Jacob Ereste : Intelektualitas Harus Dijaga dan Dibimbing Oleh Spiritualitas

0
1 views
Bagikan :

Jacob Ereste :
Intelektualitas Harus Dijaga dan Dibimbing Oleh Spiritualitas

TelusuR.ID – Orang pintar yang tidak jujur, justru lebih berbahaya bagi siapapun. Sebab dia bisa menggunakan kepintarannya untuk melakukan apa saja dengan cara yang cerdik dan culas, sehingga sulit diduga dan diprediksi sebelumnya, sehingga sekonyong-konyong banyak orang baru menyadari telah menjadi mangsa atau hewan kurban yang dua tumvalkan. Dalam konteks inilah kecerdasan dan kemampuan spiritual sangat diperlukan, bukan hanya untuk tidak melakukan tindakan yang culas seperti yang dilakukan oleh orang yang berilmu namun tidak bermoral itu. Karena hanya dalam kecerdasan dan kemampuan spiritual yang mumpuni sikap dan sifat culas yang tidak bermoral itu dapat dihindari. Karena dalam kecerdasan dan kemampuan spiritual itu dioersyaratkan juga adanya etika yang berbasis pada budaya rasa malu, takut akan dosa dan karma yang mengikat etika sangat kuat bertaut dengan moral dalam satu bungkai akhlak mulia nanusia yang beradab.

Oleh karena itu, mereja yang berilmu namun tidak memiliki etika dan moral yang terikat dalam satu simpul akhlak mulia manusia sungguh tidak beradab. Dan tidak layak diberi tempat — sekedar untuk mendekat pada diri kita, apalagi hendak dijadikan fartner dalam bentuk pekerjaan apapun. Sebab potensi untuk melakukan pengkhianatan sangat besar menggumpal dalam benak dan hatinya yang sudah membusuk.

Padanan langsung dari orang pintar yang tidak beretika dan tidak bermoral ini, bisa disandingkan dengan orang bodoh namun memiliki tata etika dan moral yang baik, jelas layak untuk diberi tempat yang lapang berada di sekitar kita. Sebab dengan begitu, peluang untuk saling asah, asih dan asuh sangat mungkin untuk dilakukan, setidaknya bagi kita yang ingin mendapat kesejukan hati dalam menata etika yang baik, mengukuhkan moralitas agar dapat semali kuat dan tegar menghadapi cobaan dan godaan dari syaitan yang berkeliaran disekitar kita.

Corak ragam dari pengkhianatan intelektual agaknya sudah cukup banyak terjadi dan dapat dijadikan contoh, bahwa potensi pengkhianatan itu tampaknya memang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki ilmu dan pengetahuan lebih, namun minim tata etika dan bobot moral yang memadai, atau bahkan memang sama sekali diabaikan. Sebab yang penting bagi mereka adalah hasil, bukan proses dari cara menghasilkan sesuatu itu sendiri yang lebih bernilai dan mempunyai arti dalan hidup dan kehidupan yang sesungguhnya.

Karena itu, kecerdasan dan kemampuan spiritual tidak lebih mementingkan dari apa yang akan dihasilkan dari laku spiritual. Sebab yang lebih utama dan esensial sifatnya adalah proses dari perjalanan spiritual itu yang dijalani secara bertahap, seperti mendaki ke puncak gunung untuk menyaksikan pemandangan yang indah. Padahal, di sepanjang perjalanan pendakian itu sendiri sesungguhnya memiliki keasyikan dan keindahan tersendiri yang tidak kalah menakjubkan. Maka itu dalam proses pendakian ke puncak spiritual yang paling mengasyikkan adalah tahapan dari pendakian itu sendiri yang memiliki ragam narasi untuk disimak dan diceritahan sebagai pengalaman hidup yang mungkin tidak sabar dirasakan oleh orang lain yang melakukan perjalanan bersama mencapai puncak pendakian spiritual.

Itulah sebabnya bagi para pendaki gunung kesehatan jasmani dan rohani menjadi syarat yang tidak bisa ditawar-tawar otentisitas dan keseimbangannya, agar secara mental — yang lebih bersifat material — dapat sepadan serta seimbang dengan kesiaoan spiritual. Dalam semboyan tata negara dan bangsa Indonesia — yang sarat dengan muatan spiritual — dapat ditilik mulai dari semboyan yang menyatakan bahwa semangat dalam pembangunan yang harus dilakukan adalah meliputi jiwa dan raga atau sebaliknya. Tapi dengan menempatkan pilihan pada jiwa — cari kemudian raga — sesungguhnya mengekspresikan dari nilai-nilai spiritual yang lebih utama dari nilai-nilai yang bisa disebut dalam katagori material.

Oleh karena itu, upaya membangun budaya (etika dan moral) yang dijabarkan dalam pendidikan, patut mendapat prioritas lebih besar — dalam kalkulasi apapun — dibanding dengan pembangunan infrastruktur yang cuma sekedar untuk meningkatkan taraf ekonomi agar dapat lebih baik. Meski begitu, toh masalah ekonomi pun tidak bisa diabaikan begitu saja untuk mendapat perhatian.

Artinya, orientasi hidup dan kehidupan manusia yang sejati tidak pantas untuk mengedepankan hal-hal yang bersifat material dibanding spiritual. Sebab hanya dengan cara pandang dan sikap semacam itu manusia Indonesia dapat terhindar dari pola hidup materialistik, konsumtif, dan kapitalistik yang cuma menjadi perangsang birahi keserakahan, kemaruk, culas, egoistik dan tidak tahu duri untuk menggagahi hak orang lain.

Fenomena korupsi yang terkesan telah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia sungguh memprihatinkan. Dan untuk menekan pola hidup ingin cepat kaya melalui jakan pintas harus menjadi kesadaran bersama untuk segera dapat ditinggalkan. Sebab hanya dengan begitu, beragam bentuk manipulasi dan pengkhianatan — utamanya oleh kalangan intelektual yang tidak beretika dan tidak bermoral — harus dihadapi bersama dengan kecerdasan dan kemampuan spiritual sebagai jalan terbaik unuk menegakkan pilar etika dan moral yang kuat terikat dalam akhlak mulia manusia yang dapat terjaga dan dijaga.

 

Banten, 27 Maret 2026

Tinggalkan Balasan