Cegah ‘Kepaten Obor’ di Idulfitri 1447 H, Gus Faiz: Halalbihalal Adalah Penjaga Silsilah Bangsa

0
100 views
Bagikan :

JOMBANG, TELUSUR.ID – Perayaan Idulfitri 1447 Hijriah menjadi momentum krusial bagi masyarakat untuk merajut kembali tali silaturahmi yang sempat merenggang. Ketua PAC PERGUNU Kecamatan Tembelang, Faizudin FM atau yang akrab disapa Gus Faiz, mengingatkan pentingnya menjaga tradisi agar keluarga besar tidak mengalami kondisi yang disebut “Kepaten Obor”.

Gus Faiz menjelaskan bahwa dalam filosofi Jawa, istilah “Aja nganti kepaten obor karo sedulur ing ndesa” memiliki kedalaman makna yang sangat luar biasa. Secara harfiah, kepaten obor berarti matinya lampu penyuluh, namun secara kiasan, ini merupakan peringatan keras agar seseorang tidak putus hubungan dengan saudara di kampung halaman.

“Dalam konteks adat Jawa, kepaten obor adalah kondisi yang sangat dihindari. Ini adalah musibah batiniah di mana seseorang kehilangan kompas sejarah keluarganya sendiri,” ujar Gus Faiz saat memberikan catatan refleksi Idulfitri di Tembelang, Jombang dikutip Telusur.id, Minggu (22/3/2026).

Menurut tokoh muda Pergunu ini, fenomena kepaten obor sering kali terjadi ketika keluarga besar tidak lagi saling berkomunikasi dalam waktu lama. Akibatnya, generasi muda kehilangan jejak silsilah dan tidak lagi mengenali siapa saudara, sepupu, hingga buyut mereka.

Gus Faiz menegaskan bahwa kehilangan hubungan dengan garis keturunan bukan sekadar masalah sosial, melainkan hilangnya identitas dan kehormatan. Baginya, seseorang yang tidak mengenal asal-usulnya akan berjalan dalam kegelapan tanpa arah yang jelas.

“Nah, di sinilah peran besar Halalbihalal. Tradisi ini adalah bentuk akulturasi jenius antara budaya Jawa dan ajaran Islam yang mengedepankan nilai kemanusiaan serta solidaritas sosial,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Gus Faiz memaparkan bahwa Halalbihalal merupakan jembatan untuk memperkuat kembali tali persaudaraan. Melalui pertemuan fisik dan saling memaafkan, “obor” silsilah keluarga yang mulai meredup bisa kembali dinyalakan dengan terang.

Ia juga meluruskan persepsi masyarakat mengenai asal-usul tradisi ini. Gus Faiz menegaskan bahwa Halalbihalal adalah murni tradisi khas Indonesia, bukan produk budaya yang diimpor dari Arab atau kawasan Timur Tengah.

“Meskipun namanya menggunakan istilah bahasa Arab, tradisi ini tidak ditemukan di negara asalnya. Ini adalah hasil ijtihad budaya para ulama nusantara untuk mempererat persatuan bangsa,” tegas Gus Faiz.

Sejarah mencatat, istilah Halalbihalal dicetuskan oleh ulama besar asal Jombang, KH Abdul Wahab Hasbullah, pada tahun 1948. Kala itu, Kyai Wahab menggagas pertemuan silaturahmi untuk mencairkan ketegangan politik nasional pascakemerdekaan.

Gus Faiz menyebut bahwa inti dari Halalbihalal adalah penyelesaian “benang kusut” atau segala kesalahan antar sesama manusia setelah menjalani ibadah di bulan suci Ramadan. Tradisi ini telah menjadi warisan budaya yang menguatkan harmoni sosial di Indonesia.

Di era digital saat ini, Gus Faiz berharap masyarakat tidak hanya terjebak pada silaturahmi virtual. Menurutnya, pertemuan tatap muka di momen lebaran tetap memiliki ruh yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun.

“Mari kita gunakan momentum Idulfitri 1447 H ini untuk berkumpul dan saling mengenal kembali. Jangan sampai anak cucu kita menjadi generasi yang buta akan silsilahnya sendiri,” imbau pria yang aktif di organisasi guru NU ini.

Ia menutup catatannya dengan menekankan bahwa dengan menjaga “obor” keluarga tetap menyala, kita sebenarnya sedang menjaga ketahanan sosial bangsa. Halalbihalal adalah bukti bahwa Islam dan budaya lokal bisa berjalan beriringan demi kebaikan bersama.

Tinggalkan Balasan