Harga Ayam di Pasar Jombang Tembus Rp 36 Ribu, Ini Pengaruhnya ?

0
112 views
Bagikan :

JOMBANG, TELUSUR.ID – Menjelang Libur Nataru, sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan. Seperti harga daging ayam di Pasar Pon Jombang kembali merangkak naik menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru tersebut.

Kenaikan tersebut, sudah mulai terlihat sejak pekan lalu, dari harga normal Rp 32.000–33.000 per kilogram kini menembus Rp 36.000 per kilogram.

Diulaskan, Dewi Nurkamaru (51), salah satu pedagang daging ayam di Pasar Pon. Ia menyampaikan kenaikan harga kali ini terjadi lebih cepat dibanding tahun sebelumnya. Menurutnya, harga sudah naik kisaran 3 ribu dari sebelumnya. Kini di kisaran Rp 35.000 hingga Rp 36.000 per kilogram.

“Kalau normalnya kemarin Rp 32.000–33.000 per kilo. Tapi kalau sudah dekat Natal dan tahun baru memang pasti naik. Sekarang tiap hari naiknya,” ujar Dewi Senin (8/12).

Dewi menyebut kenaikan ini tidak hanya terdampak oleh Nataru. Melainkan juga adanya program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut mendorong kenaikan harga.

Menurutnya, permintaan ayam dari berbagai sektor meningkat sehingga stok dari pemasok lebih cepat terserap.

“Ada program MBG itu juga. Jadi permintaan naik terus. Barang-barang lain juga ikut naik, akhirnya ayam juga ikut naik,” jelasnya.

Meski perayaan Natal masih beberapa minggu lagi, Dewi memprediksi harga saat ini sudah mendekati batas tertinggi untuk pasaran Jombang. Kendati demikian, ia tidak menutup kemungkinan harga akan kembali naik jika pasokan menipis.

“Kayaknya pasarnya kuatnya segitu (Rp 35–36 ribu). Tapi enggak tahu kalau nanti naik lagi. Tahun kemarin juga segitu. Paling tinggi itu pas hari raya, bisa sampai Rp 40 ribu kalau Lebaran, karena yang beli banyak,” ungkapnya.

Ia menilai, saat ini harga daging ayam untuk turun kembali ke Rp 30.000 per kilogram hampir mustahil. “Ada MBG, jadi ayam untuk turun Rp 30.000 itu kayaknya enggak bisa,” tambahnya.

Kenaikan harga ini berdampak langsung pada minat beli masyarakat. Dewi mengaku omzetnya mulai menurun karena banyak pelanggan yang mengurangi jumlah belanjaan.

“Ya tidak begitu ramai. Pembeli juga enggak berani beli banyak. Katanya uangnya harus dibagi-bagi karena semua harga naik, cabai dan yang lain-lain juga naik,” katanya.

Dalam kondisi normal, ia bisa menghabiskan hingga 5 kuintal ayam pada hari paling ramai. Namun saat ini jumlah tersebut menurun cukup signifikan.

“Sekarang keluar barangnya sedikit, berkurang. Kecuali kalau ada pesanan khusus,” terangnya.

Selain daging ayam, ia juga menjual bagian ayam lainnya seperti balungan ayam yang dijual dengan harga Rp 5.000 per kilogram, dan jeroan ayam dipatok Rp 30.000 per kilogram.

Sementara, keluhan datang dari salas satu pembeli, Umrotin (43)mengaku kenaikan harga ini cukup memberatkan, terutama karena ia membeli ayam sebagai bahan baku untuk jualan mie ayam.

“Biasanya saya bisa beli agak banyak untuk jualan mie ayam, tapi sekarang harus dikurangi soalnya mahal. Modal makin besar, sementara kalau harga jual dinaikkan pelanggan pasti banyak yang protes,” keluhnya.

Ia mengatakan, kondisi ini memaksanya lebih berhati-hati dalam mengatur modal harian. Jika biasanya ia membeli beberapa kilogram dalam sekali belanja, kini jumlah itu harus dipangkas agar pengeluaran tidak membengkak.

“Kalau harga naik segini, ya jelas berat buat pedagang kecil. Kita ini nyesuaiin sama pelanggan juga. Kalau mie ayam dinaikkan harganya, takutnya malah makin sepi,” ucapnya.

Umrotin berharap pemerintah maupun pemasok dapat melakukan langkah stabilisasi sehingga harga ayam tidak terus berada di level tinggi seperti sekarang.

“Semoga cepat turunlah, biar pedagang kecil kayak kami enggak makin susah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan