Stop Baku Gigit, Mari Baku Bantu: TNI dan Warga Kurima Gotong Royong Bangun Rumah di Kampung Polimo

Bagikan :

YAHUKIMO, TelusuR.ID — Di tengah keterbatasan, warga Kampung Polimo, Distrik Kurima, memilih satu cara sederhana untuk menghadapi kesulitan: saling membantu.

Minggu (16/8/2026), halaman rumah milik Boas di Kampung Polimo berubah menjadi ruang gotong royong. Warga bersama personel Satgas Pamtas RI-PNG Kewilayahan Yonif 645/Gardatama Yudha (GTY) Pos Kurima bahu-membahu memperbaiki rumah yang membutuhkan penanganan.

Tak ada sekat antara warga dan tentara. Yang terlihat justru tangan-tangan yang bekerja bersama.

Ada yang membongkar bagian rumah lama. Sebagian lainnya menyiapkan kayu untuk kerangka bangunan. Kayu diambil dari hutan, lalu dipotong dan dirangkai menjadi bagian rumah. Setelah dinding papan terpasang, pekerjaan dilanjutkan dengan pemasangan atap.

Di tengah pekerjaan itu, percakapan dan canda warga sesekali pecah. Secangkir kopi dan gula yang dibawa anggota Satgas menjadi pelengkap kebersamaan.

Bagi warga Polimo, cara berkumpul seperti ini bukan sesuatu yang asing. Keterbatasan akses komunikasi membuat informasi kerap menyebar dari mulut ke mulut. Namun justru dari cara sederhana itulah kekompakan masyarakat tetap terjaga.

Begitu mendapat informasi ada warga yang membutuhkan tenaga untuk memperbaiki rumah, personel Pos Kurima segera merespons.

“Stop baku gigit, kita su sedikit. Mari bersama-sama jaga persatuan dengan gotong royong,” menjadi semangat yang tercermin dalam kegiatan tersebut.

Dansatgas Pamtas RI-PNG Kewilayahan Yonif 645/GTY, Letkol Inf Yan Rangga Rahabistara, S.M., mengatakan kehadiran prajurit di tengah masyarakat tidak semata menjalankan tugas pengamanan wilayah.

Menurut dia, TNI harus mampu hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan, terutama dalam menghadapi kesulitan sehari-hari.

“Diharapkan masyarakat tidak sungkan meminta bantuan kepada TNI. Kami selalu siap hadir di tengah masyarakat untuk membantu, melayani, dan menjadi bagian dari solusi dalam mengatasi kesulitan rakyat,” ujarnya.

Bagi Boas dan keluarganya, bantuan tersebut bukan sekadar soal tenaga. Kehadiran para prajurit menjadi pesan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi kesulitan.

Salah seorang warga menyampaikan terima kasih atas bantuan personel Satgas, termasuk konsumsi sederhana yang dibawa untuk dinikmati bersama.

“Terima kasih atas bantuan tenaga dan konsumsinya. Semoga tentara di mana pun berada selalu diberikan kesehatan dan keselamatan,” kata warga tersebut.

Di Kurima, gotong royong akhirnya tidak berhenti pada pembangunan sebuah rumah. Ia menjadi cara sederhana untuk merawat persaudaraan—bahwa ketika satu keluarga membutuhkan bantuan, masyarakat dan TNI bisa berdiri bersama.

Sebab di pelosok Papua, persatuan tidak selalu hadir lewat pidato besar. Kadang ia tumbuh dari sebatang kayu yang dipikul bersama, papan yang dipasang bergantian, dan secangkir kopi yang diminum setelah lelah bekerja.

Sumber: Pen Yonif 645/GTY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version