Jacob Ereste: Hari Ini Aktivis Kebudayaan Kudus Berupaya Membingkai Suku Bangsa Nusantara dengan Spiritualitas dan Agama

Bagikan :

Jacob Ereste:

Hari Ini Aktivis Kebudayaan Kudus Berupaya Membingkai Suku Bangsa Nusantara dengan Spiritualitas dan Agama

Semarang,TelusuR.ID – Ada saatnya kebudayaan tidak cukup hanya dipandang sebagai kesenian, tradisi, pakaian adat, tari-tarian atau peninggalan sejarah. Kebudayaan adalah ruh yang hidup di dalam diri suatu bangsa. Ia menjadi ingatan, kesadaran sekaligus penuntun bagi manusia untuk mengenali dari mana dirinya berasal dan ke mana arah peradabannya hendak dibawa.

Dalam kerangka itulah Gebyar Budaya Nusantara digelar para aktivis kebudayaan di Majesty Grand Ballroom Hotel Grupnya, Kudus, 11 Agustus 2026.

Kegiatan ini tidak sekadar dimaksudkan sebagai perayaan atas kekayaan seni dan budaya Nusantara. Lebih jauh, terdapat ikhtiar untuk mempertemukan kembali kebudayaan dengan spiritualitas dan agama sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan peradaban bangsa Indonesia.

Menteri Kebudayaan, Prof. (Hon), Dr. Fadli Zon, M.Sc., hadir sebagai keynote speaker, sementara tokoh spiritual Indonesia, Sri Eko Sriyanto Galgendu, menjadi pembicara utama.

Ketua Panitia Pelaksana Gebyar Budaya Nusantara, Agus Mujayanto, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya para aktivis kebudayaan untuk melestarikan, mengembangkan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi sekarang dan generasi yang akan datang.

Tetapi yang lebih penting dari sekadar pelestarian adalah bagaimana kebudayaan itu tetap memiliki ruh.

Sebab kebudayaan yang kehilangan ruhnya hanya akan menjadi tontonan. Sementara kebudayaan yang tetap memiliki kesadaran spiritual dapat menjadi tuntunan bagi kehidupan manusia dan bangsa.

Di sinilah pentingnya semangat handarbeni lan ngungkepi—merasa memiliki sekaligus merawat dan menjaga apa yang menjadi warisan leluhur. Kebudayaan tidak boleh ditempatkan sebagai benda masa lalu yang hanya dikenang ketika sebuah seremoni berlangsung.

Ia harus dihidupkan dalam perilaku.

Ia harus hadir dalam cara manusia menghormati sesama, dalam sikap tepa selira, dalam kesediaan menerima perbedaan dan dalam kesadaran bahwa keberagaman bukan alasan untuk saling meniadakan.

Kebudayaan dan Agama Bukan Dua Kutub yang Harus Dipertentangkan

Bangsa Indonesia lahir dari kemajemukan. Berbagai suku, agama, bahasa, tradisi dan kebudayaan tumbuh dalam ruang sejarah yang panjang dan kemudian dipersatukan dalam kesadaran kebangsaan.

Karena itu, mempertemukan kebudayaan dengan agama sesungguhnya bukanlah sesuatu yang asing bagi perjalanan Nusantara.

Justru yang perlu terus dirawat adalah keselarasan keduanya.

Pada zaman modern, ketika transformasi sosial berlangsung begitu cepat dan batas-batas kebudayaan semakin mudah ditembus oleh arus globalisasi, bangsa Indonesia membutuhkan kembali akar jati dirinya.

Spiritualitas, agama dan kebudayaan dapat menjadi tiga kekuatan moral untuk menjaga agar modernisasi tidak membuat manusia kehilangan arah.

Sebab kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari gedung yang semakin tinggi, teknologi yang semakin canggih atau ekonomi yang semakin besar.

Kemajuan sejati juga ditentukan oleh seberapa tinggi martabat manusia dijunjung.

Tema mengenai nilai-nilai spiritual, agama dan kebudayaan untuk menyambut kembali kejayaan Majapahit, Kadilangu dan Mataram, karena itu, dapat dibaca sebagai sebuah refleksi tentang perjalanan panjang peradaban Nusantara.

Bukan untuk menghidupkan kembali masa lalu secara harfiah.

Melainkan untuk menggali nilai-nilai kebajikan yang pernah menjadi kekuatan peradaban, lalu membawanya ke dalam kehidupan bangsa Indonesia hari ini dan masa depan.

Nusantara Tidak Boleh Kehilangan Ingatan

Kejayaan masa lalu bukanlah alasan untuk bernostalgia.

Kejayaan masa lalu seharusnya menjadi cermin.

Dari sana bangsa ini dapat belajar bahwa sebuah peradaban tidak pernah dibangun hanya dengan kekuasaan. Peradaban dibangun dengan pengetahuan, kebudayaan, spiritualitas, etika dan kemampuan manusia untuk hidup berdampingan dalam keberagaman.

Karena itu, budaya harus kembali ditempatkan sebagai perekat kebangsaan.

Di tengah degradasi moral dan krisis identitas yang dapat muncul akibat perubahan zaman, kebudayaan mempunyai posisi strategis untuk mengingatkan manusia tentang nilai-nilai kemanusiaannya.

Budaya mengajarkan penghormatan.

Agama memberikan tuntunan.

Spiritualitas menghidupkan kesadaran batin.

Dan kebangsaan memberikan ruang bagi semuanya untuk hidup bersama.

Keempatnya tidak semestinya saling menegasikan.

Sebaliknya, harus saling menguatkan.

Dari sinilah diharapkan lahir sosok kepemimpinan yang tidak semata-mata kuat dalam kekuasaan, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, kecintaan terhadap kebudayaan dan keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Kepemimpinan semacam itu dibutuhkan bukan hanya di tingkat nasional, tetapi pada setiap tingkatan kehidupan masyarakat.

Dari Kudus untuk Peradaban Dunia

Gebyar Budaya Nusantara juga menyimpan harapan yang lebih jauh: memberi ruang kepada para aktivis kebudayaan untuk bersinergi, bergerak bersama dan mengambil bagian dalam membangun peradaban bangsa.

Sebab kebudayaan tidak boleh hanya menjadi urusan pemerintah.

Kebudayaan adalah urusan seluruh anak bangsa.

Para pelaku seni, budayawan, tokoh agama, kaum intelektual, generasi muda dan masyarakat secara keseluruhan memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga agar akar kebudayaan Nusantara tidak tercerabut oleh perubahan zaman.

Pada akhirnya, yang hendak dibangun bukan sekadar kejayaan sebuah kelompok, suku atau wilayah.

Yang hendak dibangun adalah kejayaan bangsa Indonesia sebagai bagian dari peradaban dunia.

Peradaban yang tidak merasa paling tinggi dan tidak pula merendahkan bangsa lain.

Peradaban yang mampu memberi warna, tetapi tidak memaksakan warna.

Peradaban yang maju, namun tetap manusiawi.

Sebab ukuran kejayaan sebuah bangsa pada akhirnya bukan seberapa besar ia mampu menaklukkan bangsa lain, melainkan seberapa besar ia mampu menghadirkan kemaslahatan bagi sesama manusia.

Gerakan Aktivis Kebudayaan yang dikomandoi RM. Bambang Soeryadhi Soeryodhiharjo sebagai penasihat, Purnomo Sakti sebagai penasihat, Agus Mujayanto sebagai ketua pelaksana, Kol. Inf. Wiwid Jalu Wibowo sebagai wakil ketua, Sri Utomo sebagai sekretaris, MS. Umam sebagai wakil sekretaris, Anissa sebagai bendahara, Roro Wulan sebagai wakil bendahara, dan Joko Sutrisno sebagai humas, hendak meletakkan kembali spiritualitas, agama dan kebudayaan sebagai bingkai kehidupan bangsa.

Mungkin inilah yang paling penting dari sebuah gerakan kebudayaan:

bukan sekadar merawat apa yang telah diwariskan leluhur, tetapi memastikan agar warisan itu tetap mampu berbicara kepada zaman.

Dan dari Kudus, suara itu hendak dibawa kembali ke ruang kesadaran bangsa Nusantara.

Bahwa kita boleh berjalan menuju masa depan dengan teknologi dan modernitas.

Tetapi jangan pernah kehilangan akar.

Karena bangsa yang kehilangan akar kebudayaannya, pada akhirnya akan kehilangan dirinya sendiri.

Stasiun Tawang, 11 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version