JOMBANG, TelusuR.id – Muhammad Rois, guru seni budaya di MAN 4 Jombang, dan seorang santri M Rafli Husein meraih prestasi gemilang membawa seni kaligrafi pesantren hingga ke Montreal, Kanada, dalam ajang Lomba Kaligrafi Internasional Khat Maghribi 2025.
Muhammad Rois dinobatkan menjadi juara Harapan 2 Lomba Kaligrafi Internasional. Ajang bergengsi ini diselenggarakan oleh Institut Musulman de Montréal, Kanada.
Rois mengungkapkan pengalaman unik yang menjadi kekuatan karyanya. Menurutnya, ada dua pengalaman yang sangat berkesan. Pertama, ketika ia menemukan beberapa teks lomba ternyata sama dengan teks mushaf Al-Qur’an yang sedang ditulisnya dengan khat Maghribi.

“Ini menjadi pembeda dari karya peserta lain,” tuturnya.
Kedua, lanjut dia, dorongan dan dukungan dari guru, yakni beliau Syekh Belaid Hamidi dari Maroko yang secara langsung menginstruksikannya untuk berpartisipasi dalam perlombaan tersebut. Serta ustadz Jimli dari Jember yang selalu memberi semangat.
Adapun tantangannya, Rois mengaku dalam ajang tersebut terberat melawan sosok yang sangat ia hormati. Ia menilai bahwa tantangan terbesarnya adalah harus bersaing dengan guru sendiri, bahkan dengan beberapa peserta yang sebelumnya pernah menjadi juara bertahan.
“Namun hebatnya, beliau-beliau tetap mau berdiskusi dan mengarahkan kami dalam penyelesaian karya ini,” ujarnya.
Rois menyebut persiapan lomba kali ini relatif singkat dibanding sebelumnya. Yakni memakan waktu sekitar satu minggu, karena ia sudah pernah menulis ayat dan teks yang sama sebelumnya.
“Jadi pengerjaan bisa lebih fokus hingga tahap finishing,” tuturnya.
Prestasi ini semakin menambah deretan penghargaan internasional yang berhasil diraih guru MAN 4 Jombang. Sebelumnya, guru seni budaya MAN 4 Jombang juga pernah mengharumkan nama madrasah melalui ajang serupa bidang kaligrafi di Jerman, Al Jazair, dan Kanada.
Hal ini menegaskan komitmen MAN 4 Jombang, salah satu Madrasah yang berada dilingkungan Pondok Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar dalam melahirkan pendidik dan santri berprestasi di tingkat dunia.
Hal itu tegaskan Pengasuh Asrama Sunan Ampel Ponpes Mambaul Maarif Denanyar, Gus Ahmad Athoillah bahwa prestasi ini bukan sekadar gelar, tapi bukti nyata bahwa santri Indonesia bisa berdiri sejajar dengan kaligrafer dunia.
Menurutnya, kemenangan Rois adalah buah dari ketekunan belajar sekaligus barokah ilmu pesantren. Sementara itu, keberangkatan M Rafli Husein Abdillah ke Montreal sendiri sudah dianggap sebagai kemenangan moral.
“Kehadiran mereka berdua saja sudah menjadi kebanggaan. Apalagi pulang membawa prestasi,” ujar Gus Athoillah yang juga anggota DPRD Propinsi Jatim itu.
Khat Maghribi, gaya kaligrafi khas wilayah Afrika Utara, bukan sekadar seni hias huruf Arab. Bagi santri, ia adalah bentuk ibadah, ungkapan cinta pada Al-Qur’an, sekaligus wadah mengekspresikan keindahan Islam.
Di Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, seni kaligrafi bukan sekadar pelajaran tambahan, tetapi bagian dari tradisi panjang pesantren. Ketekunan M Rois dan M Rafli menorehkan huruf demi huruf dalam belajarnya, kini terbukti membawa harum melintasi benua.
Kisah mereka menjadi pengingat bahwa pesantren tidak hanya melahirkan ahli agama, tetapi juga seniman yang diakui dunia. Kemenangan ini menjadi cambuk semangat bagi santri-santri lain.
“Ilmu yang dipelajari di pesantren bisa membawa kita ke mana saja, bahkan hingga mancanegara. Yang penting tekun, sabar, dan istiqamah,” pesan Gus Ayik, sapaan karibnya.
Kini, nama M Rafli Husein Abdillah dan M Rois Maulana telah terukir bersama tinta emas pesantren Denanyar. Mereka bukan hanya membawa pulang prestasi, tapi juga membawa pesan bahwa keindahan Islam bisa diterjemahkan lewat seni, dan pesantren adalah rumah lahirnya seniman-seniman berkaliber dunia.



