BALAD GRUP Tunda Anjangsana Ke China Fokus Finalisasi di Vietnam

0
177 views
Bagikan :

HANOI VIETNAM, TelusuR.id – Rencana kunjungan Bandar Laut Dunia Grup (BALAD Grup) ke Negeri Tirai Bambu atau China ditunda sementara waktu. Rencana kunjungan bisnis ke China yang semula dijadwalkan pada 3 Juli 2025 menjadi 24 Juli 2025.

Penundaan ini di tengarahi oleh rencana bisnis lain yang tertuju di negara Vietnam. Yakni memfokuskan perhatian pada proses finalisasi perizinan budidaya lobster di luar negeri, khususnya di Vietnam.

Founder dan Owner BALAD Grup, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, menyampaikan bahwa dirinya bersama Direktur Utama sedang berada di Hanoi, Vietnam, guna menyelesaikan perizinan budidaya lobster melalui Department of Fisheries, Ministry of Agriculture and Environment (DOF MAE) Vietnam.

“Setelah Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 7 Tahun 2024 mengatur dua skema budidaya lobster, di dalam dan luar negeri, kami sedang menyiapkan diri untuk keduanya. Budidaya luar negeri hanya diizinkan jika pelaku usaha sudah memiliki budidaya dalam negeri dalam skala besar,” jelas ujar Gus Lilur, sapaan akrabnya, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/06/2025).

Ia menjelaskan bahwa saat ini Bandar Laut Dunia atau BALAD Grup telah menjalankan budidaya lobster di dalam negeri dan akan memperluas operasinya dari empat teluk menjadi 16 teluk di Gugusan Teluk Kangean, Sumenep, Jawa Timur, dengan total luas mencapai 8.800 hektare.

Momen ketika Gus Lilur bersama Duong Tat Thang DG DAHP MAE Vietnam

“Perizinan budidaya luar negeri tersebut ditargetkan rampung pada pekan pertama Juli 2025. Setelah itu, seluruh jajaran direksi BALAD Grup akan memusatkan perhatian untuk mengajukan izin resmi budidaya luar negeri ke Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP RI,” bebernya.

Gus Lilur menyebut, penundaan agenda anjangsana ke China mencakup dua kegiatan utama diantaranya Survei Budidaya Teripang di dua provinsi yaitu Provinsi Shandong (China Utara) dan Provinsi Fujian (China Selatan) Survei Mesin Produksi Tambang.

Yaitu terkait rencana pengadaan mesin untuk mendukung operasional dua perusahaan tambang yang juga berada di bawah kendali para direksi BALAD Grup, yakni Sarana Nata Tambang Lestari Grup (Santri Grup), dan Bandar Indonesia Grup (BIG).

Kedua grup tersebut sedang menyiapkan diri sebagai pemasok pasir silika untuk dua perusahaan global yang beroperasi di kawasan industri JIIPE Gresik, Jawa Timur: Smelter Freeport dan Pabrik Kaca Xinyi.

Untuk menjamin kualitas produksi, Santri Grup dan BIG tengah menjajaki kerja sama dengan produsen mesin tambang pasir silika, timah, dan zirkon asal China, terutama untuk mendukung operasi tambang mereka di Jawa Timur, Bangka Belitung, Lampung, dan Kalimantan Tengah.

“Mitra usaha kami di China sudah menyiapkan jadwal kunjungan, tapi tuntasnya izin budidaya di Vietnam menjadi prioritas mutlak saat ini. Karena itu, seluruh agenda bisnis kami di China kami jadwalkan ulang ke akhir Juli,” tutur Gus Lilur.

Gus Lilur juga merasa optimistis dapat menjadikan Indonesia sebagai pusat baru perikanan budidaya dunia, dengan komitmen kuat pada keberlanjutan, investasi hijau, dan keadilan sosial.

“Kami sangat optimis Indonesia dapat menjadi pusat baru perikanan budidaya yang berkelanjutan dan investasi hijau yang berkeadilan sosial,” pungkasnya.

Keterangan Poto – Momen ketika Gus Lilur bersama Duong Tat Thang DG DAHP MAE Vietnam

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini