TelusuR.ID

Home Berita Silaturahmi ke Ponpes BIMA Cirebon, Gus Kikin Dinilai Layak Pimpin PBNU di...

Silaturahmi ke Ponpes BIMA Cirebon, Gus Kikin Dinilai Layak Pimpin PBNU di Abad Kedua

0
5 views
Bagikan :

CIREBON, TelusuR.id – Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon, KH Imam Jazuli, Lc., MA, mengaku sangat bersyukur dan berbahagia atas kunjungan silaturahmi KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin ke pesantren yang diasuhnya. Kehadiran cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari tersebut dinilai menjadi momentum berharga untuk mempererat tali ukhuwah sekaligus berdiskusi mendalam mengenai masa depan Nahdlatul Ulama (NU).

Selanjutnya, dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, kedua tokoh ulama ini secara khusus membahas berbagai dinamika internal NU menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35. Menurut KH Imam Jazuli, salah satu agenda paling krusial yang perlu terus digaungkan pada awal abad kedua NU saat ini adalah mengembalikan ruh gerakan organisasi kepada nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para muassis (pendiri).

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa komitmen mengembalikan khittah organisasi tersebut dapat dilakukan dengan cara menghidupkan kembali Qanun Asasi NU serta Muqaddimah Qanun Asasi sebagai landasan bergerak. Poin ini menjadi perhatian serius dari kedua pengasuh pesantren tersebut agar arah gerak jam’iyah tidak melenceng dari jalur spiritualitasnya.

“Kami berdiskusi cukup panjang tentang pentingnya kembali kepada Qanun Asasi NU. Semua pengurus, mulai tingkat ranting hingga PBNU, harus benar-benar menghayati dan mengimplementasikan nilai-nilai tersebut agar berbagai kegaduhan belakangan ini tidak perlu muncul,” ujar KH Imam Jazuli saat menerima kunjungan Gus Kikin di Pesantren BIMA, Cirebon, seperti dikutip dari keterangan resminya pada Minggu (12/7/2026).

Oleh karena itu, alumni Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir tersebut menilai bahwa Qanun Asasi bukan sekadar dokumen historis organisasi yang pasif. Sebaliknya, dokumen fundamental tersebut merupakan pedoman moral, etika, dan arah perjuangan yang harus menjadi landasan utama dari setiap kebijakan serta gerakan Nahdlatul Ulama.

Di sisi lain, abad kedua NU dinilai harus ditandai dengan gerakan masif untuk kembali menjadikan dokumen bersejarah tersebut sebagai kompas moral bersama bagi seluruh warga Nahdliyin. Dari kesadaran itulah, NU diyakini akan tetap kokoh dalam menjaga tradisi keilmuan serta orientasi pengabdiannya yang tulus kepada umat dan bangsa.

Tidak hanya itu, kedua tokoh pesantren ini juga menyoroti pentingnya memperkuat soliditas internal organisasi di tengah beragam dinamika politik yang berkembang menjelang Muktamar. KH Imam Jazuli menilai bahwa NU membutuhkan suntikan semangat baru untuk bisa melangkah bersama, meninggalkan sekat-sekat kelompok, dan membangun kolaborasi yang jauh lebih luas.

Bahkan, ia menambahkan bahwa kebesaran NU tidak akan pernah ditentukan hanya oleh dominasi satu atau dua figur semata, melainkan oleh kekuatan kolektif seluruh elemen pengurus dan warganya. Oleh sebab itu, semangat untuk saling bergandengan tangan dan bahu-membahu harus ditumbuhkan kembali menjadi budaya organisasi di semua tingkatan.

Sementara itu, KH Imam Jazuli juga memandang keberadaan berbagai kelompok dan perbedaan pandangan di tubuh NU sebagai suatu hal yang wajar dalam koridor demokrasi. Namun demikian, ia mengingatkan agar dinamika dan perbedaan tersebut jangan sampai menjadi tembok penghalang bagi terwujudnya persatuan dan kerja bersama.

Lantas, dalam konteks menyongsong kepemimpinan baru, KH Imam Jazuli secara terbuka menilai Gus Kikin sebagai salah satu figur potensial yang memiliki modal sangat kuat untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ke depan. Penilaian obyektif tersebut disampaikan setelah mencermati rekam jejak Gus Kikin yang kini menjabat sebagai Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

Menurut pandangannya, NU saat ini sangat membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya memiliki legitimasi keilmuan dan moral yang kuat, melainkan juga memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan strategis. Semua kriteria kepemimpinan yang ideal dan transformatif tersebut dinilai telah melekat dengan baik pada diri Gus Kikin.

Selain itu, Gus Kikin diakui memiliki kedekatan historis yang luar biasa dengan Nahdlatul Ulama sebagai keturunan langsung dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Walakin, KH Imam Jazuli menegaskan bahwa faktor nasab tersebut merupakan sebuah amanah besar yang harus dibarengi dengan bukti rekam jejak kepemimpinan yang nyata di lapangan.

Rekam jejak kepemimpinan nyata itu sendiri telah dibuktikan oleh Gus Kikin melalui kapasitasnya dalam memimpin Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, yang dikenal sebagai salah satu poros utama lahirnya para ulama bangsa. Pengalaman manajerial dan spiritual dalam mengasuh ribuan santri di sana menjadi bukti otentik atas kapasitas kepemimpinannya yang matang.

Ditambah lagi, rekam jejak Gus Kikin sebagai nakhoda PWNU Jawa Timur menjadi nilai tambahnya yang sangat diperhitungkan karena wilayah tersebut merupakan barometer terbesar NU di Indonesia. Pengalaman mengonsolidasikan basis massa yang masif di Jawa Timur dinilai menjadi bekal berharga jika kelak ia diberi amanah untuk memimpin di tingkat nasional atau PBNU.

Di samping itu, faktor kemandirian ekonomi yang dimiliki oleh Gus Kikin juga dinilai menjadi aspek krusial untuk menjaga independensi ormas Islam terbesar ini ke depan. Pemimpin yang mandiri secara ekonomi diyakini akan lebih leluasa dalam mengambil keputusan yang murni demi kemaslahatan umat tanpa terpengaruh oleh kepentingan transaksional.

Sebagai penutup keterangannya, KH Imam Jazuli mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama untuk menyambut gelaran Muktamar ke-35 dengan penuh rasa persaudaraan. Ia berharap momentum permusyawaratan tertinggi yang akan segera digelar ini menjadi titik berangkat yang solid menuju kejayaan dan kebangkitan NU di abad kedua perjalanan organisasinya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here