Sarasehan Guru Tembelang Soal Menjaga Adab, Bedah Kitab Adabul Alim wal Muta’allim” karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari

0
61 views
Bagikan :

JOMBANG, TelusuR.id – Peringati Hari Santri Nasional 2025, MWC NU bersama LP Ma’arif, PERGUNU, KKMI dan KKRA(IGRA) Kecamatan Tembelang menggelar Sarasehan bertema “Integritas Guru Dalam Kegiatan Belajar Mengajar Perspektif Kitab Dalam Kitab Adabul Alim wal Muta’allim” karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Acara ini tersebut dilaksanakan di Aula Yayasan Pendidikan Al-Ihsan Kalijaring Kecamatan Tembelang, terselenggara atas kolaborasi Akademisi dan Pesantren dalam menguatkan jati diri Guru NU.

Kegiatan sarasehan ini menghadirkan narasumber utama: Dr. KH. Achmad Roziqi. Lc. M.H.I Mudir Ma’had Aly Pondok Tebuireng, acara dipandu oleh Faizuddin FM, S.Pd ketua PAC PERGUNU kecamatan Tembelang, sebagai moderator, yang diikuti seluruh Guru NU dari berbagai lembaga pendidikan se-kecamatan Tembelang dari tingkat Kelompok Bermain, RA/TK, MI/SD, MTs/SMP, MA/SMU/SMK.

Dalam paparan yang disampaikan, Dr. KH. Achmad Roziqi. Lc. M.H.I menyebut kitab Adabul Alim wal Muta’allim, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari membagi adab seorang guru (‘Alim) menjadi tiga bagian.

Yakni pertama Adab terhadap dirinya sendiri, kedua Adab ketika di dalam majelis ilmu (saat mengajar) dan yang ketiga Adab terhadap murid-muridnya.

“Untuk bagian pertama, adab guru terhadap dirinya sendiri, KH. Hasyim Asy’ari merincikannya menjadi 12 adab seorang guru terhadap dirinya sendiri,” ujar Kiai Achmad Roziqi, dikutip Telusur.id, Jumat (31/10).

Yaitu, jelas dia, mencakup menjaga ketenangan, wibawa, dan kebersihan diri, serta bersikap tawadhu’, khusyuk kepada Allah, dan melakukan persiapan yang matang sebelum mengajar.

“Adab-adab ini bertujuan untuk menjadi teladan dan menjaga wibawa seorang guru di hadapan murid-muridnya,” tuturnya.

Kiai Roziqi menjelaskan, dalam riwayatnya bahwa KH. Hasyim Asy’ari memberi contoh keteladanan pada diri Imam Atha’, salah satu pakar fiqih dan hadits di masanya.

Menurutnya, Imam Atha’ menanggalkan segala atribut kebesarannya setiap kali mendengarkan hadits dari siapapun, beliau senantiasa menyimaknya dengan sungguh-sungguh, seolah beliau baru pertama kali mengetahui, meski mendengar dari para pemula.

“Padahal beliau sudah hafal di luar kepala, bahkan mengetahui detail-detail sanad dan para perawinya,” katanya.

Tinggalkan Balasan