Jacob Ereste : Perbedaan Awal Puasa Pada Bulan Ramadhan Menandai Makna Yang Penting Dari Nilai-nilai Spiritual Untuk Dimiliki Manusia

0
7 views
Bagikan :

Jacob Ereste :

Perbedaan Awal Puasa Pada Bulan Ramadhan Menandai Makna Yang Penting Dari Nilai-nilai Spiritual Untuk Dimiliki Manusia

TelusuR.ID – Perbedaan memasuki puasa pada bulan ramadhan bagi umat Islam tahun ini — 1477 Hijriyah atau tahun 2026 Masehi — tidak lagi untuk dipersoalkan, karena umat Islam sudah memahaminya sebagai ekspresi yang serius dalam menyambut bulan suci ramdhan yang sangat penting dan wajib dilakukan dengan cara yang terbaik dan tepat, sehingga perbedaan pendapat itu tidak4 lagi perlu memecah kesatuan dan persatuan umat Islam yang percaya sebagai penerima karunia rahmatan lil alamin. Sebab yang terpenting dari ketaatan menunaikan rukun Islam adalah untuk mendapatkan keridaan Allah SWT bagi manusia dalam berbuat baik — tidak hanya untuk dirinya sendiri — tapi juga tak kalah penting untuk orang lain. Katena itu, dalam menjalankan ibadhah puasa pada bulan ramadhan semua umat Islam yang mampu senang nembantu dan menberi untul orang lain, tanpa pilih kasih bagi tergadap mereka yang dianggap memerlukan bantuan itu.

Begitulah puasa ranadhan yang menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk dijalankan sebulan penuh, tanpa perlu ditawar-tawar untuk ditaati sebagai perintah dari langit yang memili dimensi spitual, psikologis, biologis dan nilai-nilai sosial, termasuk bagi mereka yang melakujan penetapan waktu yang patut diikuti oleh masing-masing umat seduai dengan kejakinannya untuk memulai ibadhah puasa pada hari Rabu atau esok hari Kamis, 19 Februari 2026 tahun ini. Stau tahun 1477 Hijriyah. Setidaknya dalam kebersamaan puasa pada bulan ramadhan bagi umat UU slam di Indonesia sekarang dapat dipagami dan disadari sebagai upata menciptakan sinkronisasi spiritual bersama, agar etika, moral dan akhlak mulia manusia tetap terjaga sebagai fitrah anugrah Allah yang menempatkan manusia sebadai khalifatullah di bumi.

Karena itu waktu kemasuki puasa pada bulan ramadhan yang berbeda sampai hari ini di Indonesia — Rabu dan Kamis — dapat dipastikan bila satu diantaranya asalah yang paling mendekati kebenaran berdasarkan perhitungan hisaf atas dasar perhitungan aritmatika untuk menentukan awal bulan ramadhan sebagai patokan untuk menjalankan ibadhah puasa.

Jika sistem hisaf yang merujuk pada perhitungan astronomis — tidak hanya sekedar mengintip keberadaan bulan di langit — untuk memastikan posisi bulan dan matahari, sehingga dapat menentukan kepastian dimulainya puasa pada bulan ramadhan yang tepat.

Metode hisaf yang menggunakan perhitungan matematis dan astronomi ini untuk memastikan visibilitas hilal — bulan sabit — berada di ufuk Barat. Hingga dapat menentukan waktu memasuki bulan ramadhan yang menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk menjakakan puasa selama satu bulan penuh untuk kemudian menasuki Hari Raya Idhul Fitri.

Perbedaan dalam memulai puasa pada bulan ramadhan bagi umat Islam di Indonesia sekarang ini tidak lagi merasa perlu untuk digunjingkan dan menjadi topik yang heboh. Tetapi seiarang, perbedaan waktu memasuki bulan ramadhan yang berbeda itu dapat dipahami sebagai bentuk ku keseriusan umat Islam menyambut bulan ramadhan yang penuh berkah ini sebagai ritual keagamaan yang sangat penting. Kareba umat Islam di Indonedia sekarang dapat memahami perbedaan perhitungan tersebut sebagai sesuatu yang manusawi, sehingga tidak perlu menimbulkan kegaduhan atau pertentangan — apalagi sampai menimbulkan perpecahan yang tidak perlu — karena akan dimanfaatkan oleh pihak lain yang tidak suka — arau bahkan takut — bila umat Islam bersatu dan kompak, tiada lagi bisa diadu domba seperti yang sudah-sudah.

Apalagi untuk menentukan waktu puasa wajib pada bulan ramadhan bagi umat Islam bisa merujuk pada ruhlah — pengamatan hilal, hisaf — perhitungan astronomi — dan rujukan kalender Hijriyah. Jadi, perbedaan dalam memasuki puasa pada bulan ramadhan di Indonesia adalah bentuk dari keinginan mengagungkan muatan nilai puasa yang sakral, sarat muatan nilai-nilai spiritual yang sangat diperlukan oleh seluruh umat manusia untuk meningkatkan religiusitas jati diri yang utuh dan berkepribadian. Tidak korup dan tidak khianat.

 

 

Banten, 18 Februari 2026

Tinggalkan Balasan