JOMBANG, TELUSUR.ID – Sejak lulus SMA tahun 2013, Endy Satya Rahmanto melanjutkan cita-cita dengan mendaftar Bintara dan dinyatakan lulus. Setelah 2 tahun, lalu ia dipindahtugaskan dan ditempatkan di Polres Jombang.
Tak disangka, seorang anggota polisi berpangkat Brigadir di Jombang ini mempunyai gelar akademik hingga 14 kelulusan yang ditempuhnya. Mulai sarjana hingga Doktoral.
Meski dengan kesibukan sebagai anggota Polri, ia dapat menyelesaikan studinya sambil tetap menjalankan tugas sebagai polisi. Tak pernah ia melanggar tugas sebagai pengayom masyarakat dan itu menjadi tugas utama.
Dan ia pun mampu meraih gelar akademiknya dengan biaya mandiri. Dari satu perguruan tinggi ke perguruan tinggi yang lain ia mulai menjelajahi berbagai disiplin ilmu.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa belajar dan menambah wawasan juga teman dari berbagai komunitas,” ujar Mas Endy, sapaan karibnya.
Di dinding rumah sederhananya di Desa Plosogeneng, Kecamatan/Kabupaten Jombang, barisan foto wisuda seakan membentuk galeri prestasi pribadi.
Setiap toga, setiap senyum di balik kain hitam, menceritakan sebuah bab dalam perjalanan luar biasa Brigadir Polisi Endy Satya Rahmanto. Ia bukan profesor, melainkan anggota Satuan Lalu Lintas Polres Jombang yang dalam sembilan tahun terakhir telah mengoleksi 14 gelar akademik.
Di usia yang masih terbilang muda 31 Tahun ini mampu menyelesaikan kuliah dan tugas kepolisian di satu waktu. Ia menuturkan, awal mula menempuh pendidikan sarjana tahun 2016 dan lulus tahun 2019.
Saat itu, ia baru pindah tugas di Kabupaten Jombang. Kata dia, banyak waktu luang yang bisa digunakan untuk mengenyam pendidikan meneruskan cita-cita, juga menambah wawasan dan relasi.
“Saya hanya ingin menjadi sarjana hukum yang baik, namun itu masih ada cita-cita menjadi dokter,” tutur Endy, sembari menatap foto pertama gelar sarjananya.
Saat itu, ia juga tak membayangkan gelar S.H menjadi gerbang pembukaan cakrawala bagi dirinya. Ia masih merasa belum maksimal akan ilmu dan ketertarikannya untuk belajar semakin tinggi.
Nah, dari sinilah menjadi awal mula obsesi intelektual yang justru lahir setelah satu tujuan tercapai. Ia bertekad mendalam berbagai keilmuan untuk menunjang tugasnya juga di kepolisian.

“Setelah lulus itu, ada rasa kurang puas dan masih ingin terus menggali ilmu lainnya. Ya, itung-itung menambah wawasan dan kompetensi diri, juga koneksi,” ujar ia menegaskan.
Dari titik itu, hidup Endy berubah menjadi sebuah mozaik jadwal yang ketat. Sambil tetap menjalankan tugas sebagai polisi, ia mulai menjelajahi disiplin ilmu lain.
Kunci efisiensinya adalah program alih kredit atau Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), yang memungkinkannya mengambil mata kuliah di beberapa kampus sekaligus tanpa mengulang materi yang sama.
Ia membeberkan, melihat ada peluang di situ, tentu dimanfaatkan sebaik mungkin. Dimana waktu yang bagi orang lain mungkin kosong, bisa saya isi dengan kelas lain.
“Dari kampus ke kampus, dari jurusan ke jurusan, ini membuktikan bahwa kesibukan bukan halangan,” imbuhnya.
Endy pun meraih gelar Akuntansi dan Magister Administrasi Publik di Universitas W.R. Supratman Surabaya, sambil menyelesaikan Magister Hukum dan S1 Manajemen di Uniska.
Perjalanannya kemudian meluas ke Sistem Informatika di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU), Kenotariatan dan bahkan Doktor Ilmu Hukum di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), serta Hubungan Internasional di Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani).
Tahun 2025 menjadi tahun puncak dengan tiga gelar S1 sekaligus, yakni Psikologi (Undar Jombang), Ilmu Keperawatan (ITSKes ICME Jombang), dan Ilmu Komunikasi (Universitas Terbuka).
“Yang paling berat justru Psikologi dan Keperawatan. Keduanya wajib tatap muka penuh, dan bisa jadwalnya berbenturan, tapi harus diselesaikan,” ungkapnya.
Di tengah deretan prestasinya, ada satu gelar yang belum terselesaikan, yakni Kedokteran Gigi di Universitas Kadiri. Namun, penundaan ini justru menunjukkan prioritas sejati Endy.
Pada Oktober 2024, ia memutuskan cuti kuliah untuk menjawab panggilan negara sebagai Pasukan Perdamaian PBB di Afrika Tengah, dan baru kembali setahun kemudian tepatnya pada Oktober 2025.

“Mau gak mau kewajiban ini harus dilaksanakan. Ada panggilan tugas. Prinsip saya jelas, tugas utama sebagai polisi dan negara tidak boleh terganggu. Kalau ada konflik, kuliah yang saya tinggalkan,” tegasnya.
Namun demikian, dukungan dari pimpinan dan rekan di Polres Jombang, dengan izin yang selalu diberikan asalkan tugas utama tetap berjalan, menjadi penyangga utama perjalanannya.
“Tugas dikepolisian paling utama,” tegasnya.
Membiayai 14 gelar bukan perkara mudah. Endy mengakui dengan jujur bahwa Surat Keputusan (SK) pengangkatannya sebagai polisi pernah ia gunakan sebagai jaminan kredit.
“Peran ibu yang mendukung semua ini. Saya selalu minta doa restu ibu. Selain itu, kadang juga minta bantuan ibu, namun tetep diganti tempo waktu nanti, seperti saat pulang dinas dari misi PBB kemarin,” terangnya.
Dari situ, justru memperlihatkan sisi humanis di balik sosoknya yang sering dilihat sebagai ‘superman’ akademik. Bagi Endy, setiap gelar bukanlah sekadar tambahan gelar di depan atau belakang namanya. Ia melihatnya sebagai perangkat tambahan untuk mengabdi.
“Setiap ilmu yang saya dapat, saya cari kaitannya dengan tugas kepolisian. Psikologi untuk memahami masyarakat, komunikasi untuk penyuluhan, hukum tentu dasarnya, bahkan keperawatan berguna di lapangan saat pertolongan pertama,” jelasnya.

Kini, dengan 14 gelar di pundaknya dan pengalaman penugasan PBB, Brigadir Endy bercita-cita mengikuti Sekolah Perwira. Setelah itu, barulah ia berniat menyelesaikan gelar kedokteran giginya.
Ia pun meminta doa restu dan berharap bisa menyelesaikan tugasnya bisa mengikuti sekolah perwira dan meraih gelar ke 15 di bidang kedokteran nantinya.
“Mohon doanya ya, semoga bisa ikut sekolah perwira, dan raih gelar dokter,” tuturnya.
Dirinya juga menegaskan bahwa awal mula memulai karir di kepolisian di tahun 2013 lalu tanpa dipungut biaya sama sekali.”Saat itu, setelah lulus 2013 langsung berniat mengikuti seleksi masuk Bintara kepolisian. Alhamdulillah dinyatakan lulus,” tandasnya.
Kiat yang tinggi tak terbatas waktu, pengabdian dan ilmu. Itulah gambaran, meski ruang kelasnya mungkin akan selalu berpindah, dari kampus ke kampus, hingga ke medan penugasan.
Namun, satu hal yang tetap, yakni tekadnya untuk terus belajar dan mengimplementasikan ilmu, semua demi lampu hijau bagi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
Endy ingin membuktikan bahwa semangat belajar dan pengabdian bisa menyatu, menciptakan sebuah teladan tentang bagaimana ilmu pengetahuan bisa hidup dan bernafas di tengah denyut nadi tugas seorang abdi negara.
“Pengabdian dan belajar itu bisa ditempuh. Tentunya dengan doa orang tua dan juga niat itulah yang menjadi motivasi, saya selalu meminta doa ibu,” pungkasnya.



