Nilai Integritas dan Bakti Orang Tua Jadi Topik Hangat Diskusi Aktivis Malang Raya

0
4 views
Bagikan :

MALANG, Telusur.id – Suasana hangat menyelimuti sebuah kafe di kawasan Kepanjen, Kabupaten Malang, tak jauh dari Kantor Bupati Malang pada Senin (4/5) petang. Pertemuan santai tersebut menjadi ajang berkumpulnya sejumlah tokoh agama dan aktivis lintas sektoral pasca-sidang pembuktian di Pengadilan Negeri Kepanjen.

Sambil menikmati sajian khas “Tani Madjoe”—jamu bakar berbahan jinten hitam, kapulaga, dan madu hutan—para tokoh ini memulai diskusi ringan. Tak sekadar melepas penat, pertemuan tersebut berubah menjadi ruang dialektika yang mendalam mengenai moralitas dan pergerakan sosial.

Hadir dalam kesempatan tersebut pengasuh Pesantren Rakyat sekaligus Ketua ISNU Malang, Kiai Abdullah Sam. Kehadirannya didampingi oleh sejumlah aktivis senior dan tokoh muda yang memiliki kepedulian terhadap isu sosial serta hukum di wilayah Malang Raya.

Tampak pula jajaran calon pengurus Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Kabupaten Malang, seperti Fuad Ali, Gus Muhammad Hidir, dan istrinya, Emma Luthia Ekakiantaty. Diskusi ini juga diikuti oleh Memet Yudi Hermanto, Ahmad Rifai, Nahri, serta pemerhati anak berkebutuhan khusus, Asep Suriamam.

Menariknya, pembicaraan tidak langsung menukik ke isu politik atau hukum, melainkan diawali dengan topik fundamental mengenai bakti seorang anak kepada orang tua. Hal ini dipicu oleh refleksi mendalam mengenai nilai kemanusiaan yang mulai luntur di era modern.

Ketua Umum DPP GMPK, Abdul Aziz, menekankan bahwa pengabdian kepada orang tua, khususnya ibu, adalah kewajiban mutlak bagi setiap anak. Menurutnya, kesuksesan seseorang tidak akan berarti jika ia mengabaikan sosok yang telah melahirkannya.

“Setiap anak lahir dari rahim seorang ibu. Menjadi apapun kita nanti, wajib merawat orang tua, terlebih ibu kandung yang sedang diuji dengan rasa sakit,” ungkap Abdul Aziz di sela-sela diskusi tersebut dalam keterangan tertulismua diterima Telusur.id, Rabu (6/5/2026).

Pernyataan tersebut diamini oleh Kiai Abdullah Sam atau yang akrab disapa Kiai Sableng. Ia menegaskan bahwa harta melimpah dan jabatan prestisius akan kehilangan esensinya jika seorang anak memilih untuk durhaka kepada orang tua.

Kiai Sableng bahkan secara terbuka mengapresiasi ketelatenan Abdul Aziz dalam merawat ibundanya yang telah terbaring sakit selama lima tahun terakhir. Hal ini dianggap sebagai contoh nyata integritas seorang pemimpin yang dimulai dari lingkungan keluarga.

Senada dengan hal itu, Fuad Ali menyebutkan bahwa dedikasi Abdul Aziz terhadap orang tuanya menjadi magnet tersendiri bagi para aktivis untuk bergabung di GMPK Kabupaten Malang. Ia mengaku banyak rekan aktivis yang merasa tergerak untuk meningkatkan bakti mereka.

“Kami jadi malu, Mas Aziz yang sudah kepala empat tetap tulus mengabdi, mengapa kami yang lebih muda tidak bisa? Ini menjadi momen perenungan bagi kami semua,” kata Fuad Ali yang kini fokus mengawal pendirian GMPK di Kabupaten Malang.

Memasuki malam hari, arus diskusi mulai beralih ke arah isu pemberantasan korupsi di Malang Raya. Gus Muhammad Hidir menyatakan bahwa gerakan sosial ini bertujuan untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat tanpa memedulikan pro dan kontra.

Sementara itu, Memet Yudi Hermanto mengingatkan pentingnya menjaga integritas organisasi. Ia menekankan bahwa meskipun GMPK adalah lembaga nirlaba yang tidak menjanjikan materi, menjaga nama baik organisasi adalah prioritas utama bagi setiap anggota.

Dukungan juga mengalir dari elemen perempuan, salah satunya Emma Luthia Ekakiantaty. Ia memandang perjuangan melawan korupsi sebagai ladang amal yang bernilai ibadah, sehingga ia mendukung penuh langkah suaminya untuk berkontribusi di Kabupaten Malang.

Ahmad Rifai dan Nahri menambahkan bahwa upaya pencegahan korupsi harus dilakukan secara kolektif. Menurut mereka, kolaborasi antar-aktivis sangat diperlukan guna menciptakan tata kelola keuangan daerah yang sehat dan transparan di masa depan.

Diskusi yang penuh rasa kekeluargaan ini akhirnya berakhir pada pukul 21.30 WIB. Sebelum berpamitan, Abdul Aziz yang juga CEO Firma Hukum PROGRESIF LAW Jakarta ini mengajak seluruh elemen untuk terus konsisten menjaga amanah dan memperkuat silaturahmi.

Tinggalkan Balasan