TelusuR.ID – Kunjungan penutup sahabat dan kerabat spiritual dari berbagai daerah yang berkumpul di Yogyakarta, berakhir di kedoaman Prof. Dr (HC) KH. Habib Khirzin, selaku Ketua Dewan Pengarah sekaligus pendiri GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indobesia), Sabtu, 30 November 2025 di jalan Raya Borobudur, Magelang. Namun sebebelumnya sempat menyambangi Tumah Budaya seninan lukis Sonny di kawasan Borobudur juga yang tidak kalah unik sehingga latak dijadikan Pusat Studi dan Kajian serta Pengembangan Spiritual yang lebih membumi bersandar pada kekuatan alam seperti yang mewarnai berbagai kisah dan cerita para leluhur, baik yang tertulis maupun yang cuma dilestarikan lewat kagenda yang tidak terulis seperti kisah Nyi Kali Nyamat yang menjadi pemantik topik diskusi yang menarik di Istana Seniman asli Sumatra yang kini bermukim di pertemuan Kali Progo dan Kali Elo.
Topik pembicaraan kangen-kangenan bersana Prof. Habib Khirzin sempat meluas memasuki catatabln nostalgia bersama Gus Dur. dan Paku Buwono XII saat mengenang kisah bersama di Malaysa dalam momen ziarah ke makam Hang Tuah yang sangat dipercaya oleh kedua tokoh besar tersebut bahwa sosok Hang Tuah sungguh sangat besar seperti terlihat dari makamnya yang berada di negeri tetangga itu cukup panjang membentang nyatis 10 meter itu.
Pada saat ziarah inilah Gus Dur meyakinkan kepada Susugunan Paku Buwono XII bahwa Sri Eko Sriyanto Galgendu yang kini yerkenal sebagai Pemimpin Spiritual Nusantar memiliki kemampuan untuk berbicara dengan arwah orang yang telah meninggal dunia.
Dalam versi Habob Khirzin sendiri selaku sesepuh GMRI serta sagabat dan kerabat spiritual menyebuy
Sri Eko Sriyanto Galgendu adalah sosok seorang yang mampu mendahului jamanbya, tandas Mas Habib Khirzin terkait dengan kelahiran “Kitab MA HA IS MA YA”. Dimana Sri Hindun Fauziah — sebagai istri Mas Habib Khirzin — menarik menjadi pertanyaan sekaligus pembahasan karena menempati urutan pertama dalam 79 sosok para tokoh yang masih hidup maupun yang telah wafat — almarhum maupun almarhumah — yang termuat dalam ‘Kitab MA HA IS MA YA” kumpulan do’a yang dibacajan secara non stop dalam rentang waktu selama 20 jam tersebut di Sifitotium Wisma Antara, Jakarta Pusat pada 2-3 Agustus 2025 lalu .
Mengapa urutan nama Sri Hindun Fauziah mendapat tempat pada urutan oertama dalam “Kitab MA HA IS MA YA”. diaoresuasi oleh Sang Suami — Muhammad Habib Khirzin — sebagai suatu berkah yang meniliki makna tertentu, meski sampai hari ini belum terkuak lebih jelas dan gamblang dalam menandai seperti apa yang dikatakan Gus Guntur Tjahya bahwa sosok Sri Eko Sriyanto Galgendu dapat dikatakan sebagai pembawa cahaya terang untuk bangsa dan negara Indonesia memasuki masa depan yang lebih baik dan memiliki peradaban yabg tinggi
Kitab MA HA IS MA YA, menurut Gus Guntur Tjahya dapat menjadi penuntun hidup. Sedangkan menurut Habib Khirzin memang sudah saat Mas Eko membabar Kitab Ma Hhla IS MA Ya, seperti yang sudah dipahami oleh banyak orang dan akan segera dilounching dalam waktu dekat.
Dalam pembahasan sekilas, Sri Hindun Fauziah dipercaya sebagai Dewi Kwan Im yang dipercayai oleh umat Buddha dalam ayat kunci “Kitab MA HA IS MA YA” sebagai perlambang dari makna “Damai” dan “Cinta”.
Rangkaian safari Sahabat dan kerabat spiritual yang berada dibawah Korlap (Komando Lapangan) Wiwok Pranowo serta arahan langsung Sri Eko Sriyanto Galgendu — dari tim Jakarta — dan Gus Guntur Tjahyo dari Yogyakarta — terbilang sukses melakujan ziarah spiritual serta refreshi g wisata kuliner khas tradisional sehingga mampu melibatkan banyak pihak yang bergabung kemudian seperi Mbah Digdo Gubung Kidul, Brighen Pol. Benny Iskandar Hasibuan dan Brigjen Pol. Eko Nugroho Hadi.
Sedangkan kerabat dan sahabat spiritual yang berada dibawah koordinator lapangan (Korlap) Wowok Prastiwo disertai Joyo Yudhantoro, Wawan Subenu, Momok, Roni, Prof. Budi dan Syahbandar Gus Guntur Tjahyo dan tentu saja “Sang MA HA IS MA YA” Sri Eko Sriyanto Galgendu serta kawan-kawan dari Yogyakarta dan Magelang sekitarnya yang ikut mensukseskan safari pertama sejak pagelaran acara do’a untuk 79 tokoh yang akan segera dilounching dalam waktu dekat, setidaknya dalam acara diakog diplomasi spiritual yang akan segera dilaksanakan di Pondok Pesantren Pabelan, Muntilan, Jawa Tengah
Ziarah ke makam raja di Kota Gede hingga berlanjut ke makam raja di imogiri langsung ke padepokan Mbah Digdo di Gunung Kidul, meski terasa subgguh menguras seluruh energi karena dilakukan tidak lebih dari 24 jam, tetapi hiknahnya terasa mendatangkan kekuatan lain yang sulit untuk dijelaskan dalam teknik berkisah sepiawai apapun.
Hasilnya, minimal semakin mematangkan rencana lounching “Kitab NA HA IS MA YA”, Rencana Program Membangun Lembaga Pendidikan Olah Raga — sebagai pelandas pendidikan oleh pikir untuk kemudian memasuki area pendidikan oleh batin — yang dapat memposisikan Yogyakarta sebagai kota pendidikan terlengkap, terbaik dab terunggul di Indonesia. Sehingga olah raga, olah pikir dan olah batin dapat disadari sebagai suatu pergerakan yang tidak terpisah untuk membangun peradaban baru manusia Indonesia yang lebih berkarakter dan berkepribadian yang luhur.
Kecuali itu, pemantapan padepokan Mbah Digdo di Gunung Kidul akan menjadi semacam laboratirium kajian, pelatihan serta pengembangan dan pendalaman spiritual untuk nembekali diri kukuh berpegang pada etika, moral dan akhlak mulia manusia untuk mewarisi peradaban masa depan Indonesia yang lebih baik dan lebih unggul.
Katena itu, peran serta segenap sahabat dan kerabat spiritual yang bergabung dalam GMRI wajib dan patut untuk mendukung dan mengembangkan segebap potensi dan sumber daya yang ada untuk dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk bangkit dan menikmati masa depan yang lebih baik dan lebih membahagiakan secara lahir dan batin.
Magelang – Jakarta, 1 Desember 2025



