JAKARTA, TELUSUR.ID – Perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 kini sudah di depan mata. Forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut direncanakan bakal berlangsung pada bulan Agustus tahun ini, memicu berbagai spekulasi terkait lokasi pelaksanaannya.
Sebelum memasuki agenda puncak, rangkaian acara akan dimulai dengan Konferensi Besar (Konbes) NU dan Silaturahmi Alim Ulama yang dijadwalkan berlangsung di Surabaya pada April ini. Meski demikian, hingga saat ini PBNU belum memutuskan secara resmi siapa yang akan menjadi tuan rumah Muktamar ke-35.
Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Koordinator Nasional Poros Muda NU, Ramadhan Isa. Pria yang akrab disapa Dhani tersebut menilai bahwa Jawa Timur merupakan kandidat yang paling siap untuk menyelenggarakan perhelatan akbar kaum Nahdliyin tersebut.
Dhani menegaskan, salah satu alasan fundamental mengapa Jawa Timur layak menjadi tuan rumah adalah adanya “Khofifah Effect”. Sosok Khofifah Indar Parawansa dinilai memiliki magnet dan kapasitas manajerial yang luar biasa dalam mengawal agenda-agenda besar NU di wilayahnya.
“Saya kira Jawa Timur yang paling siap untuk menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35 karena faktor Khofifah. Beliau bukan sekadar Gubernur, tapi juga tokoh NU senior yang punya komitmen, basis massa, dan leadership kuat,” ujar Dhani saat memberikan keterangan tertulisnya kepada Telusur.id di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Rekam jejak Khofifah dalam menyelenggarakan acara berskala masif menjadi bukti nyata. Selama menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur, Khofifah terbukti sukses mengorkestrasi sejumlah perhelatan besar yang melibatkan jutaan massa dengan tertib dan lancar.
Dhani mencontohkan kesuksesan Peringatan Satu Abad NU versi Hijriyah yang digelar di Stadion Delta Sidoarjo pada 7 Februari 2023 lalu. Acara tersebut menjadi tonggak sejarah baru bagi NU dengan mobilisasi massa yang luar biasa besar namun tetap kondusif.
Keberhasilan berlanjut pada pelaksanaan Kongres Muslimat NU ke-18 di Surabaya pada Februari 2025. Teranyar, Jawa Timur juga sukses menggelar Mujahadah Kubro 1 Abad NU di Stadion Gajayana Malang pada 7-8 Februari 2026 yang dihadiri langsung oleh Presiden RI, Prabowo Subianto.
“Acara di Malang tersebut diikuti sekitar 150.000 Nahdliyin. Ini menunjukkan bahwa infrastruktur dan koordinasi di Jawa Timur sudah sangat matang untuk level nasional maupun internasional,” lanjut Dhani yang juga merupakan aktivis ’98 ini.
Tidak hanya di Jawa Timur, pengaruh Khofifah juga terasa hingga ke ibu kota. Dhani mengingatkan kembali suksesnya Harlah Muslimat NU ke-78 di Gelora Bung Karno pada Januari 2024 yang dihadiri 200 ribu anggota Muslimat NU sebagai bukti tangan dingin sang Ketua Umum Muslimat tersebut.
Lebih lanjut, alumni santri Daarul Rahman Jakarta ini menyebut Jawa Timur adalah “punjer” atau pusat gravitasi dari Nahdlatul Ulama. Sejarah mencatat bahwa NU lahir dan tumbuh besar di Bumi Majapahit tersebut dengan dukungan para ulama kharismatik.
Jawa Timur menyimpan nilai historis yang tak ternilai bagi organisasi, mengingat banyaknya pondok pesantren bersejarah dan keberadaan makam para muassis (pendiri) NU yang tersebar di berbagai daerah di sana.
Atas pertimbangan tersebut, Poros Muda NU mengusulkan konsep “Tuan Rumah Bersama” di Jawa Timur. Konsep ini melibatkan kolaborasi antar daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, Bangkalan, Jombang, Kediri Raya, hingga Situbondo untuk membagi beban penyelenggaraan.
“Jadi tuan rumah besarnya adalah Jawa Timur, melibatkan kabupaten dan kota yang punya ikatan sejarah kuat. Termasuk pondok pesantren yang diasuh kiai-kiai khos dan keluarga pendiri NU,” pungkas mantan Sekretaris PC Ansor Jakarta Utara itu menutup pembicaraan.



