombang Diwarnai Doa untuk Bangsa Iran dan Palestina

0
41 views
Bagikan :

JOMBANG, TELUSUR.ID – Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur, menyelenggarakan peringatan Nuzulul Qur’an yang dirangkaikan dengan penutupan khataman kitab suci pada Jumat (6/3/2026) malam. Acara ini menjadi istimewa dengan hadirnya sesi khusus doa bersama untuk bangsa Iran dan rakyat Palestina di tengah eskalasi konflik global yang kian memanas.

Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif, KH. Abdussalam Shohib, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan wujud empati mendalam atas nama kemanusiaan. Solidaritas ini ditujukan bagi saudara sesama muslim yang menjadi korban ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.

Dalam orasinya, tokoh yang akrab disapa Gus Salam ini menyoroti gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Hosseini Khamenei, beserta anggota keluarganya akibat serangan rudal. Tragedi yang terjadi pada 28 Februari 2026 tersebut juga merenggut nyawa 165 siswi sekolah dasar di Iran Selatan.

Situasi di Palestina pun tak kalah memprihatinkan, di mana korban warga sipil terus berjatuhan baik di Tepi Barat maupun Jalur Gaza. Gus Salam menilai, bulan suci Ramadan yang seharusnya menjadi momen ibadah yang tenang, justru ternoda oleh tumpahan darah akibat arogansi kekuatan militer asing.

Kritik tajam dialamatkan pada tindakan militer yang dilakukan di tengah proses mediasi konflik yang sedang diupayakan pemerintah Oman. Serangan terhadap kedaulatan negara merdeka saat warga sedang menjalankan ibadah puasa dinilai sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional dan nilai-nilai peradaban.

Gus Salam menganalisis bahwa alasan di balik serangan ke Iran cenderung berubah-ubah, mulai dari dalih keamanan hingga eliminasi program nuklir. Hal ini memicu kecurigaan global bahwa agenda sebenarnya adalah upaya pengendalian terhadap negara-negara berdaulat yang menolak tunduk pada dominasi adikuasa.

Konflik ini dikhawatirkan menyeret dunia ke ambang perang besar setelah pangkalan militer di berbagai negara Timur Tengah mulai terancam serangan balasan. Eskalasi bahkan mulai meluas ke wilayah Lebanon hingga kawasan Kaukasus, yang memicu ketidakpastian keamanan di tingkat internasional.

Ia juga menyoroti sosok Benjamin Netanyahu dan Donald Trump sebagai aktor sentral di balik berbagai krisis kemanusiaan saat ini. Kebijakan kedua pemimpin tersebut dinilai menjadi pemicu utama kekacauan yang merusak tata kelola global dan rasa keadilan dunia.

Dunia internasional, menurut Gus Salam, terkesan diam dan seakan menutup mata terhadap arogansi kekuatan besar karena pertimbangan hubungan diplomatik. Kondisi ini dianggap sangat melukai perasaan rakyat Iran dan bangsa-bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan serta keadilan.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Indonesia yang secara tegas mengecam tindakan militer tersebut. Sikap pemerintah dinilai kontras dengan perasaan sebagian besar rakyat Indonesia yang mendukung hak setiap negara untuk membela kedaulatannya.

Presiden Prabowo Subianto yang dikenal lantang menyuarakan kedaulatan, kini diharapkan mampu mengambil langkah diplomasi yang lebih konkret. Partisipasi Indonesia dalam Board of Peace (BoP) buatan Donald Trump pun menuai kritik karena dianggap tidak sejalan dengan semangat kemerdekaan Palestina.

Gus Salam mengingatkan kembali amanat Pembukaan UUD 1945 yang secara tegas menolak segala bentuk penjajahan di atas dunia. Prinsip ini, ditambah dengan komitmen Dasasila Bandung 1955, seharusnya menjadi landasan utama kebijakan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.

Partisipasi Indonesia dalam lembaga non-resmi seperti BoP dikhawatirkan menempatkan marwah negara di bawah kendali kepentingan pribadi pemimpin asing. Sebagai bangsa besar dengan sejarah peradaban nusantara, Indonesia dinilai harus menjaga martabatnya dalam pergaulan internasional.

Gus Salam menyarankan agar Indonesia lebih memilih keluar dari BoP dan kembali memperkuat jalur diplomasi melalui lembaga internasional yang sah seperti PBB. Penegakan hukum internasional harus dilakukan secara kolektif untuk menghentikan arogansi negara-negara yang mengabaikan aturan global.

Rangkaian acara di Denanyar ini ditutup dengan harapan kolektif agar peperangan dan genosida segera berakhir. Melalui doa dan dukungan moral, PP Mamba’ul Ma’arif mendesak dikembalikannya kedaulatan bangsa-bangsa agar kemanusiaan dan keadilan dapat kembali diikhtiarkan demi perdamaian dunia.

Tinggalkan Balasan