Malam Panjang di Musholla Kecil Mayangan

0
5 views
Bagikan :

Jombang,TelusuR.ID – Di sebuah musholla kecil di selatan Balai Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kamis malam itu, suasana terasa berbeda. Tidak ramai. Tidak gaduh. Tetapi hangat.

Beberapa pemuda bersarung duduk lesehan. Sebagian masih mengenakan jaket hijau GP Ansor. Di sudut lain, para Banser bercengkerama sambil menyeruput kopi. Sesekali terdengar suara motor lewat memecah sunyi desa.

Malam itu, 14 Mei 2026, Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Mayangan menggelar Musyawarah Anggota (Musta). Forum tertinggi di tingkat ranting. Tempat para kader muda Nahdlatul Ulama menentukan arah organisasi dua tahun ke depan.

Acara berlangsung di Musholla Shirojut Tholibin. Sederhana. Tetapi justru di tempat-tempat sederhana seperti itulah, denyut organisasi desa sering kali terasa paling hidup.

Hadir jajaran pengurus PAC GP Ansor Jogoroto, tokoh masyarakat, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga warga sekitar. Mereka mengikuti jalannya musyawarah dengan tenang. Tidak ada ketegangan berlebihan. Semua tampak cair. Khas musyawarah kampung yang masih menjaga tradisi guyub.

Penasehat PC GP Ansor Jombang, Sahabat M. Miftahus Saidin, mengingatkan pentingnya kaderisasi. Baginya, Ansor bukan sekadar organisasi pemuda. Ansor adalah tempat menempa generasi muda NU agar siap mengabdi.

“Ansor harus menjadi tempat lahirnya generasi muda yang siap berkhidmah untuk agama, masyarakat, dan bangsa,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di desa-desa seperti Mayangan, kalimat semacam itu masih punya tenaga. Masih dipercaya.

Ketua ranting demisioner, Sahabat Burhan Alawiy, tampak lega. Ia mengapresiasi semangat para kader yang bertahan mengikuti musyawarah hingga selesai. Tidak mudah menjaga semangat organisasi pemuda di tengah zaman yang makin sibuk oleh layar telepon genggam.

Sementara Ketua Ranting NU Desa Mayangan, Ustadz M. Agus Salim, berharap hubungan NU dan GP Ansor semakin kuat. Terutama dalam membina generasi muda desa agar tidak kehilangan arah.

Musyawarah berjalan relatif singkat. Tidak banyak perdebatan. Peserta akhirnya sepakat secara mufakat menetapkan Sahabat M. Yasin sebagai Ketua Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Mayangan masa khidmat 2026–2028.

Tidak ada tepuk tangan yang meledak-ledak. Hanya senyum dan jabat tangan. Tetapi justru di situlah kekuatan organisasi desa: tenang, sederhana, namun terus berjalan.

Di banyak tempat, anak muda desa mulai menjauh dari organisasi sosial dan keagamaan. Tetapi di Mayangan, malam itu memberi tanda lain. Bahwa masih ada anak-anak muda yang mau berkumpul di musholla, berbicara tentang pengabdian, tentang desa, dan tentang masa depan.

Barangkali, Indonesia memang masih disangga oleh pertemuan-pertemuan kecil semacam itu. Di musholla kampung. Di tikar sederhana. Dengan kopi panas dan semangat kebersamaan yang belum padam.

Tinggalkan Balasan