SURABAYA, TELUSUR.ID – Industri film dan konten digital di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, keterbatasan akses terhadap perangkat produksi standar industri masih menjadi hambatan bagi para talenta muda untuk berkembang lebih jauh.
Menanggapi tantangan tersebut, bìsasínema berkolaborasi dengan Sentra Digital Surabaya menggelar sebuah perhelatan besar bertajuk “Inside The Frame”. Acara ini digadang-gadang sebagai workshop sinema terintegrasi terbesar di Jawa Timur yang menyasar pelajar dan mahasiswa.
Kegiatan inspiratif ini berlangsung selama dua hari, yakni pada Jumat dan Sabtu, 24–25 April 2026. Mengambil tempat di Auditorium Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS), acara dimulai sejak pukul 10.00 hingga 17.00 WIB dengan antusiasme peserta yang luar biasa.
Berbeda dengan workshop pada umumnya yang didominasi oleh teori, “Inside The Frame” menawarkan konsep pembelajaran yang langsung menyentuh praktik nyata di lapangan. Peserta diajak untuk menyelami alur kerja produksi film profesional secara komprehensif dari hulu ke hilir.

Sesi awal dimulai dengan pendalaman materi penyutradaraan yang dipandu oleh Wendy Aga. Sosok di balik film populer Agak Laen: Menyala Pantiku tersebut berbagi ilmu tentang bagaimana menerjemahkan sebuah naskah cerita menjadi visi visual yang kuat.
Setelah memahami teori dasar, para peserta tidak dibiarkan hanya duduk diam. Panitia telah membangun set film nyata di area ISTTS yang dirancang khusus untuk mempraktikkan proses produksi sesungguhnya layaknya di studio film besar.
Di dalam set tersebut, para peserta mendapatkan kesempatan langka untuk mempraktikkan blocking pemain dan penataan cahaya atau lighting. Mereka juga dibimbing dalam mengoperasikan kamera di bawah pengawasan mentor berpengalaman untuk menghasilkan gambar yang estetik.

Satu hal yang menjadi daya tarik utama dalam workshop ini adalah kehadiran teknologi mutakhir berupa kamera Fujifilm GFX Eterna. Kamera sinema medium format ini sangat jarang bisa diakses oleh publik secara bebas, apalagi oleh kalangan pelajar.
Fujifilm GFX Eterna dikenal di kalangan profesional karena kemampuannya menghasilkan karakter visual sinematik dengan detail yang sangat tinggi. Pengalaman ini memberikan perspektif baru bagi peserta mengenai kualitas gambar standar layar lebar.
Melengkapi kecanggihan kamera tersebut, penyelenggara juga menyediakan jajaran lensa dari DZOFilm. Brand ini sedang naik daun di industri sinematografi global dan memberikan fleksibilitas bagi para peserta untuk bereksperimen dengan berbagai sudut pandang.
Keunikan acara ini semakin terasa melalui alur kerja yang terintegrasi secara utuh. Setelah sesi pengambilan gambar selesai, hasil rekaman peserta tidak dibiarkan begitu saja, melainkan langsung dibawa ke tahap pasca-produksi.
Penyelenggara telah menyiapkan color grading suite khusus di sayap kanan gedung ISTTS. Di ruangan ini, hasil gambar diproses lebih lanjut untuk menentukan mood dan karakter warna film yang diinginkan sesuai standar industri.
Sesi teknis ini dibimbing langsung oleh Yulia Anggraeni, seorang Colorist profesional sekaligus pendiri Klöver Colour Studio. Ia memperkenalkan alur kerja finishing menggunakan perangkat lunak standar dunia, DaVinci Resolve, kepada para peserta.

Pendekatan satu rangkaian utuh ini—mulai dari penyutradaraan, produksi di set dengan alat terkini, hingga tahap akhir pasca-produksi—memberikan gambaran nyata bagi peserta mengenai ekosistem kerja profesional yang sebenarnya.
Tak hanya workshop, area acara juga dimeriahkan oleh eksibisi perangkat sinema terbaru. Berbagai brand ternama seperti Fujifilm, Hollyland, Aputure, Blackmagic Design, hingga Zeiss turut memamerkan teknologi terkini mereka di lokasi acara.
Melalui inisiatif ini, bìsasínema, Sentra Digital, dan ISTTS memberikan kesempatan langka bagi komunitas kreatif di Surabaya dan Jawa Timur. Hebatnya, seluruh rangkaian kegiatan ini dapat dinikmati oleh peserta secara gratis tanpa dipungut biaya.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi katalisator bagi lahirnya sineas-sineas muda berbakat dari Jawa Timur. Dengan bekal pengalaman teknis yang mumpuni, mereka diharapkan lebih siap bersaing di industri kreatif yang semakin kompetitif dan dinamis.
Acara “Inside The Frame” pun ditutup dengan optimisme tinggi dari para peserta. Transformasi pendidikan kreatif seperti ini diyakini akan terus memperkuat posisi Surabaya sebagai salah satu pusat perkembangan industri perfilman di Indonesia.



