Hadapi Tantangan Global, Guru Didorong Perkuat Nalar Siswa Melalui Matematika

0
51 views
Bagikan :

MAMUJU, TELUSUR.ID – Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Sulawesi Barat, Sutikno, mengeluarkan peringatan penting mengenai kesiapan generasi muda Indonesia dalam menghadapi persaingan global yang kian ketat.

Ia menekankan bahwa guru, khususnya di Mamuju, harus berani mendobrak tradisi hafalan rutin dan mulai fokus pada pengembangan kemampuan bernalar siswa secara mendalam.

Menurut Sutikno, kemampuan bernalar bukan sekadar kecakapan akademis, melainkan kompetensi dasar yang diakui secara internasional. Tanpa kemampuan ini, “Generasi Emas” Indonesia dikhawatirkan hanya akan menjadi penonton di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan arus informasi dunia yang sangat dinamis.

“Anak-anak Indonesia harus memiliki daya nalar yang kuat agar mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain. Tugas utama guru kelas di tingkat sekolah dasar adalah memastikan fondasi nalar ini terbangun melalui pengajaran matematika dan literasi membaca yang tepat,” ujar Sutikno di MAN 1 Kabupaten Mamuju, Kamis (5/3/2026) dikutip Telusur.id.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembukaan Pelatihan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka). Agenda strategis yang berlangsung intensif pada 2-7 Maret 2026 ini bertujuan membekali para pendidik dengan senjata pedagogi yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Sebanyak 50 guru dari jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) terlibat aktif dalam kegiatan ini. Dukungan penuh mengalir dari berbagai lini, mulai dari Dinas Pendidikan Mamuju, Kanwil Kemenag Sulbar, hingga Bank Indonesia perwakilan Sulawesi Barat dan Anggota DPR RI, H. Muhammad Zulfikar Suhardi.

Sutikno menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar guru saat ini adalah bagaimana mengubah persepsi matematika dari sekadar angka menjadi alat bantu berpikir. Ia menegaskan bahwa pendekatan yang spesifik dan benar adalah kunci utama dalam mentransformasi cara pikir siswa di kelas.

Di level dasar, Sutikno sangat merekomendasikan metode Konkret-Gambar-Abstrak. Metode ini dianggap paling efektif untuk membangun logika anak secara bertahap. “Siswa tidak bisa dipaksa memahami konsep abstrak secara instan; nalar mereka harus dipancing melalui objek nyata sebelum masuk ke dunia simbol,” jelasnya.

Senada dengan itu, narasumber dari Yayasan Penggerak Indonesia Cerdas, Dhitta Puti Sarasvati, menyoroti bahwa antusiasme guru adalah motor penggerak perubahan. Menurutnya, kegairahan guru dalam mendalami matematika secara benar akan menular pada motivasi siswa untuk belajar dengan cara yang lebih menyenangkan dan logis.

“Jika guru mampu menyajikan matematika dengan metode yang benar, siswa akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara logika. Hal ini sangat penting karena dunia saat ini tidak lagi mencari penghafal, melainkan pencari solusi atau problem solver,” ungkap Dhitta.

Dhitta juga memberikan refleksi kritis terhadap kondisi ruang kelas di tanah air. Ia mencermati masih banyak praktik pengajaran matematika yang justru tidak mencerminkan prinsip-prinsip belajar matematika yang substansial, sehingga potensi nalar kritis siswa sering kali tumpul di tengah jalan.

Melalui pelatihan intensif ini, para guru dibekali prinsip-prinsip pembelajaran yang membuat kelas matematika menjadi lebih hidup. Tujuannya jelas: membentuk siswa yang mampu berpikir kritis, logis, sistematis, serta memiliki kemampuan analisis yang tajam dalam memecahkan berbagai persoalan kompleks.

Sebagai penutup, putri ekonom Rizal Ramli ini mengingatkan bahwa kemampuan bernalar adalah tiket utama agar siswa Indonesia tidak tertinggal jauh dari negara-negara maju. “Tanpa kemampuan nalar yang kompetitif, anak-anak kita akan sulit mengejar ketertinggalan global. Inilah saatnya kita berbenah demi masa depan bangsa,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan