Dari “Kitab MA HA IS MA YA” Menuju Diplomasi Spiritual Global: Indonesia sebagai Mercu Suar Peradaban Dunia

0
7 views
Bagikan :

Dari “Kitab MA HA IS MA YA” Menuju Diplomasi Spiritual Global: Indonesia sebagai Mercu Suar Peradaban Dunia

oleh : Jacob ereste

Jakarta, TelusuR.ID – Kecerdasan yang berpadu dengan keberanian, kejujuran, serta keikhlasan, adalah syarat utama bagi seorang aktivis pergerakan untuk tetap teguh berada di jalan perjuangan rakyat. Sebab perjuangan yang sejati tidak pernah lahir dari ambisi kekuasaan, melainkan dari kesediaan menanggung amanah sejarah demi kemaslahatan manusia. Demikian inti sari diskusi rutin GMRI pada Kamis, 14 Mei 2026, di Sekretariat GMRI, Jalan Ir. H. Juanda No. 4A, Jakarta Pusat.

Dalam suasana santai namun sarat permenungan, forum itu kembali menegaskan pandangan Joyo Yudhantoro mengenai pentingnya hadirnya “utusan-utusan sejati” yang mampu mengemban titah rakyat dengan kesadaran spiritual yang utuh. Pemikiran tersebut selaras dengan pandangan Sri Eko Sriyanto Galgendu yang berulang kali menekankan bahwa perjuangan kebangsaan tidak cukup hanya bertumpu pada kekuatan politik dan ekonomi, tetapi harus bertolak dari kesadaran batin dan nilai-nilai spiritual yang luhur.

Diskusi berlangsung di tengah situasi dunia yang semakin bergejolak. Ketegangan geopolitik global, perang kepentingan antarnegara besar, hingga memanasnya konflik di Timur Tengah, menjadi pertanda bahwa dunia sedang mengalami krisis arah peradaban. Perang tidak lagi semata perebutan wilayah dan sumber daya, tetapi juga benturan nilai, moral, dan makna kemanusiaan. Dalam keadaan seperti itu, bangsa-bangsa memerlukan cahaya penuntun yang mampu menghadirkan kembali etika, harmoni, dan kebijaksanaan universal.

Di tengah santapan sederhana Sate Bumbu Kacang Mede produk Rumah Makan Ayam Ancuur, obrolan berkembang pada persiapan peluncuran “Kitab MA HA IS MA YA” yang direncanakan pada Agustus 2026. Kitab tersebut memuat 79 doa bagi para tokoh dan pemuka masyarakat, yang lahir dari monolog spiritual selama 20 jam tanpa henti pada 2–3 Agustus 2025 di Auditorium Wisma Antara, Jakarta Pusat. Bagi GMRI, kitab ini bukan sekadar kumpulan doa, melainkan ikhtiar kebudayaan dan spiritual untuk membangunkan kesadaran manusia Indonesia agar kembali mengenali jati dirinya sebagai bangsa yang berakar pada nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Bersamaan dengan itu, GMRI juga tengah mematangkan langkah besar melalui program Diplomasi Spiritual Global ke berbagai negara sahabat. Gagasan ini dipandang sebagai jalan baru bagi Indonesia untuk tampil di panggung dunia, bukan dengan ancaman kekuatan militer atau dominasi ekonomi, melainkan dengan kekuatan moral, spiritualitas, dan keteladanan peradaban.

Sebagai penguat semangat gerakan tersebut, pada 1 Juni 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, GMRI bersama Forum Negarawan dan Forum Lintas Agama akan menggelar kegiatan bertema “Memaknai Nilai-Nilai Kebangsaan dan Kenegarawanan dalam Perspektif Spiritual Global.” Forum ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan gagasan lintas agama, lintas budaya, dan lintas generasi untuk merumuskan kembali arah masa depan Indonesia di tengah perubahan dunia yang semakin tidak menentu.

Menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu, Diplomasi Spiritual Global merupakan upaya memperkuat kehadiran Indonesia dalam percaturan internasional melalui pendekatan kebudayaan dan kesadaran batin. Indonesia dipandang memiliki modal historis dan spiritual yang sangat besar untuk tampil sebagai mercu suar dunia — bangsa yang memancarkan cahaya perdamaian, kebijaksanaan, dan harmoni bagi umat manusia.

Visi besar ini lahir dari keyakinan bahwa dunia modern sedang mengalami kekeringan makna. Kemajuan teknologi yang begitu pesat tidak selalu diiringi dengan kematangan moral dan kebijaksanaan spiritual. Akibatnya, manusia kehilangan arah, peradaban kehilangan keseimbangan, dan dunia bergerak menuju turbulensi global yang mengkhawatirkan.

Karena itu, gerakan kesadaran spiritual menjadi semakin mendesak. Bukan sekadar sebagai wacana intelektual, tetapi sebagai kebutuhan nyata untuk menyelamatkan masa depan manusia. Indonesia, dengan warisan nilai Pancasila, keberagaman budaya, dan tradisi spiritual yang kaya, memiliki peluang historis untuk menjadi pusat cahaya peradaban baru — peradaban yang menempatkan kemanusiaan, etika, dan keseimbangan hidup sebagai fondasi utama.

Diskusi-diskusi rutin GMRI yang digelar setiap Senin dan Kamis pun perlahan menjelma menjadi “dapur peradaban”, tempat berbagai gagasan besar dirumuskan. Dari forum sederhana itulah lahir pelbagai inisiatif kebudayaan dan spiritual, mulai dari pembacaan doa dalam bahasa bumi hingga penerbitan “Kitab MA HA IS MA YA”. Semua itu menjadi bagian dari ikhtiar panjang membangun ketahanan batin bangsa agar Indonesia tidak sekadar menjadi penonton dalam pergolakan dunia, tetapi tampil sebagai pelopor lahirnya peradaban yang lebih beradab.

Indonesia, dalam pandangan ini, bukan hanya sebuah negara. Indonesia adalah harapan. Sebuah cahaya yang diharapkan mampu menerangi kegelisahan dunia dan mengajak umat manusia kembali menemukan makna kemanusiaannya.

Pecenongan, 14 Mei 2026

Tinggalkan Balasan