JOMBANG, TELUSUR.ID – Pengasuh Asrama Queen Al Azhar Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, KH Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans, melihat adanya peluang besar bagi Indonesia untuk tampil sebagai mediator perdamaian dunia. Hal ini menyusul eskalasi serangan militer Amerika Serikat di bawah Donald Trump dan Israel terhadap Iran yang kian memanas di awal Maret 2026.
Menurut Gus Hans, Indonesia memiliki modal sosial dan politik yang kuat sebagai negara muslim moderat untuk meredam ketegangan global tersebut. Ia menilai, alih-alih hanya menjadi penonton, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto seharusnya mampu mengambil inisiatif diplomatik yang lebih konkret untuk menghentikan agresi militer.
Dalam keterangannya pada Jumat (6/3/2026), Gus Hans menegaskan bahwa serangan terhadap Iran bukan sekadar isu regional, melainkan ancaman terhadap kedaulatan sebuah bangsa. Sebagai inisiator ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC), ia yakin bahwa dialog kemanusiaan adalah kunci utama untuk mencegah meluasnya konflik ke kawasan lain, termasuk Asia Tenggara.
Eskalasi di Timur Tengah yang dipicu oleh Operation Lion’s Roar telah menyebabkan jatuhnya ratusan korban jiwa akibat gempuran udara ke fasilitas keamanan Iran. Gus Hans memandang situasi kritis ini sebagai ujian bagi kepemimpinan Indonesia di panggung internasional untuk membuktikan komitmennya terhadap perdamaian abadi.
Gus Hans menilai, posisi Indonesia yang tidak memihak blok manapun memberikan legitimasi moral untuk merangkul pihak-pihak yang bertikai. Indonesia diharapkan dapat menggalang kekuatan negara-negara netral lainnya guna mendesak gencatan senjata segera sebelum serangan balasan Iran ke wilayah Teluk semakin tidak terkendali.
Dunia internasional, menurut Gus Hans, saat ini sedang menantikan hadirnya sosok “juru selamat” yang mampu meruntuhkan arogansi kekuatan militer melalui jalur meja perundingan. Ia mendorong pemerintah agar tidak ragu bersuara keras mengecam kekerasan demi menjaga tatanan hukum internasional yang mulai goyah.
Sebagai penggagas Komunitas Jombang Toleran, ia menekankan bahwa perdamaian global hanya bisa terwujud jika negara-negara besar menghormati kedaulatan wilayah lain. Baginya, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam diplomasi damai yang seharusnya bisa diaktivasi kembali dalam krisis AS-Israel dan Iran kali ini.
Namun, dalam upaya memperkuat posisi tawar Indonesia, Gus Hans memberikan catatan khusus mengenai keanggotaan Indonesia di Board of Peace (BoP). Ia menyarankan agar Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi efektivitas forum tersebut bagi kepentingan diplomasi Indonesia yang lebih luas dan independen.
Gus Hans berpendapat bahwa keluar dari BoP justru bisa memberikan keleluasaan bagi Indonesia untuk bergerak secara mandiri tanpa terikat birokrasi forum yang dianggap kurang berdampak. Dengan posisi yang sepenuhnya independen, Indonesia dinilai akan lebih dipercaya sebagai mediator yang jujur oleh pihak-pihak yang berkonflik.
Ia menyakini bahwa evaluasi keanggotaan dalam lembaga internasional seperti BoP adalah langkah strategis untuk menata ulang posisi tawar Indonesia. Keputusan tersebut diharapkan mampu mempertegas identitas politik luar negeri Indonesia yang tetap konsisten pada prinsip bebas aktif sesuai amanat konstitusi.
Menutup narasinya, Gus Hans berharap Indonesia tetap tegak lurus menjadi pelopor perdamaian dunia yang disegani. Ia optimistis, dengan langkah diplomasi yang tepat dan berani, Indonesia mampu meredam bara konflik di Timur Tengah dan menyelamatkan stabilitas global dari ancaman perang yang lebih besar.



