JAKARTA, TelusuR.id — Dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) kian terasa hangat. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, dipastikan akan menghadiri acara bedah buku pemikiran dan biografi pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu (15/8).
Kehadiran Gus Yahya menjadi sorotan utama mengingat acara ini digelar dalam konteks momentum krusial organisasi menjelang perhelatan tertinggi warga nahdliyin tersebut.
Cucu pendiri NU KH Wahab Chasbullah, KH Solachul Aam Wahib Wahab (Gus Aam), mengonfirmasi bahwa acara tersebut diselenggarakan dalam rangka menyambut Muktamar ke-35 NU sekaligus memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia.
Gus Aam menegaskan pentingnya mendengarkan secara langsung pandangan serta visi para figur pimpinan NU mengenai nilai-nilai dasar yang diwariskan oleh Mbah Wahab.
“Tambakberas kan tuan rumah Muktamar ya, jadi kita ingin mendengar langsung pemikiran calon ketua NU ke depan soal Mbah Wahab itu seperti apa,” ujar Gus Aam dalam keterangan tertulisnya diterima Telusur.id, Rabu (12/8).
Selain Gus Yahya, panitia penyelenggara sebenarnya telah melayangkan undangan kepada sejumlah figur lain yang digadang-gadang masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU mendatang.
Salah satu nama besar yang diundang dalam forum strategis tersebut adalah pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.
Namun, di tengah deretan nama calon potensial yang diundang, baru Gus Yahya yang memberikan kepastian untuk hadir secara langsung di Pesantren Tambakberas.
“Lainnya belum ada tanggapan,” ungkap Gus Aam singkat mengenai respons calon-calon pimpinan PBNU lainnya.
Kepastian kehadiran Gus Yahya ini dinilai memberikan sinyal kuat atas komitmennya dalam menyerap gagasan pendiri NU serta menyapa basis nahdliyin di Jombang jelang Muktamar.
Sosok KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab sendiri merupakan salah satu pilar ulama paling krusial dalam panggung sejarah lahir dan berkembangnya Nahdlatul Ulama di Indonesia.
Mbah Wahab tidak sekadar dikenal sebagai pimpinan dan pendiri, melainkan juga penggerak utama pendidikan pesantren, aktivis pergerakan nasional, politisi ulung, hingga diplomat ulung.
Beliau juga menjadi salah satu konseptor paling berpengaruh yang berhasil merumuskan sintesis harmonis antara ajaran Islam dan paham nasionalisme Indonesia.
Lahir di Tambakberas, Jombang, pada 31 Maret 1888 dari pasangan KH Hasbullah Said dan Nyai Latifah, Kiai Wahab tumbuh dan besar dalam tradisi keilmuan pesantren yang kental.
Perjalanan menuntut ilmunya terbilang sangat luas, melintasi berbagai pesantren terkemuka seperti Langitan, Mojosari, Tawangsari, Kademangan Bangkalan, Branggahan Kediri, hingga Tebuireng Jombang, sebelum akhirnya bertolak ke Makkah.
Di Tanah Suci, Mbah Wahab berguru kepada ulama-ulama ternama dunia, termasuk Syekh Mahfudz at-Tirmasi dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, yang membentuk matangnya kepemimpinan beliau.
Proses gemblengan keilmuan yang panjang tersebut berhasil melahirkan karakter Kiai Wahab sebagai ulama yang tak hanya menguasai fikih dan ushul fikih, tetapi juga berwawasan luas dalam dinamika sosial-politik.
Berbeda dari gambaran ulama tradisional pada umumnya, Kiai Wahab secara berani menjadikan panggung politik sebagai instrumen utama perjuangan demi membela kepentingan umat dan bangsa.
Relevansi pemikiran Mbah Wahab inilah yang nantinya akan dibedah dan diselami langsung oleh Gus Yahya bersama para tokoh yang hadir dalam forum bedah buku di Tambakberas tersebut.