PWNU Jatim Usul Pelembagaan Aswaja Center Masuk AD/ART dalam Muktamar Ke-35 NU

0
4 views
Bagikan :

SURABAYA, TELUSUR.ID – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur secara resmi mengusulkan agar “Aswaja Center” ditetapkan sebagai lembaga atau badan khusus. Usulan ini akan dibawa ke forum Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional (Munas) menjelang Muktamar Ke-35 NU mendatang.

Langkah strategis ini merupakan hasil kesepakatan dalam sidang pleno Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jatim yang digelar di Tuban pada 11-12 April 2026. Forum tertinggi di tingkat wilayah tersebut menjadi momentum penguatan ideologi organisasi.

Delegasi Aswaja Center dalam Muskerwil tersebut, MZ Muhaimin, menyatakan bahwa pelembagaan ini sangat krusial. Agenda ini dibuka langsung oleh Rais Syuriah PBNU Prof Mohammad Nuh dan ditutup oleh Rais Aam PBNU KH Miftakhul Achyar.

Muhaimin menjelaskan, kesepakatan pelembagaan Aswaja Center muncul dalam sidang komisi program yang dipimpin oleh Wakil Ketua PWNU Jatim, KH Firjaun Barlaman. Aspirasi ini dinilai mendesak untuk segera ditindaklanjuti secara organisatoris.

Rencananya, pembahasan mendalam mengenai status lembaga ini akan dilakukan pada Konbes dan Munas yang dijadwalkan pada akhir April 2026. Target utamanya adalah payung hukum yang jelas bagi eksistensi badan khusus tersebut.

“Menjelang Muktamar Ke-35 NU pada Agustus 2026, kita perlu memastikan agar Aswaja Center tercatat dalam AD/ART NU atau Peraturan Perkumpulan (Perkum) PBNU,” tegas Muhaimin dalam keterangannya dikutip Telusur.id, Kamis (16/4/2026).

Dalam sidang komisi, Muhaimin sempat memutarkan dokumentasi video pleno Muktamar ke-34 di Lampung. Video tersebut merekam aspirasi pelembagaan Aswaja Center yang sebenarnya sudah diterima dan dijanjikan akan ditindaklanjuti.

Di Jawa Timur sendiri, kiprah Aswaja NU Center bukanlah hal baru karena telah berjalan secara konsisten sejak tahun 2011. Keberadaannya bahkan sudah mengakar hingga ke tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC) di berbagai daerah.

Selain di Jawa Timur, gerakan serupa mulai tumbuh subur di wilayah lain seperti Jawa Tengah yang dinakhodai Kyai Ulil Albab. Begitu pula di Jawa Barat yang sempat berdiri di bawah kepemimpinan Kyai Mirfaqo.

Wakil Sekretaris PWNU Jatim, Dr. KH Wafiul Ahdi, menekankan bahwa urgensi pelembagaan ini berkaitan erat dengan posisi Aswaja sebagai “ruh” dari Nahdlatul Ulama. Terlebih, tantangan zaman kini telah bergeser ke ranah digital.

Kiai Wafi menilai “perang ideologi” kini terjadi secara terbuka di media sosial dan ruang siber. Tanpa lembaga yang otoritatif, syiar moderasi beragama di kalangan nahdliyin dikhawatirkan akan kehilangan arah.

Ia juga menyoroti fenomena memprihatinkan berdasarkan hasil survei terhadap generasi Z di lingkungan NU. Banyak dari mereka yang ternyata belum memahami secara mendalam paham Aswaja An-Nahdliyah.

“Ini sangat mengkhawatirkan jika tidak dicarikan solusi melalui advokasi paham Aswaja, literasi, hingga penerbitan buku secara terstruktur,” tutur Kiai Wafi menjelaskan fungsi strategis lembaga tersebut.

Secara keilmuan, Aswaja An-Nahdliyah berpegang teguh pada akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah. Dalam bidang fikih mengikuti empat mazhab besar, serta bidang tasawuf merujuk pada Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid Al-Baghdadi.

Selain isu Aswaja Center, Muskerwil PWNU Jatim juga merumuskan usulan pemberdayaan ekonomi melalui tiga pilar utama. Di antaranya adalah penguatan UMKM, hilirisasi pertanian, serta optimalisasi filantropi melalui Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS).

Usulan lain yang turut disorongkan adalah penguatan layanan kesehatan berbasis jamaah melalui RS NU dan klinik. PWNU Jatim berharap seluruh usulan ini dapat menjadi prioritas dalam Muktamar Ke-35 NU yang akan digelar 1-5 Agustus 2026 mendatang.

Tinggalkan Balasan