SURABAYA, TELUSUR.ID – Gelaran Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) tingkat wilayah yang dihelat DPW PKS Jawa Timur pada Minggu (1/3/2026) menghadirkan atmosfer yang luar biasa. Acara ini bukan sekadar kompetisi rutin, melainkan menjadi ruang pertemuan spiritual bagi para penjaga ayat suci dari seluruh pelosok Jawa Timur.
Sebanyak 38 DPD PKS kabupaten/kota se-Jawa Timur mengirimkan delegasi terbaiknya untuk berlaga di tingkat provinsi. Para jawara daerah ini datang dengan satu misi utama: memperebutkan tiket menuju ajang MHQ tingkat nasional yang akan mempertemukan para hafiz dari seluruh penjuru Indonesia.
Kegiatan yang dipusatkan di Kantor DPW PKS Jawa Timur, Surabaya, ini merupakan bagian dari rangkaian program semarak Ramadan 1447 H. Melalui ajang ini, PKS Jatim berupaya melakukan konsolidasi nilai-nilai Qur’ani sekaligus memperkuat fondasi spiritual di internal organisasi.
Sekretaris DPW PKS Jawa Timur, Muhamad Syadid, dalam sambutannya menegaskan bahwa MHQ kali ini bukanlah perlombaan tahfidz biasa. Ia menyebut agenda ini sebagai “pesta langit” yang memuliakan para penghafal Al-Qur’an sebagai bintang utamanya.
“Njenengan (Anda) semua adalah bintang utama hari ini. Sejak berangkat dari daerah, para malaikat sudah mengepakkan sayapnya mengawal para penghafal Al-Qur’an,” ujar Mas Syadid dengan nada penuh takzim di hadapan para peserta dikutip Telusur.id, Senin (2/3/2026).

Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo ini menjelaskan bahwa seluruh peserta merupakan hasil seleksi ketat di tingkat daerah. Proses berjenjang ini memastikan bahwa Jawa Timur mengirimkan representasi terbaik yang memiliki kualitas hafalan mumpuni untuk bersaing di level nasional.
Namun, Syadid mengingatkan bahwa trofi bukanlah tujuan akhir dari kompetisi ini. Ia menekankan agar sepulang dari acara, para peserta mampu mengimplementasikan nilai Al-Qur’an dalam bentuk pelayanan nyata kepada masyarakat dengan akhlak yang mulia.
Senada dengan hal itu, Ketua Panitia Ramadan DPW PKS Jatim, Darmidi, menilai konsistensi pembinaan kader berbasis nilai spiritual adalah kunci. MHQ menjadi bukti bahwa di tengah dinamisnya arus sosial dan politik, PKS tetap menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan utama dalam bergerak.
“Hari ini kita membuktikan bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar para huffazh dari kalangan kader. Ini adalah langkah awal menuju gerakan besar pembinaan Al-Qur’an yang lebih masif ke depan,” kata Darmidi optimis.
Di tengah ketatnya persaingan, suasana ruangan mendadak hening dan penuh haru saat sosok Harianto (57) tampil ke depan. Peserta asal Kota Madiun ini merupakan penyandang tunanetra sejak lahir, namun keterbatasan fisik tak menghalanginya untuk menghafal hingga 11 juz Al-Qur’an.

Dengan suara yang tenang dan tajwid yang terjaga, Harianto melantunkan ayat demi ayat yang membuat para penguji serta peserta lain terdiam menyimak. Ia bercerita bahwa motivasinya menghafal adalah agar lebih ringan membawa Al-Qur’an ke mana pun ia pergi tanpa harus menjinjing mushaf braille yang tebal.
“Kalau orang melihat cukup bawa satu mushaf kecil. Kalau saya, satu juz satu buku braille tebal. Kalau 30 juz bisa satu becak. Maka saya pikir, lebih baik dimasukkan ke kepala saja supaya ringan dibawa,” tutur Harianto lirih namun penuh semangat.
Kisah Harianto menjadi tamparan positif bagi peserta lainnya, sebagaimana diungkapkan oleh Komari, salah satu penguji dari Biro Al-Qur’an BKAP PKS Jatim. Baginya, Harianto adalah pelajaran nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk menjauh dari mukjizat kalamullah.


