JAKARTA, TELUSUR.ID – Keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) tengah dirundung duka mendalam atas berpulangnya Margaret Aliyatul Maemunah, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU.
Tokoh perempuan muda yang dikenal inspiratif ini mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu (1/3/2026) pukul 08.25 WIB di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, setelah menjalani perawatan intensif selama hampir dua pekan.
Informasi duka tersebut dikonfirmasi oleh sahabat almarhumah, Idy Muzayyad, mantan Anggota DPR RI sekaligus Komisioner BAZNAS RI. Kepergian Margaret di pagi hari bulan suci Ramadan ini menjadi kehilangan besar bagi organisasi otonom NU, mengingat dedikasi panjangnya mulai dari menjabat Ketua Umum PP IPPNU periode 2009-2012 hingga dipercaya memimpin Fatayat NU di tingkat nasional saat ini.
Margaret Aliyatul Maemunah yang juga merupakan istri dari Abdullah Mas’ud, pengurus Majelis Alumni IPNU, telah mendapatkan banyak simpati dan doa selama masa perawatannya. Doa bersama sempat dipanjatkan dalam berbagai forum besar, termasuk agenda SKKN KOPRI PMII hingga acara buka puasa bersama di kediaman Wamensesneg Juri Ardiantoro, namun rupanya Allah SWT berkehendak lain.
“Rupanya Allah SWT berkehendak lain. Insyaallah almarhumah husnul khotimah,” tulis Idy Muzayyad dalam pesan duka yang tersebar luas di kalangan aktivis dan kaum Nahdliyin dikutip Telusur.id.
Sepanjang masa perawatan di rumah sakit, dukungan moral terus mengalir dari rekan sejawat yang sangat mengharapkan kesembuhan bagi sosok yang gigih memperjuangkan hak-hak perempuan tersebut.
Berdasarkan informasi pihak keluarga, jenazah almarhumah akan disemayamkan dan disalatkan di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat pada pukul 11.00 WIB. Prosesi ini memberikan kesempatan bagi para pelayat dan pengurus organisasi untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum jenazah diberangkatkan menuju kampung halamannya di Jawa Timur.
Almarhumah rencananya akan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, sebuah pusat pendidikan Islam bersejarah di Indonesia. Kepergian Margaret meninggalkan warisan pemikiran yang kuat mengenai pemberdayaan perempuan santri, yang selama ini menjadi fokus utama dalam khidmatnya untuk agama, bangsa, dan organisasi.
Duka mendalam juga dirasakan oleh kader di daerah, termasuk Ketua Fatayat Jombang, Ning Lailatun Ni’mah. Ia segera menginstruksikan seluruh kader Fatayat di Jombang untuk melakukan takziah dan memberikan penghormatan terakhir kepada almarhumah. “Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada almarhumah, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan keikhlasan,” tutur Ning Eli, sapaan akrabnya.
Kini, sosok Margaret Aliyatul Maemunah akan terus dikenang sebagai teladan bagi generasi muda Nahdlatul Ulama dalam berorganisasi. Semangatnya yang tak pernah padam dalam menggerakkan IPPNU hingga Fatayat NU menjadi catatan sejarah penting bagi perjalanan kepemimpinan perempuan di lingkungan santri nusantara.



