Hadir di Tengah Khidmat Muktamar ke-35 NU, Lita Machfud Arifin Pilih Menyimak dan Menjaga Silaturahmi Kebangsaan

Bagikan :

JOMBANG,TelusuR.ID — Di tengah riuh ribuan muktamirin yang memadati kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026), Lita Machfud Arifin, S.H., memilih berada di antara mereka.

Tak banyak panggung. Tak ada pidato politik. Anggota DPR RI periode 2024-2029 dari Fraksi Partai NasDem itu hadir dalam pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), menyimak jalannya salah satu forum terbesar organisasi keagamaan tersebut.

Kehadirannya berlangsung dalam suasana yang kental dengan tradisi pesantren. Ulama, pengasuh pondok pesantren, pengurus NU, tokoh nasional hingga warga Nahdliyin dari berbagai daerah berkumpul di Jombang.

Bagi Lita, kehadiran di tengah forum seperti itu bukan semata agenda seremonial.

Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Jawa Timur I, ia datang ke ruang yang mempertemukan banyak suara masyarakat—terutama dari kalangan pesantren dan warga Nahdliyin yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan sosial Jawa Timur.

Di tengah politik yang kerap identik dengan perebutan pengaruh dan panggung kekuasaan, kehadiran seorang politisi di forum keulamaan justru menghadirkan pesan yang lebih sederhana.

Ada kalanya politik tidak perlu banyak bicara. Cukup hadir, menghormati, dan mendengarkan.

Ribuan Orang, Satu Ruang Perjumpaan

Jombang menjadi titik temu warga Nahdliyin dari berbagai penjuru Indonesia dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.

Kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas tidak hanya menjadi lokasi kegiatan organisasi. Tempat itu sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi pesantren, kehidupan keagamaan dan dinamika kebangsaan bertemu dalam satu ruang.

Ribuan muktamirin datang membawa agenda masing-masing. Ada yang berbicara tentang masa depan organisasi, ada yang membawa aspirasi dari daerah, dan ada pula yang sekadar ingin menyaksikan langsung momentum penting dalam perjalanan NU.

Di antara kerumunan itu, Lita mengikuti pembukaan Muktamar dengan sikap khidmat.

Tidak berlebihan, tetapi juga tidak sekadar formalitas.

Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat denyut kehidupan organisasi yang selama puluhan tahun tumbuh bersama masyarakat.

Sebab NU tidak berhenti pada struktur organisasi dan forum-forum resmi. Kehidupan NU dapat ditemukan di pesantren, madrasah, sekolah, majelis taklim, kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga berbagai aktivitas kemanusiaan di tengah masyarakat.

Karena itu, pembahasan dalam Muktamar pada akhirnya tidak hanya menyangkut urusan internal organisasi.

Di balik forum tersebut terdapat pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana tradisi keumatan dan khidmah sosial tetap relevan menghadapi perubahan zaman dan persoalan masyarakat yang semakin kompleks.

Ketika Wakil Rakyat Memilih Mendengar

Bagi seorang anggota parlemen, mendengar masyarakat tidak selalu harus dilakukan melalui forum resmi.

Ada suara yang hanya muncul ketika seseorang duduk bersama masyarakat. Ada keresahan yang lebih mudah dipahami ketika disampaikan secara langsung. Dan ada harapan yang tidak selalu tercermin dalam angka statistik maupun laporan tertulis.

Muktamar NU menjadi salah satu ruang perjumpaan semacam itu.

Berada di lingkungan ulama, pesantren dan warga Nahdliyin memungkinkan seorang wakil rakyat melihat persoalan masyarakat dari jarak yang lebih dekat.

Terlebih, Lita merupakan anggota DPR RI yang mewakili Jawa Timur I. Daerah pemilihan tersebut memiliki karakter masyarakat yang kuat dengan tradisi pesantren dan kehidupan keagamaan.

Karena itu, menjaga komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat menjadi bagian penting dari upaya memahami aspirasi yang berkembang di daerah pemilihan.

Di titik inilah politik dan khidmah tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling berjarak.

Politik dapat menjadi ruang memperjuangkan kepentingan masyarakat. Sementara silaturahmi menjadi jembatan agar seorang wakil rakyat tidak kehilangan kontak dengan realitas kehidupan orang-orang yang diwakilinya.

Kehadiran Lita di Muktamar menjadi gambaran sederhana dari hubungan tersebut.

Datang bukan untuk mengambil panggung, melainkan untuk menghormati forum dan membuka ruang perjumpaan.

Merawat Silaturahmi di Tengah Perbedaan

Muktamar NU juga membawa pesan yang lebih luas tentang kehidupan kebangsaan.

Indonesia dibangun dari banyak kelompok, tradisi, pandangan dan latar belakang. Perbedaan itu tidak selalu mudah dikelola. Namun sejarah menunjukkan bahwa bangsa ini memiliki tradisi panjang dalam merawat persatuan melalui perjumpaan.

Pesantren menjadi salah satu ruang penting dalam tradisi tersebut.

Di sana, pendidikan keagamaan berjalan beriringan dengan pembentukan karakter, kehidupan sosial dan nilai kebangsaan.

Karena itu, menjaga hubungan baik dengan kalangan pesantren dan organisasi kemasyarakatan seperti NU bukan sekadar kepentingan politik jangka pendek.

Lebih dari itu, ia merupakan bagian dari upaya menjaga komunikasi antara berbagai elemen bangsa.

Bagi seorang wakil rakyat, hubungan semacam itu penting agar politik tidak berhenti di gedung parlemen.

Sebab suara masyarakat tidak hanya lahir dalam ruang sidang. Ia juga tumbuh dari pesantren, kampung, pasar, komunitas, dan berbagai ruang kehidupan sehari-hari.

Dari Jombang, Sebuah Pesan Sederhana

Muktamar ke-35 NU pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang datang atau keputusan organisasi apa yang akan dihasilkan.

Ada sesuatu yang lebih sederhana tetapi tidak kalah penting: perjumpaan.

Ulama bertemu warga. Pengurus organisasi bertemu masyarakat. Tokoh bangsa bertemu pesantren. Dan para wakil rakyat kembali menyapa masyarakat yang mereka wakili.

Dalam ruang seperti itulah silaturahmi kebangsaan menemukan maknanya.

Kehadiran Lita Machfud Arifin dalam pembukaan Muktamar menjadi bagian kecil dari perjumpaan tersebut.

Tanpa perlu menjadikan forum keulamaan sebagai panggung politik, ia memilih hadir, mengikuti suasana, menyimak dan menjaga hubungan baik.

Sebab dalam politik yang sering dipenuhi perdebatan, terkadang ada pesan yang justru lebih kuat ketika disampaikan tanpa banyak kata.

Khidmah bisa dimulai dari hal sederhana: hadir, menghormati, mendengarkan, lalu pulang membawa suara masyarakat.

Dari Jombang, pesan itu terasa sederhana. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat silaturahmi kebangsaan tetap penting dirawat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version