TelusuR.ID

Home Berita Beri Sinyal Maju Lagi di Muktamar NU ke-35, Gus Yahya Sowan ke...

Beri Sinyal Maju Lagi di Muktamar NU ke-35, Gus Yahya Sowan ke Ponpes Tambakberas Jombang

0
14 views
Bagikan :

JOMBANG, TelusuR.id – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, memberi sinyal kuat mengenai kesediaannya untuk kembali maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 mendatang. Langkah politik ini diambil oleh orang nomor satu di PBNU tersebut demi menuntaskan sejumlah agenda strategis organisasi yang dinilai belum sepenuhnya rampung.

Selanjutnya, sikap dan kesiapan tersebut didasarkannya secara kuat pada keinginan untuk menyelesaikan sejumlah program yang menurutnya masih berjalan selama masa kepemimpinannya saat ini. Gus Yahya merasa memiliki tanggung jawab besar agar seluruh visi yang dicanangkan sejak awal dapat terealisasi secara paripurna.

Adapun pernyataan penting itu disampaikan langsung oleh Gus Yahya saat memberikan keterangan media usai bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, pada Minggu (12/7/2026). Kunjungan ke ndalem kesepuhan pesantren bersejarah tersebut juga dilakukan dalam rangka persiapan menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35.

Saat menanggapi pertanyaan mengenai peluang kembali mencalonkan diri, Gus Yahya kemudian menegaskan bahwa keputusan yang diambil bukan dilandasi oleh ambisi pribadi untuk mempertahankan jabatan. Sebaliknya, hal tersebut murni sebagai bentuk rasa tanggung jawab terhadap amanah yang pernah ia sampaikan langsung kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa ketika pertama kali maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada periode ini, dirinya memang membawa sejumlah komitmen besar yang ingin diwujudkan. Namun demikian, dalam perjalanannya tidak semua program kerja tersebut dapat diselesaikan sesuai rencana awal karena munculnya berbagai dinamika eksternal yang berada di luar perkiraan tim pengurus.

“Ada beberapa agenda yang belum dapat saya tuntaskan. Dalam pandangan saya, itu menjadi tanggung jawab yang masih harus diselesaikan apabila memang diberikan kesempatan,” ucap Gus Yahya kepada awak media dikutip Telusur.id.

Oleh karena itu, Gus Yahya menilai situasi global dan domestik yang berkembang pesat membuat sebagian program kerja PBNU harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Akibat penyesuaian tersebut, ia merasa tetap memiliki kewajiban moral yang besar untuk kembali menuntaskan seluruh pekerjaan rumah organisasi yang belum selesai.

Bahkan, ia mengibaratkan komitmen yang belum terlaksana tersebut sebagai sebuah “utang” moral yang wajib dibayar lunas kepada organisasi dan juga kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama. “Kalau seseorang masih memiliki utang, tentu ia berkewajiban melunasinya. Begitu juga yang saya rasakan terhadap amanah yang pernah saya sampaikan kepada warga NU,” katanya dengan nada optimis.

Meski memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan kepemimpinan, Gus Yahya tetap menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai tampuk kepemimpinan PBNU sepenuhnya berada di tangan forum Muktamar. Forum tertinggi tersebut diposisikan sebagai pemegang kedaulatan tertinggi yang sah di dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama.

Sementara itu, jalannya Muktamar NU ke-35 sendiri dipandang sebagai momentum yang sangat krusial karena berlangsung tepat saat Nahdlatul Ulama resmi memasuki abad kedua perjalanan organisasi. Selain memilih kepengurusan baru, forum akbar ini nantinya juga akan menentukan arah kebijakan strategis NU dalam menghadapi tantangan nasional maupun global.

Di sisi lain, kunjungan silaturahmi Gus Yahya ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas disambut hangat oleh Ketua Umum Yayasan, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozak, beserta jajaran pengasuh pondok. Gus Yahya mengaku sangat bersyukur karena keputusan menjadikan pesantren legendaris ini sebagai lokasi Muktamar NU ke-35 akhirnya dapat terwujud nyata.

Menurutnya, penyelenggaraan muktamar di pesantren yang didirikan oleh salah satu tokoh muassis NU, KH Abdul Wahab Hasbullah, memiliki makna spiritual yang jauh lebih besar dibanding sekadar pemilihan lokasi kegiatan. Atmosfer sejarah perjuangan yang melekat kuat di Tambakberas diharapkan mampu membawa keberkahan melimpah bagi jalannya permusyawaratan tertinggi tersebut.

Gus Yahya juga menambahkan bahwa semangat perjuangan dari para pendiri organisasi harus menjadi sumber inspirasi utama dalam merumuskan arah kebijakan NU di masa depan. Langkah ini dinilai penting agar keputusan-keputusan yang lahir nanti mampu memperkuat peran strategis organisasi, baik di tingkat nasional hingga ke panggung internasional.

Lebih lanjut, mantan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini menyebut bahwa perubahan global yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir telah menghadirkan tantangan baru yang sangat kompleks. Dinamika geopolitik internasional disinyalir telah mengubah tatanan kehidupan secara masif, sehingga organisasi keagamaan seperti NU dituntut memiliki cara pandang yang lebih luas dan adaptif.

Gus Yahya bahkan mengibaratkan fenomena perubahan tersebut layaknya situasi pasca-pandemi COVID-19 yang melahirkan kebiasaan serta tatanan baru dalam kehidupan masyarakat dunia. Oleh sebab itu, Muktamar NU di Tambakberas diharapkan tidak hanya menjadi ajang kontestasi figur, melainkan laboratorium rumusan strategis menyongsong masa depan.

Lantas, sebelum menutup keterangan medianya, Gus Yahya berharap seluruh tahapan Muktamar NU ke-35 dapat berlangsung dalam suasana yang teduh, penuh musyawarah, dan mengedepankan persatuan. Ia optimistis nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah akan terus menjadi pijakan utama demi menghasilkan keputusan yang membawa kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here