Rahasia Renyah Kembang Goyang Jombang, Camilan Jadul yang Tak Lekang Dimakan Zaman

0
70 views
Bagikan :

JOMBANG, TELUSUR.ID – Di tengah gempuran jajanan modern dengan aneka rasa kekinian, kue kembang goyang atau kue antari tetap punya singgasana sendiri di hati penggemarnya.

Menjelang Hari Raya Idulfitri, camilan tradisional yang menyerupai kelopak bunga ini seolah menjadi hidangan wajib yang diburu masyarakat.

Di Jombang, Ika Trisna Savitri menjadi salah satu sosok yang setia menjaga kemurnian rasa kudapan ini. Bertempat di Jalan Sisingamangaraja, Desa Kepatihan, Vivi—sapaan akrabnya—terus memutar cetakan besi di dalam wajan panas sejak usaha keluarganya dirintis pada tahun 1996.

Daya tarik utama kue ini terletak pada proses pembuatannya yang atraktif.”Dinamakan kembang goyang karena adonan di cetakan harus digoyang-goyangkan di dalam minyak panas agar terlepas dan membentuk kelopak yang cantik,” jelas Vivi saat ditemui pada Jumat (27/02) dikutip Telusur.id.

Meski melewati proses penggorengan, keunggulan kembang goyang buatan Vivi ada pada teknik penirisan yang presisi. Hasilnya, kue tetap kering, tidak berminyak (oily), dan memiliki ketahanan renyah yang lebih lama dibandingkan produk serupa di pasaran.

Rahasia kelezatannya ada pada keseimbangan rasa. Saat digigit, sensasi gurih langsung menyapa lidah, disusul semburat manis yang tipis dan tidak berlebihan. Teksturnya yang tipis dan garing membuatnya sangat ringan, sehingga sulit untuk berhenti setelah gigitan pertama.

Dahulu, kue ini hanya muncul di meja-meja hajatan atau pernikahan sebagai simbol keberkahan. Namun, kini kembang goyang telah berevolusi menjadi camilan harian yang digemari lintas generasi berkat inovasi varian rasa dan warna yang lebih modern namun tetap otentik.

Kepopuleran kue ini tak lagi hanya sebatas wilayah Jombang. Pesanan terus mengalir hingga ke Jakarta, membuktikan bahwa cita rasa klasik yang dieksekusi dengan kualitas premium memiliki pasar yang sangat luas di kancah nasional.

“Kami sedang mengejar pesanan pelanggan untuk Lebaran. Kembang goyang kami punya karakter gurih yang kuat, itulah yang membuat pembeli selalu kembali,” terang Vivi di tengah kepulan uap penggorengan yang harum.

Dari segi ekonomi, Vivi tetap menjaga harga yang sangat bersahabat. Ukuran 200 gram dibanderol Rp12.000, sementara kemasan mungil 80 gram dijual hanya Rp7.000. Tersedia pula harga grosir Rp11.000 bagi reseller yang ingin ikut memasarkan produk legendaris ini.

Adi Rosul, seorang pelanggan setia, mengaku selalu memesan sejak awal Ramadan. “Kue ini sangat renyah, manisnya tidak menusuk, dan ada aroma khas santan yang gurih. Kalau tidak pesan sekarang, pasti kehabisan saat mendekati hari H Lebaran,” ungkapnya.

Dengan perpaduan bentuk yang estetis dan rasa yang menggugah selera, kembang goyang Jombang tetap menjadi primadona kuliner. Keberadaannya bukan sekadar soal rasa, melainkan cara kita merayakan tradisi dalam setiap gigitan renyahnya.

Tinggalkan Balasan