JOMBANG, TelusuR.id – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026, wacana mengenai figur yang layak memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menguat. Tokoh Nahdliyin asal Jombang, H. Ahmad Silahuddin atau Gus Adi, menilai NU membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan seluruh elemen organisasi sekaligus menjaga marwah jam’iyah.
Gus Adi, yang merupakan cucu salah satu pendiri NU, KH Wahab Chasbullah, mengatakan kepemimpinan PBNU pada periode mendatang akan menentukan arah organisasi memasuki abad kedua. Karena itu, menurut dia, figur ketua umum harus mampu meredam perbedaan di internal sekaligus mengembalikan fokus organisasi pada pelayanan umat.
“Kriteria pemimpin ideal yang kita cari pertama-tama adalah figur pemersatu. Sosok ini harus mampu merangkul berbagai elemen di akar rumput, menghilangkan friksi atau konflik internal yang sempat ada, dan yang paling penting adalah menjaga marwah organisasi dari tarikan kepentingan politik praktis,” kata Gus Adi kepada TelusuR.id, Sabtu (11/7/2026).
Menurut mantan Anggota DPRD Jawa Timur periode 2014-2024 itu, kepemimpinan NU tidak cukup hanya ditopang kemampuan manajerial organisasi. Seorang pemimpin juga harus memiliki akhlak, kedalaman ilmu agama, serta kedekatan dengan warga Nahdliyin dan pesantren.
“Pemimpin ke depan harus berakhlak dan mengayomi. Artinya, beliau harus dekat dengan umat, memiliki kedalaman ilmu agama yang tidak diragukan lagi, serta senantiasa menempatkan kepentingan pesantren dan jamaah di atas segalanya,” ujarnya.
Gus Adi menegaskan, nilai-nilai yang diwariskan para muassis NU, seperti sikap tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), penghormatan kepada kiai sepuh, serta pengabdian kepada umat, harus tetap menjadi fondasi kepemimpinan PBNU. Sebagai keluarga pendiri NU, ia memandang nilai-nilai tersebut menjadi identitas yang tidak boleh ditinggalkan dalam menghadapi tantangan zaman.
Selain aspek kepemimpinan, ia berharap kepengurusan hasil Muktamar ke-35 mampu menghadirkan program yang memberi dampak nyata bagi warga Nahdliyin. Menurut dia, pemberdayaan ekonomi, penguatan pendidikan pesantren, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat harus menjadi prioritas organisasi.
“Fokusnya harus kembali pada umat. Pemimpin baru wajib mengutamakan program pemberdayaan ekonomi warga, penguatan sistem pendidikan di lingkungan pesantren, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat Nahdliyin secara riil,” katanya.
Saat ditanya mengenai sosok yang dinilai memenuhi kriteria tersebut, Gus Adi menyebut Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., sebagai figur yang memiliki kapasitas memimpin PBNU.
Ia menilai Nasaruddin Umar memiliki rekam jejak keilmuan yang kuat, pengalaman panjang dalam pemerintahan, serta kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai kalangan.
“Beliau dipercaya oleh Presiden Prabowo. Secara keilmuan juga sangat mumpuni dan alim. Ia ditokohkan secara nasional dan terbukti mempunyai pengalaman dalam mengelola umat maupun birokrasi,” ujar Gus Adi.
Menurut dia, karakter moderat, toleran, dan penghormatan kepada kiai sepuh menjadi modal penting bagi kepemimpinan NU ke depan.
“Beliau adalah figur yang sangat moderat, toleran, dan memiliki rasa taat serta tawadhu kepada kiai sepuh. Karakter seperti inilah yang dibutuhkan untuk membawa NU menyongsong masa depan,” tuturnya.
Muktamar ke-35 NU di Tambakberas diproyeksikan menjadi forum strategis yang tidak hanya memilih kepengurusan baru, tetapi juga menentukan arah organisasi dalam menjawab tantangan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebangsaan pada masa mendatang.(FRB)



