Jacob Ereste : Operasi Kodok: Adu Domba dan Politik Kekuasaan di Tengah Krisis Ekonomi

0
9 views
Bagikan :

Oleh : Jacob Ereste

Jakarta,TelusuR.ID – Teror dan Iming-Iming yang Mengancam serta Menggoda Saat Tekanan Ekonomi dan Idealisme Dipertaruhkan*

Jika seseorang mampu lolos dari rayuan dan dekapan kepentingan, maka sergapan berikutnya biasanya datang dalam bentuk yang lebih kasar: disingkirkan, dilemahkan, bahkan dimusnahkan secara perlahan melalui teknik busuk memecah-belah sesama anak bangsa. Modus yang paling lazim adalah adu domba, pembentukan opini liar, hingga penciptaan kegaduhan yang sengaja dipelihara.

Dalam suasana politik dan sosial yang semakin bising seperti sekarang, berbagai persoalan nasional tampil membingungkan dan seakan kehilangan arah. Program-program pemerintah pun terus-menerus dibenturkan dengan narasi negatif agar tampak salah, kisruh, dan gagal. Program MBG (Makan Bergizi Gratis), misalnya, tidak luput dari pusaran polemik yang terus digoreng menjadi sumber kegaduhan publik.

Situasi ini mengingatkan pada apa yang pernah disebut Sri Eko Sriyanto Galgendu sebagai “Operasi Kodok”, sebuah pola permainan yang bergerak ke segala arah: menyerang siapa saja, menjadikan siapa pun sebagai sasaran, atau sekadar alat untuk menciptakan kegaduhan. Kasus penyiraman air keras terhadap Andri Yunus, misalnya, dapat dibaca sebagai salah satu indikator bahwa pola operasi semacam ini bekerja secara terstruktur, sistematis, dan masif. Di belakangnya ada sutradara, aktor, dan para pemodal besar yang diduga ingin mengendalikan konstelasi politik dan kekuasaan nasional dengan memanfaatkan kekacauan sosial.

Karena itu, kesadaran kolektif untuk tidak mudah dipecah-belah menjadi sangat penting. Jangan sampai rakyat hanya dijadikan objek adu domba demi kepentingan politik jangka panjang. Sebab sangat mungkin “Operasi Kodok” yang kini dipentaskan di panggung nasional hanyalah pembuka dari agenda berikutnya: perebutan posisi strategis menuju pertarungan politik 2029.

Gejalanya mulai tampak melalui berbagai manuver pencitraan, perang opini, hingga serangan gerilya terhadap partai-partai politik yang dianggap pesaing. Tidak hanya merebut pengaruh elite, tetapi juga mencoba menggerus loyalitas kader dan massa pendukungnya.

Karena itu, suhu politik nasional hampir pasti akan terus memanas. Perebutan posisi strategis menuju 2029 akan semakin keras ketika uang dalam jumlah besar mulai ditebarkan untuk mempengaruhi opini, membangun jaringan, dan membeli dukungan. Dalam situasi ekonomi rakyat yang semakin terhimpit, iming-iming materi menjadi senjata paling efektif untuk menggoda sekaligus menundukkan idealisme.

Artinya, di tengah tekanan ekonomi yang makin berat, tingkat kewaspadaan rakyat juga harus ditingkatkan. Jangan sampai masyarakat terjebak seperti kodok yang perlahan menjadi mangsa ular berbisa berkepala ganda. Terlebih dalam kondisi ketika banyak pihak hidup di “dua alam”: tampil seolah membela rakyat, tetapi diam-diam bekerja demi kepentingan kelompok dan kekuasaan tertentu.

Pada hakikatnya, “Operasi Kodok” selalu membutuhkan korban dan tumbal. Sebab melalui banyaknya korban itulah tercipta kesan bahwa perubahan terjadi secara alamiah, seolah-olah menjadi kehendak zaman atau bahkan sunnatullah. Padahal, tidak sedikit kegaduhan sosial dan politik yang sesungguhnya merupakan hasil rekayasa manusia yang menghalalkan segala cara demi tujuan kekuasaan.

Setidaknya, dalam dua pekan terakhir Mei 2026, serangan dan teror terhadap media sosial berbasis internet terasa semakin gencar dan agresif. Bahkan, pergantian nomor kontak menjadi langkah terpaksa untuk menghindari tekanan yang terus datang. Di saat yang sama, intimidasi berjalan beriringan dengan tawaran-tawaran menggiurkan yang sengaja disodorkan untuk melemahkan sikap dan keyakinan.

Karena itu, keteguhan sikap dan kekuatan idealisme menjadi taruhan utama. Sebab tidak semua ancaman datang dengan wajah marah; sebagian hadir justru melalui rayuan, fasilitas, dan janji yang tampak menguntungkan.

**Serpong, 18 Mei 2026**

Tinggalkan Balasan