JAKARTA, TELUSUR.ID – Harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya dengan merangkak naik tajam pada perdagangan awal pekan ini. Lonjakan ini dipicu oleh insting para investor yang berbondong-bondong menyelamatkan aset mereka ke instrumen safe-haven di tengah situasi geopolitik global yang kian membara.
Sentimen utama penguatan ini datang dari kekhawatiran pasar akan pecahnya perang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. Aksi militer terbaru yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran menjadi pemantik utama yang membuat suhu politik dunia mendidih dan pasar keuangan dilanda kecemasan.
Mengutip data perdagangan Senin (2/3/2026) atau Selasa dini hari WIB, harga emas di pasar spot tercatat menguat 0,4 persen ke posisi 5.297,31 Dolar AS per ons. Angka ini menunjukkan betapa perkasanya logam mulia tersebut di tengah ketidakpastian global yang melanda sejak awal tahun.
Tak hanya di pasar spot, kenaikan lebih signifikan terjadi pada emas berjangka AS untuk kontrak April. Harganya melonjak tajam hingga 1,2 persen dan bertengger di level 5.311,60 Dolar AS per ons, sebuah angka yang mencerminkan optimisme tinggi para pelaku pasar terhadap prospek emas ke depan.
Perjalanan emas di sesi perdagangan kali ini sebenarnya cukup dramatis. Logam kuning ini sempat melesat hingga 2 persen di awal sesi, sebelum akhirnya mengalami sedikit koreksi akibat aksi ambil untung (profit taking) dari para pedagang yang memanfaatkan momentum lonjakan harga tersebut.
Menariknya, reli panjang emas ini seolah tak terbendung meskipun Indeks Dolar AS (DXY) sedang menguat sekitar 1 persen. Fenomena ini tergolong langka, karena biasanya penguatan Dolar akan memberikan tekanan berat bagi komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang Negeri Paman Sam tersebut.
Analis dari SP Angel menyebutkan bahwa selain faktor perang, ada dorongan struktural jangka panjang yang memperkuat posisi emas. Negara-negara anggota BRIC dikabarkan mulai masif beralih dari aset berbasis Dolar ke emas sebagai langkah antisipasi terhadap fragmentasi geopolitik dunia.
Tren kenaikan ini pun tercatat sangat fantastis. Sepanjang tahun 2026 berjalan saja, harga emas telah melonjak hampir 23 persen secara year-to-date. Tren ini melanjutkan reli gila-gilaan pada tahun 2025 lalu yang mencatatkan kenaikan masif sebesar 64 persen.
Namun, di balik kegemilangan harganya, eskalasi konflik di Timur Tengah mulai membawa ancaman serius pada sisi logistik. Penghentian sejumlah penerbangan ke Dubai, yang dikenal sebagai pusat bullion dunia, diprediksi akan menghambat rantai distribusi emas fisik secara global dalam waktu dekat.
Kondisi berbeda justru dialami oleh keluarga logam mulia lainnya yang cenderung tertekan. Perak spot tercatat anjlok cukup dalam sebesar 5,7 persen ke level 88,46 Dolar AS, berbanding terbalik dengan performa emas yang terus bersinar terang di tengah badai.
Penurunan juga membayangi platinum dan paladium yang masing-masing melemah sebesar 2,7 persen dan 0,9 persen. Fenomena ini menegaskan bahwa untuk saat ini, emas tetap menjadi “raja” tunggal yang paling diburu investor saat dunia sedang tidak baik-baik saja.



