JOMBANG,TelusuR.ID – Tangan Bandi tak lagi setenang dulu. Jemarinya terus bergetar. Sesekali batuk memutus kalimat yang baru saja ia ucapkan. Tubuh renta peternak asal Desa Bakalan, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, itu berguncang karena tremor yang telah lama dideritanya.
Di rumahnya yang sederhana, lelaki lanjut usia itu tidak sedang mengeluhkan penyakitnya. Ingatannya justru berulang kali kembali kepada seekor sapi yang pernah ia rawat lebih dari satu dekade lalu.
Bagi Bandi, sapi bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2013 bukan sekadar ternak. Hewan itu adalah harapan untuk memperbaiki kehidupan keluarganya. Ia merawatnya seperti milik sendiri, dengan keyakinan bahwa program bantuan pemerintah benar-benar ditujukan untuk mengangkat kesejahteraan peternak kecil.
Namun, harapan itu perlahan berubah menjadi tanda tanya yang hingga kini belum menemukan jawaban.
“Saya cuma ingin ada kejelasan,” ucap Bandi pelan saat ditemui tim redaksi di kediamannya, Minggu (19/7/2026).
Berawal dari Program Hibah
Pada Tahun Anggaran 2013, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyalurkan bantuan hibah sapi kepada kelompok peternak di Desa Bakalan.
Menurut informasi yang dihimpun tim redaksi dari sejumlah penerima bantuan, program tersebut awalnya disambut penuh antusias. Mereka berharap bantuan itu menjadi modal untuk mengembangkan usaha peternakan sekaligus meningkatkan taraf hidup keluarga.
Namun, persoalan muncul beberapa tahun kemudian.
Sejumlah penerima bantuan mengaku sapi yang mereka pelihara kemudian ditarik dengan alasan akan digulirkan kepada kelompok peternak lain.
Bandi mengaku masih mengingat betul peristiwa tersebut.
“Kurang lebih dua bulan setelah Pak Abdul Hamid dilantik menjadi kepala desa, kami diminta menyerahkan sapi. Alasannya untuk digilir ke kelompok peternak yang lain,” tuturnya.
Menurut ingatan Bandi, kelompok penerima saat itu memperoleh sekitar 10 ekor sapi. Tiga ekor di antaranya mati, sehingga tersisa tujuh ekor.
“Tujuh ekor itulah yang kemudian ditarik,” katanya.
Belakangan, ia mendengar informasi bahwa sapi-sapi tersebut dijual. Namun, ia mengaku tidak pernah mengetahui berapa nilai penjualannya maupun digunakan untuk apa hasil penjualan tersebut.
Ketika ditanya mengenai harga pasaran sapi saat itu, Bandi memperkirakan nilainya berada di kisaran Rp15 juta per ekor.
“Ya sekitar lima belas juta.”
Kalimat-kalimat itu keluar perlahan. Beberapa kali ia berhenti berbicara karena batuk yang tak kunjung reda. Tangannya terus bergetar, tetapi ingatannya tentang sapi yang pernah dipeliharanya masih begitu jelas.
Muncul Perbedaan Versi
Keterangan Bandi tidak berdiri sendiri.
Informasi yang diterima tim redaksi dari sejumlah penerima bantuan menyebutkan sapi hibah yang diduga telah dijual berasal dari beberapa anggota kelompok ternak, yakni Bandi (1 ekor), Suma’i (1 ekor), Mujiono (1 ekor), Bakri (1 ekor), Sholeh (2 ekor), dan Kumaidi (1 ekor).
Mereka juga meyakini bantuan sapi yang datang pada 2023 bukanlah pengganti bantuan hibah Tahun Anggaran 2013, melainkan program berbeda yang bersumber dari Pokok Pikiran (Pokir) DPRD Provinsi Jawa Timur.
Untuk memperoleh keberimbangan informasi, tim redaksi mendatangi Kantor Desa Bakalan pada Senin (20/7/2026) dan meminta konfirmasi kepada Kepala Desa Abdul Hamid.
Ia membantah seluruh keterangan yang disampaikan Bandi.
Menurut Abdul Hamid, dirinya belum menjabat sebagai kepala desa ketika bantuan hibah sapi Tahun Anggaran 2013 disalurkan.
“Saat bantuan sapi tahun 2013 itu saya belum menjabat sebagai Kepala Desa Bakalan. Jadi saya tidak tahu prosesnya dan tidak punya kewenangan apa pun terhadap sapi bantuan itu,” katanya.
Ia juga menegaskan tidak pernah memerintahkan penarikan maupun pengalihan sapi sebagaimana yang diceritakan Bandi.
Abdul Hamid mengaku hanya mengetahui informasi mengenai bantuan tersebut dari cerita masyarakat.
“Kalau tidak salah jumlahnya sekitar 20 atau 24 ekor. Saya hanya dengar dari masyarakat.”
Kesaksian Ketua Kelompok Peternak
Di tengah proses konfirmasi, Abdul Hamid kemudian menghubungi seseorang yang menurutnya lebih memahami riwayat bantuan sapi tersebut.
Tak lama kemudian datang Selamet, yang memperkenalkan diri sebagai Ketua Kelompok Peternak Desa Bakalan.
Selamet mengatakan dirinya berada di Balai Desa Bakalan saat bantuan sapi pada 2013 diturunkan.
“Ada 20 ekor waktu itu. Saya tahu karena saya ada di balai desa saat sapi datang,” ujarnya.
Namun, Selamet mengaku belum menjadi bagian dari kelompok penerima bantuan ketika sapi-sapi tersebut kemudian disebut telah dijual.
“Saya hanya mendengar cerita dari masyarakat kalau sapi itu dijual dan hasilnya dibagi ke kelompok ternak. Karena saya belum masuk kelompok waktu itu, saya tidak tahu bagaimana pembagiannya,” katanya.
Baik Selamet maupun Abdul Hamid membenarkan bahwa pada 2023 Desa Bakalan kembali menerima bantuan sapi melalui program Pokok Pikiran (Pokir) DPRD Provinsi Jawa Timur.
Jumlahnya, menurut mereka, sebanyak 10 ekor.
“Memang ada bantuan tahun 2023 sebanyak 10 ekor. Sampai sekarang sapinya masih ada, bahkan sudah ada yang beranak. Kalau mau lihat, saya bisa antar ke kandangnya,” kata Abdul Hamid.
Menunggu Kejelasan
Perbedaan keterangan antara para penerima bantuan dengan pemerintah desa menyisakan ruang yang hingga kini belum menemukan titik temu.
Di satu sisi, Bandi dan sejumlah penerima bantuan meyakini sapi yang pernah mereka rawat ditarik dan kemudian dialihkan tanpa penjelasan yang memadai mengenai hasil penjualannya. Di sisi lain, Kepala Desa Abdul Hamid menegaskan dirinya tidak mengetahui proses bantuan tahun 2013 karena belum menjabat saat program itu berjalan dan membantah pernah memerintahkan penarikan sapi.
Di balik silang pendapat tersebut, ada kisah seorang peternak tua yang masih menyimpan harapan sederhana.
Bandi tidak lagi berbicara soal keuntungan atau besarnya nilai seekor sapi. Yang ia inginkan hanyalah kepastian. Kepastian mengenai nasib bantuan yang pernah dipercayakan negara kepada peternak kecil seperti dirinya.
Tatkala tim redaksi berpamitan meninggalkan rumahnya, Bandi masih duduk di kursi kayu yang mulai lapuk. Tangannya tetap bergetar. Pandangannya menerawang ke halaman rumah.
Mungkin yang masih ia tunggu bukan sekadar seekor sapi yang tak pernah kembali, melainkan jawaban yang selama bertahun-tahun belum juga datang.