Aktivis NU Luar Negeri Satukan Jejaring Global, Dorong Indonesia Jangan Cuma Jadi Pasar
JOMBANG,TelusuR.ID — Pengalaman belajar dan bekerja di luar negeri tidak seharusnya berhenti menjadi prestasi pribadi. Jejaring internasional yang dimiliki para santri, alumni, akademisi dan aktivis Nahdlatul Ulama (NU) didorong untuk dikembalikan menjadi kekuatan bagi Indonesia.
Gagasan itu mengemuka dalam Halaqah Aktivis NU Luar Negeri di Jombang, Jumat (28/8/2026). Forum tersebut dirancang untuk mempertemukan jejaring NU di berbagai negara sekaligus menghubungkannya dengan perguruan tinggi, akademisi, organisasi kemasyarakatan hingga pemerintah.
Lebih dari sekadar forum silaturahmi, halaqah tersebut diarahkan menjadi ruang untuk merumuskan gagasan dan solusi konkret bagi berbagai persoalan bangsa.
Para aktivis dan alumni NU yang pernah belajar, bekerja maupun beraktivitas di luar negeri didorong tidak hanya menjadi peserta. Mereka diharapkan membawa pulang pengalaman, keahlian, jaringan, institusi bahkan kapasitas bisnis yang dimiliki untuk memperkuat Indonesia.
“Alhamdulillah banyak alumni yang berminat, sangat responsif dan sangat aktif. Yang kita harapkan adalah menemukan atau mendapatkan solusi konkret dari apa yang selama ini kita diskusikan, dari apa yang kita lakukan dalam sekolah,” kata KH Abdul Latif Malik, Jumat (28/8/2026).
Menurut Abdul Latif, salah satu kekuatan utama forum tersebut terletak pada jaringan para alumni dan aktivis NU yang tersebar di berbagai negara.
Mereka tidak hanya memiliki pengalaman akademik, tetapi juga bekerja di berbagai bidang profesional serta memiliki hubungan dengan perguruan tinggi dan organisasi di luar negeri.
Modal tersebut dinilai terlalu besar jika hanya digunakan untuk kepentingan individu.
Sebaliknya, jaringan global itu dapat menjadi pintu masuk bagi transfer pengetahuan, kerja sama pendidikan, pengembangan teknologi, investasi hingga penguatan sumber daya manusia Indonesia.
Dari Jaringan Dunia ke Gerakan di Dalam Negeri
Halaqah Aktivis NU Luar Negeri tidak ingin berhenti sebagai forum diskusi.
Gagasan yang muncul diharapkan dapat diterjemahkan menjadi program dan gerakan yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.
Perguruan tinggi dapat menjadi ruang pengembangan ilmu pengetahuan dan riset. Sementara jejaring aktivis, organisasi masyarakat dan para profesional dapat menjadi jembatan untuk membawa pengetahuan tersebut ke lapangan.
“Secara akademik di PBNU, tapi secara praktisnya di kampus, kampus semua,” ujar Abdul Latif.
Komunikasi dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga terus diperkuat. Sinergi diharapkan tidak berhenti di lingkungan NU, tetapi berkembang bersama berbagai perguruan tinggi dan organisasi kemasyarakatan lainnya.
Termasuk membuka ruang kolaborasi dengan Muhammadiyah dan berbagai elemen bangsa lainnya.
“Ini banyak kampus juga. Mereka para pakar, punya kepedulian yang sangat Indonesia,” katanya.
Bagi para aktivis yang pernah merasakan kehidupan akademik maupun profesional di luar negeri, jejaring tersebut merupakan modal yang tidak selalu dimiliki semua orang.
Karena itu, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan pengalaman dari luar negeri, melainkan bagaimana pengalaman itu dapat dikonversi menjadi manfaat di dalam negeri.
Babe Haikal: Jangan Sampai Indonesia Cuma Jadi Pasar
Persoalan tersebut kemudian bersinggungan dengan isu yang lebih besar: kemandirian ekonomi Indonesia.
Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan atau Babe Haikal, mengingatkan agar jejaring internasional yang dimiliki masyarakat Indonesia tidak hanya digunakan untuk membuka akses ke pasar global.
Menurutnya, Indonesia harus mampu menangkap nilai ekonomi dari setiap aktivitas yang berlangsung di dalam negeri.
“Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar, sementara nilai ekonominya justru lebih banyak dinikmati pihak asing,” kata Babe Haikal.
Ia mencontohkan persoalan pemeriksaan produk dari Swiss yang masuk ke Indonesia.
“Barang dari Swiss, kemudian yang periksa orang India. Karena pemilik LAL ini orang India,” ujarnya.
Menurut Babe Haikal, persoalannya bukan semata-mata mengenai kewarganegaraan pihak yang melakukan pemeriksaan.
Yang lebih penting adalah siapa yang mendapatkan manfaat ekonomi dari aktivitas tersebut.
Ia menilai Indonesia memiliki sumber daya manusia yang sebenarnya mampu mengambil peran lebih besar.
“Uang yang ratusan miliar itu larinya ke orang India ini, dan barangnya masuk ke kita. Kan konyol. Biar masuknya ke orang kita,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan yang lebih luas: Indonesia tidak cukup hanya memiliki pasar yang besar.
Indonesia juga harus memiliki kemampuan untuk menguasai rantai nilai—mulai dari sumber daya manusia, keahlian, teknologi, sertifikasi, industri hingga jaringan distribusi.
“Biar dari Indonesia itu Indonesia,” tandas Babe Haikal.
Jejaring Global Harus Pulang Membawa Manfaat
Pesan tersebut menemukan relevansinya dengan keberadaan para aktivis NU di luar negeri.
Mereka memiliki apa yang dibutuhkan Indonesia untuk memperkuat daya saing: pengalaman internasional, pengetahuan, keahlian, jaringan akademik dan profesional.
Persoalannya tinggal bagaimana seluruh modal tersebut dikonsolidasikan.
Halaqah Aktivis NU Luar Negeri diharapkan menjadi salah satu ruang untuk menjawab kebutuhan itu.
Forum tersebut ingin mempertemukan mereka yang memiliki pengalaman global dengan kebutuhan nyata di tanah air.
Tidak hanya melalui gagasan, tetapi juga kerja sama dan program yang dapat dirasakan masyarakat.
Dengan begitu, hubungan antara Indonesia dan jejaring global tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan atau forum silaturahmi.
Ada sesuatu yang lebih besar yang ingin dibangun: kemampuan bangsa untuk berdiri di atas kekuatan sendiri.
Sebab di tengah persaingan global, memiliki akses ke dunia internasional saja tidak cukup.
Indonesia juga harus mampu menciptakan nilai dari akses tersebut dan memastikan manfaatnya kembali kepada masyarakat.
Dari Jombang, gagasan itu mulai dirajut.
Jejaring NU di luar negeri didorong untuk tidak sekadar menjadi diaspora yang sukses di negara lain, tetapi menjadi bagian dari kekuatan yang membantu Indonesia tumbuh.
Bukan sekadar membawa nama Indonesia ke dunia, tetapi membawa pulang manfaat dunia untuk Indonesia.
(din)
