JOMBANG, TelusuR.id — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf membedah pemikiran mendalam serta rekam jejak geopolitik pendiri NU, KH Abdul Wahab Hasbullah, dalam ajang bedah buku di Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang.
Suasana auditorium Unwaha pad Sabtu malam (15/8/2026) itu terasa sangat khidmat ketika ribuan pasang mata tertuju pada langkah pimpinan tertinggi PBNU tersebut menuju panggung utama.
Sosok yang akrab disapa Gus Yahya ini membawa misi penting untuk mengajak seluruh komponen jam’iyah menengok kembali akar sejarah dan fondasi perjuangan para muassis.
Berbalut kemeja putih dan bawahan gelap, Gus Yahya membuka pidatonya dengan santun melalui salam pembuka serta apresiasi tinggi kepada jajaran panitia penyelenggara.
Agenda bedah buku karya H Abdul Mun’im DZ setebal 262 halaman terbitan Unwaha Press 2024 tersebut menjadi pintu masuk utama untuk menguraikan rekam jejak pergerakan KH Abdul Wahab Hasbullah.
Sejarah mencatat bahwa kematangan berpikir Mbah Wahab tidak lepas dari masa penempaan dirinya saat menimba ilmu di Makkah sekaligus aktif dalam organisasi pergerakan Sarekat Islam (SI).
Sepulang dari Tanah Suci, gagasan besar dan semangat kebangsaan yang diusung Mbah Wahab langsung diwujudkan secara riil lewat berbagai langkah taktis dan strategis.
Langkah terobosan awal dimulai pada 1916 ketika Mbah Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan yang berkembang menjadi jaringan lembaga pendidikan madrasah meluas dari Jawa Timur hingga Jawa Barat.
Perjuangan berlanjut pada 1918 saat Mbah Wahab menggerakkan Nahdlatut Tujjar demi kemandirian ekonomi, serta mendirikan Tashwirul Afkar sebagai wadah pertukaran gagasan strategis bagi para kiai dan intelektual.
Ketiga simpul pergerakan utama inilah yang kemudian menyatu menjadi fondasi paling menentukan dalam pengesahan berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926.
Pemaparan historis tersebut disampaikan Gus Yahya dengan artikulasi yang amat jernih dan tegas hingga membakar semangat ribuan akademisi, santri, serta pengurus NU yang hadir.
Salah satu poin paling krusial yang disoroti Gus Yahya adalah pembacaan geopolitik Mbah Wahab terkait dinamika Islam global pasca-runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada dekade 1920-an.
Arsip sejarah merekam bahwa Mbah Wahab sejatinya mendapatkan undangan khusus untuk menghadiri Muktamar Khilafah yang digelar di Arab Saudi pada era transisi tersebut.
Namun, alih-alih bertolak ke Saudi, Mbah Wahab secara formal menyatakan batal berangkat dengan alasan diplomasi halus khas ulama Nusantara karena “tertinggal kapal”.
Gus Yahya menegaskan Mbah Wahab secara prinsipil tidak menyetujui jika Arab Saudi dijadikan sebagai pusat khilafah baru mengganti penguasa Turki Utsmani.
Sikap kritis tersebut dilandasi penilaian bahwa paham Wahabisme yang dominan di Hijaz memiliki sanad keilmuan yang terputus (muqathi’) dari rantai peradaban Islam.
Pandangan itu bertolak belakang dengan tradisi Nusantara yang memegang teguh sanad keilmuan bersambung (muttashil) di atas pijakan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).
Keputusan Mbah Wahab melepaskan momentum muktamar di Saudi dan berfokus membangun gerakan di dalam negeri membuktikan ketajaman visinya terhadap peta politik dunia.
Langkah pendirian NU bersama para kiai di tanah air menjadi sebuah peristiwa besar yang mencatatkan tinta emas dalam panggung sejarah peradaban global.
Keunikan NU terletak pada karakter pergerakannya yang lahir dari tangan dingin para ulama di bawah cengkeraman penjajahan, bukan dari lingkaran penguasa politik atau militer.
Gus Yahya juga mengingatkan kembali wejangan sakral Mbah Wahab bahwa barang siapa yang bertekad merusak NU dari dalam, niscaya ia akan hancur oleh ulahnya sendiri.
Rangkaian kilas balik ini menegaskan bahwa lahirnya Nahdlatul Ulama bukanlah kejutan sejarah biasa, melainkan rancangan peradaban murni yang disiapkan matang untuk merespons geopolitik dunia.
