JOMBANG, TelusuR.id — Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, membawa penyesuaian terhadap aktivitas harian para santri. Kendati pesantren disibukkan oleh hajatan akbar nasional tersebut, kegiatan pendidikan dipastikan tetap berjalan normal melalui skema lain.
Selama penyelenggaraan muktamar berlangsung, proses belajar mengajar para santri akan dialihkan sepenuhnya ke sistem daring atau dalam jaringan. Di sisi lain, sebagian santri justru diterjunkan secara langsung sebagai relawan untuk mendukung kelancaran agenda besar organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu.
Ketua Panitia Lokal Muktamar ke-35 NU sekaligus Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, KH Abdurrozaq Sholeh, menegaskan bahwa kebijakan ini diambil guna menjaga keseimbangan. Menurutnya, hak akademis santri harus tetap terpenuhi di tengah kesibukan pondok sebagai tuan rumah.
Ia memaparkan bahwa pembelajaran berbasis daring tersebut rencananya bakal dimulai pada 20 Agustus mendatang dan berlangsung selama 11 hari. Sistem ini sengaja diterapkan untuk memberikan ruang penataan kawasan pesantren yang dijadikan lokasi utama muktamar.
“Santri tidak diliburkan. Mereka tetap mengikuti kegiatan belajar, hanya saja dilakukan secara daring,” ujar sosok yang akrab disapa Gus Rozaq tersebut saat ditemui di Kantor Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Sabtu (1/8/2026).
Gus Rozaq menjelaskan bahwa kebijakan penyesuaian ini tidak serta-merta membuat seluruh santri dipulangkan ke kampung halaman masing-masing. Ada sebagian santri yang tetap dipertahankan berada di area kompleks pondok pesantren.
Santri yang tetap tinggal di pondok merupakan mereka yang telah dipilih dan ditunjuk secara khusus. Mereka diberi mandat untuk mengawal serta membantu kepanitiaan dalam memenuhi berbagai kebutuhan operasional selama helatan muktamar.
Tugas para santri relawan ini terbilang krusial, mulai dari mengurus layanan logistik peserta, mengatur tata letak lokasi acara, hingga menyokong mobilitas panitia di sejumlah titik strategis.
“Sementara santri yang tidak mendapatkan tugas khusus, sebagian dipulangkan ke rumah masing-masing dan wajib mengikuti pembelajaran secara daring dari rumah,” tutur Gus Rozaq menambahkan.
Ia menilai, keterlibatan aktif para santri dalam momen sejarah ini menjadi bagian penting untuk menimba pengalaman. Selain melatih jiwa berorganisasi dan pengabdian melayani para ulama, kewajiban belajar mereka pun dipastikan tidak terganggu.
Pihak panitia bersama pengelola pesantren telah mematangkan seluruh perangkat serta mekanisme pembelajaran daring jauh-jauh hari. Hal ini dilakukan agar kalender akademik dan ritme pendidikan santri tidak keluar dari koridor yang direncanakan.
Di sisi lain, kehadiran santri di jajaran kepanitiaan lokal diyakini memperkuat barisan relawan. Tercatat, ribuan relawan dari berbagai unsur badan otonom Nahdlatul Ulama turut disiagakan untuk mengawal hajatan ini.
“Kehadiran para santri diharapkan mampu mendukung pelayanan maksimal kepada ribuan muktamirin dan tamu undangan yang akan memadati kawasan Bahrul Ulum,” ucapnya optimis.
Langkah taktis yang ditempuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ini mendapat respons positif dari berbagai pihak. Pengalihan metode pembelajaran dianggap sebagai solusi moderat di tengah padatnya agenda keorganisasian.
Dengan skema fleksibel tersebut, Bahrul Ulum membuktikan kapabilitasnya dalam mengelola ajang berkaliber nasional tanpa mengorbankan kualitas pendidikan para santrinya.
Langkah ini sekaligus mempertegas kesiapan Kabupaten Jombang sebagai tuan rumah yang ramah, tertib, dan siap menyambut kehadiran para kiai serta nahdliyin dari seluruh penjuru Tanah Air.
