Menara Bersejarah Tambakberas Jombang Didorong Jadi Cagar Budaya, Dipoles Anggun Sambut Muktamar ke-35 NU

Bagikan :

JOMBANG, TelusuR.id — Perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menyedot perhatian dari sisi kesiapan organisasi. Perhatian publik kini turut tertuju pada jejak sejarah dan warisan arsitektur pesantren.

Salah satu bangunan peninggalan yang paling menyita perhatian adalah menara bersejarah yang berdiri kokoh di kompleks Masjid Jami’ Pesantren Tambakberas. Bangunan ikonik ini dinilai menyimpan rekam jejak perjuangan, spiritualitas, serta nilai historis yang mendalam.

Melihat besarnya nilai historis tersebut, pemerhati sejarah Jombang, Arif Yulianto atau yang akrab disapa Cak Arif, mendorong agar menara bersejarah ini segera ditetapkan secara resmi oleh pemerintah sebagai cagar budaya.

Cak Arif menegaskan, penetapan status cagar budaya sangat penting sebagai langkah legal untuk melindungi, melestarikan, dan merawat fisik bangunan warisan leluhur pesantren agar tetap terjaga keasliannya.

Menurutnya, menara bersejarah ini bukan sekadar bangunan fisik biasa, melainkan peninggalan masa lalu yang memiliki keutamaan dari aspek keilmuan, arsitektur, hingga rekam jejak sejarah perjuangan bangsa.

Ia menilai, secara kriteria fisik dan rentang waktu berdirinya, menara tersebut telah memenuhi seluruh persyaratan fundamental yang diatur dalam regulasi cagar budaya.

“Dari sisi usia yang lebih dari 50 tahun dan nilai sejarahnya, menara Masjid Tambakberas sepertinya sudah memenuhi syarat sebagai cagar budaya,” kata Cak Arif saat memberikan keterangannya kepada Telusur.id pada Rabu (29/7/2026).

Cak Arif membeberkan, salah satu keunikan paling menonjol pada struktur menara tersebut terletak pada ukiran relief empat huruf Hijaiyah, yakni Ha’ (ح), Ro’ (ر), Ta’ (ت), dan Mim (م).

Kombinasi empat huruf Hijaiyah tersebut mengandung arti filosofis “kemerdekaan yang sempurna”, sebuah cerminan semangat juang dan doa para ulama pesantren di masa pergerakan.

Pemerhati sejarah ini menyebutkan bahwa berdasarkan penelusuran fakta dan tutur sejarah lokal, ukiran empat huruf Hijaiyah tersebut dipahat jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan.

“Informasinya huruf-huruf itu ditulis sebelum kemerdekaan malahan,” tutur Cak Arif merinci latar belakang sejarah di balik pahatan monumental di badan menara.

Kendati meyakini potensi sejarahnya yang luar biasa, Cak Arif menekankan pentingnya studi riset dan kajian akademis lanjutan bersama tim ahli agar penetapan status cagar budaya berjalan sesuai regulasi.

Di sisi lain, menyambut perhelatan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang, menara bersejarah tersebut kini mulai dipoles anggun dan didapuk sebagai ikon visual utama perhelatan.

Ketua Umum Yayasan Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq, menegaskan menara melingkar ini merupakan salah satu bangunan tertua di lingkungan pesantren yang konsisten dijaga keasliannya.

Gus Rozaq menjelaskan, arsitektur menara berbentuk melingkar mengandung pesan simbolis mengenai persatuan, kebersamaan, dan keutuhan solidaritas yang tidak boleh terputus di antara warga Nahdliyin.

“Menara ini dibangun pada masa sebelum Indonesia merdeka. Bentuknya yang melingkar menggambarkan persatuan, bahwa dalam kondisi apa pun kita harus tetap bahu-membahu menghadapi berbagai tantangan,” terang Gus Rozaq yang juga Ketua Panitia Lokal Muktamar ke-35 NU, Jumat (24/7/2026).

Menjelang perhelatan akbar, menara dipoles dengan kombinasi warna putih bersahaja dan aksen emas anggun sesuai identitas resmi muktamar. Gus Rozaq memastikan pengerjaan ini sebatas revitalisasi estetika tanpa merubah struktur asli bangunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *