Menelusuri Gunung Pucangan: Jejak Moksa Dewi Kilisuci dan Primadona Wisata Religi di Jombang

0
9 views
Bagikan :

JOMBANG, TELUSUR.ID – Kabupaten Jombang selama ini populer dengan julukan Kota Santri karena ribuan pesantrennya. Namun, di balik itu, wilayah ini juga menyimpan permata wisata religi tersembunyi yang sarat akan nilai sejarah dan nuansa spiritualitas tinggi.

Terletak di ujung timur laut, tepatnya di Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan, terdapat sebuah perbukitan hijau yang disakralkan oleh masyarakat sekitar. Bukit tersebut dikenal luas oleh para peziarah dengan nama Gunung Pucangan.

Destinasi ini bukan sekadar hamparan alam asri yang menyegarkan mata. Gunung Pucangan diyakini sebagai lokasi peristirahatan terakhir sekaligus tempat pertapaan seorang putri bangsawan dari era kejayaan Kerajaan Kediri.

Perpaduan antara keindahan lanskap alam, atmosfer mistis yang kental, serta peninggalan situs kuno menjadikan lokasi ini magnet bagi para wisatawan. Terutama bagi mereka yang haus akan cerita legenda dan perjalanan spiritual.

Daya tarik utama Gunung Pucangan tak lepas dari sosok Dewi Kilisuci. Beliau adalah putri dari Raja Airlangga, penguasa legendaris yang pernah membawa Kerajaan Kediri mencapai masa keemasannya.

Berbeda dengan trah bangsawan pada umumnya yang kerap terlibat perebutan kekuasaan, Dewi Kilisuci justru memilih jalan hidup yang kontras. Ia memilih meninggalkan kemewahan istana demi mencari kedamaian batin.

“Dewi Kilisuci adalah nama julukan karena beliau seorang pertapa suci. Beliau diketahui tidak pernah menikah seumur hidupnya,” jelas Agus, juru kunci makam, dikutip Telusur.id, Minggu (3/5/2026).

Berdasarkan cerita tutur yang diwariskan turun-temurun, sang putri sebenarnya telah dipersiapkan untuk naik takhta menjadi ratu. Namun, panggilan spiritual membuatnya dengan tegas menolak garis takdir tersebut.

Agus menambahkan, Dewi Kilisuci lebih memilih mengasingkan diri di Alas Pugawat atau Gunung Pucangan. Di sana, ia mendoakan kesejahteraan rakyat daripada sibuk dengan urusan takhta dan kekuasaan kerajaan.

Di puncak gunung itulah, sang putri menghabiskan sisa usianya dalam keheningan tapa brata. Hal ini menjadikan Gunung Pucangan dianggap sebagai tempat suci yang penuh berkah hingga saat ini.

Kompleks religi ini ternyata menyimpan kekayaan sejarah yang besar dengan keberadaan 13 makam keramat. Makam Dewi Kilisuci menjadi titik sentral, berada di bangunan tertutup yang terpisah dari makam lainnya.

Ke-13 makam tersebut di antaranya adalah makam Eyang Rogo Wali Suci, Eyang Sunuwun Wali, hingga Pangeran Said. Keberadaan makam-makam ini dijaga dengan sangat khidmat oleh warga setempat sebagai warisan leluhur.

Tak hanya makam, daya tarik lain dari Gunung Pucangan adalah keberadaan dua sendang atau telaga kecil di kaki bukit. Sendang Widodaren dan Sendang Ndermo diyakini memiliki khasiat tertentu bagi para pengunjung.

Sendang Widodaren dipercaya secara turun-temurun sebagai tempat mandi para bidadari. Hingga kini, banyak peziarah wanita yang menyempatkan diri bersuci di sana sebelum melanjutkan pendakian ke area makam.

Sementara itu, Sendang Ndermo memiliki dua sumber mata air utama, yakni Sendang Drajat dan Sendang Kamulyan. Sendang Drajat kerap digunakan untuk mandi atau bersuci, sedangkan air Sendang Kamulyan sering dibawa pulang untuk dikonsumsi.

Meskipun akses jalannya menanjak dan cukup menantang, hal itu tidak menyurutkan niat para peziarah. Pada hari-hari biasa, tercatat puluhan orang berkunjung, namun jumlahnya melonjak drastis pada momentum tertentu.

“Puncaknya pada malam Jumat Legi, jumlah peziarah bisa mencapai lebih dari 500 orang. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa Timur untuk mencari ketenangan hajat,” ungkap Agus.

Gunung Pucangan kini berhasil menyuguhkan paket wisata lengkap yang menggabungkan petualangan alam, wisata religi, serta edukasi sejarah. Destinasi ini menjadi bukti nyata bahwa warisan masa lalu masih lestari di tengah zaman modern.

Tinggalkan Balasan