JOMBANG, TELUSUR.ID – Sosiolog Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, Mukari, angkat bicara terkait adanya narasi sejarah Bung Karno lahir di Ploso, Jombang tanggal 6 Juni 1902. Mukari mengatakan, jika memang betul Bung Karno lahir di Ploso, hal itu akan memberikan dampak positif bagi Kabupaten Jombang, karena semakin meneguhkan posisi penting Jombang yang berkarakter nasional-religius.
“Bung Karno simbol nasionalis. Sisi religiusnya bisa terwakili oleh Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, dan juga Gus Dur yang merupakan tokoh-tokoh kaliber internasional berbasis pesantren,” kata Mukari, Senin (16/02).
Mukari menambahkan, dengan Bung Karno lahir di Jombang bersanding dengan Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Chasbullah, serta Gus Dur yang juga dilahirkan di Jombang, Kabupaten Jombang tentunya sangat berpotensi menjadi pusat keilmuan dunia.
Di sisi sejarah pemerintahan, tentu kehadiran Bung Karno juga bakal menambah jumlah presiden yang dilahirkan di Kabupaten Jombang. “Ada Gus Dur, Presiden Keempat RI, dan Bung Karno, Presiden pertama RI,” tandas Mukari.
Mukari berpandangan, harusnya wacana Bung Karno lahir di Ploso, Jombang 6 Juni 1902 mendapatkan perhatian serius semua pihak, terutama oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang.
“Bentuk perhatian serius bisa berupa membentuk tim yang memiliki otoritas keilmuan di bidang kajian sejarah, dari para akademisi,” ujar Mukari.
Pemerhati sejarah di Jombang, Arif Yulianto atau Cak Arif, sebelumnya telah membeberkan sejumlah data yang menguatkan hal tersebut. Di antaranya, data tertulis ‘beseluit’ atau Surat Keputusan (SK) tugas ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo sebagai Mantri Guru Sekolah Ongko Loro di Ploso, Surabaya tertanggal 28 Desember 1901.
Dengan demikian, Jombang semakin berpotensi menjadi pusat sejarah dan keilmuan nasional.



