Harlah ke-43 NH Perkasya Penuh Makna Spiritual, Pesan Bupati Warsubi: Filosofi Padi, Makin Berisi Makin Menunduk

0
60 views
Bagikan :

JOMBANG, TelusuR.ID – Malam puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-43 Nurul Huda Pertahanan Dua Kalimat Syahadat (NH Perkasya) berlangsung khidmat dan penuh nuansa spiritual di halaman Kantor Sekretariat PB NH Perkasya, Desa Cukir, Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Ahad (2/11/2025) malam.

Acara akbar ini menjadi penutup rangkaian kegiatan besar yang telah digelar sebelumnya, mulai dari Pelantikan Pengurus Besar, Musyawarah Besar (Mubes), hingga peringatan Harlah NH Perkasya.

Lebih dari 600 pendekar dan pengurus elit PB NH Perkasya, perwakilan dari 52 cabang, Dewan Penasehat, Dewan Pembina, serta Dewan Pendekar memadati arena. Suasana malam yang diterangi cahaya lampu dan lantunan shalawat itu menambah kekhusyukan dan menggugah semangat kebersamaan di antara para anggota perguruan yang lahir dari rahim spiritual Pondok Pesantren Tebuireng, warisan perjuangan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.


Pesan Bupati Warsubi: Kekuatan Sejati untuk Menebar Kebaikan

Bupati Jombang, H. Warsubi, yang berhalangan hadir karena agenda pemerintahan, diwakili oleh Asisten III Setdakab Jombang, Syaiful Anwar. Hadir pula jajaran pejabat daerah, di antaranya Kepala Bakesbangpol Jombang, perwakilan Kodim 0814 Jombang, Polsek Diwek, dan Koramil Diwek.

Dalam sambutan tertulisnya, Bupati menyampaikan apresiasi dan kebanggaan atas konsistensi NH Perkasya dalam membina generasi muda agar berkarakter, berakhlak mulia, serta berperan aktif dalam menjaga budaya bangsa melalui seni bela diri.

“Pencak silat NH Perkasya tidak sekadar seni bela diri, melainkan juga sarana dakwah dan pendidikan moral. Kekuatan sejati bukan untuk menebar kekerasan, melainkan untuk menjaga diri, menegakkan kebenaran, dan menebar kebaikan,” pesan Warsubi.

Bupati juga mengingatkan para pesilat agar meneladani filosofi tanaman padi — semakin berisi, semakin menunduk.

“Artinya, semakin tinggi ilmu dan kemampuan yang dimiliki, hendaknya semakin rendah hati dan tidak menyombongkan diri,” tuturnya.

Suasana harlah semakin meriah saat para pendekar mempersembahkan atraksi spektakuler. Tumpukan batu bata dipecahkan dengan tangan kosong, besi dibengkokkan tanpa alat, hingga aksi spiritual menahan tusukan batang besi tanpa luka. Setiap gerakan menunjukkan disiplin, kekuatan doa, dan kesucian niat. Riuh tepuk tangan para tamu menjadi bukti kekaguman atas harmoni antara kekuatan fisik dan spiritual yang menjadi ciri khas NH Perkasya.


Jejak Dakwah dari Tebuireng

Sebelumnya, pelantikan dan pengambilan sumpah Pengurus Besar NH Perkasya dilakukan langsung oleh Guru Besar KH. Lamro Asy’hari di Sekretariat Pusat Tebuireng.

Dalam sambutannya, KH. Lamro menegaskan bahwa momentum pelantikan, Mubes, dan Harlah harus menjadi tonggak kebangkitan organisasi dan sarana memperkuat konsolidasi dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

“NH Perkasya bukan sekadar wadah bela diri, tetapi gerakan dakwah yang berakar kuat pada nilai perjuangan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari,” ujarnya.

Lamro kemudian mengisahkan sejarah spiritual berdirinya NH Perkasya. Dulu, KH. Hasyim Asy’ari mengundang sahabat-sahabatnya, para pendekar dari Jawa Barat, untuk menjaga kehormatan pesantren dan melindungi para santri dari ancaman zaman. Dari situ lahir tradisi pencak silat Tebuireng yang memadukan ketangkasan fisik, kekuatan spiritual, dan nilai dakwah.

“Pencak silat bagi kita adalah ibadah, bukan sekadar keterampilan fisik. Setiap jurus dan gerakan memiliki nilai dzikir dan keikhlasan,” tegasnya.


Soliditas dan Adaptasi di Era Baru

Ketua PB NH Perkasya, KH. Agus Maulana, dalam sambutannya mengajak seluruh pengurus dan anggota memperkuat soliditas, memperluas jaringan, serta beradaptasi dengan tantangan zaman.

“Kita berharap NH Perkasya segera bergabung dengan IPSI dan bersinergi dengan perguruan lain. Kolaborasi penting untuk menghadapi tantangan era modern, tanpa meninggalkan akidah Ahlussunnah wal Jamaah,” ujarnya.

Sebagai bentuk adaptasi dan tanggung jawab sosial, PB NH Perkasya kini membentuk Departemen Hukum, Media, dan Kesehatan untuk menjawab kebutuhan umat di era digital dan global.

Dengan 52 cabang di seluruh Indonesia, NH Perkasya menjadi simbol nyata bahwa semangat perjuangan Tebuireng terus hidup, menebar nilai-nilai keislaman dan kebangsaan hingga ke berbagai penjuru negeri.

Acara ditutup dengan sidang pleno Mubes dan doa bersama. Harapannya, pengurus baru mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, menjaga warisan spiritual para ulama, serta membawa keberkahan dan rahmat Allah SWT bagi organisasi, pesantren, dan bangsa.

Empat dekade perjalanan NH Perkasya bukan sekadar rentang waktu, tetapi jejak pengabdian dan spiritualitas. Dari halaman pesantren di Tebuireng, semangat itu tumbuh menjadi gerakan yang meneguhkan nilai akhlak, kebangsaan, dan keilmuan.

Dalam setiap jurus, tersimpan pesan: bahwa kekuatan sejati bukan pada otot, tetapi pada kerendahan hati dan keteguhan iman. Sebagaimana filosofi padi yang disampaikan Bupati Warsubi — semakin berisi, semakin menunduk — NH Perkasya terus menjadi ladang pengabdian bagi generasi muda untuk menegakkan kebenaran dengan kepala tertunduk, namun hati tegak menuju ridha Allah SWT.(GUS)

Tinggalkan Balasan