SURABAYA, TelusuR.id — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya menegaskan bahwa eksistensi Pencak Silat NU Pagar Nusa lahir langsung dari rahim Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu, loyalitas dan komitmen seluruh kader Pagar Nusa secara mutlak hanya diperuntukkan bagi jam’iyah NU.
Pesan tegas tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua PCNU Kota Surabaya, Riadi Ngasiran, saat membacakan amanat Ketua PCNU Kota Surabaya, H. Masduki Toha. Acara tersebut berlangsung pada Pelantikan Pengurus Cabang (PC) Pagar Nusa Kota Surabaya masa khidmah 2025–2030, Minggu (26/7/2026).
Prosesi pelantikan yang digelar di Aula Universitas WR Supratman, Jalan Arief Rahman Hakim, Sukolilo, Surabaya ini berlangsung khidmat. Selain pelantikan pengurus baru, agenda ini juga dirangkaikan dengan pembai’atan terhadap lebih dari 500 santri Pagar Nusa.
Dalam amanatnya, Masduki Toha mengingatkan bahwa Pagar Nusa memiliki keterkaitan sejarah yang sangat kuat dan tidak bisa dilepaskan dari Kota Surabaya. Sejarah mencatat, proses kelahiran badan otonom NU ini melibatkan peran aktif KH A. Mudjib Ridlwan, putra dari pencipta lambang NU, KH Ridlwan Abdullah.
Tak hanya itu, rekam jejak perkembangan Pagar Nusa di Kota Pahlawan juga dibentuk oleh peran besar KH Suharbillah dari Pondok Pesantren An-Najiyah, Sidoresmo. Fakta sejarah ini diharapkan menjadi pemompa semangat bagi pergerakan Pagar Nusa di Surabaya saat ini.
Masduki menambahkan, rekam jejak Pagar Nusa terbukti nyata dalam sejarah bangsa, seperti pada masa Reformasi dan fase perubahan sosial penting lainnya. Saat itu, di bawah kepemimpinan KH Suharbillah, Pagar Nusa selalu setia mendampingi para kiai dan ulama di tengah masyarakat.
Sebagai tempat kelahirannya Nahdlatul Ulama, Surabaya dinilai memiliki tanggung jawab moral dan sejarah yang besar. Pagar Nusa diharapkan terus menggerakkan semangat berkhidmah untuk menjawab dinamika masyarakat yang terus berkembang.
Secara khusus, PCNU Kota Surabaya menekankan bahwa Pagar Nusa bukan sekadar wadah berkumpulnya orang-orang yang gemar seni bela diri untuk aktualisasi diri. Lebih dari itu, organisasi ini memikul tanggung jawab sosial untuk menjaga ketenteraman, ketertiban, dan kedamaian umum.
Tanggung jawab sosial tersebut tidak hanya terbatas pada warga Nahdliyin atau kiai NU semata, melainkan mencakup masyarakat luas. Pagar Nusa dituntut aktif menjaga kondusivitas Kota Surabaya agar tetap aman dan harmonis.
Semangat kepahlawanan dan keberanian Arek-arek Surabaya yang mengalir dalam darah para pendekar Pagar Nusa harus ditransformasikan menjadi energi positif. Keberanian tersebut seyogianya diwujudkan dalam bentuk pengabdian nyata di tengah warga.
PCNU Surabaya juga mengimbau agar kegagahan serta rasa percaya diri kader Pagar Nusa tidak ditunjukkan melalui sikap arogan atau tindakan anarkis yang memicu antipati publik. Sikap santun dan menyejukkan harus selalu diutamakan.
Sebaliknya, rasa percaya diri dan kegagahan pendekar Pagar Nusa harus diimplementasikan untuk melindungi ketenteraman masyarakat. Hal ini mencakup seluruh aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kegiatan dakwah Islam secara luas.
Lebih lanjut, Pagar Nusa diharapkan mampu menjadi benteng penopang bagi gerakan (harakah) kader-kader NU. Dukungan ini penting agar kader NU dapat mengambil peran strategis di berbagai bidang demi kejayaan Islam dan umat (Izzul Islam wal-Muslimin).
Acara pelantikan ini meresmikan kepemimpinan PC Pagar Nusa Kota Surabaya periode 2025–2030, di mana Abdul Rochman dilantik sebagai Ketua dan Dimas Agung Nurpratama sebagai Sekretaris, mendampingi jajaran pengurus lainnya.
Ketua Panitia Pelaksana, Tri Yudi Effendi, menyambut hangat kehadiran para tamu undangan dari berbagai unsur. Acara ini turut dihadiri oleh jajaran Pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Kapolrestabes Surabaya, serta Koramil Sukolilo.
Sejumlah tokoh nasional dan daerah NU turut hadir, di antaranya Ketua Umum PP Pagar Nusa H. Muhammad Nabil Haroen, Sekretaris PP Pagar Nusa Dr. Abdulloh Hamid, serta Ketua PW Pagar Nusa KH Sholahuddin Fathurrohman. Kegiatan ini ditutup dengan sesi pengijazahan dan penggemblengan bersama KH Abdul Chalim Al-Khowwas (Abah Chalim) dari Banyuwangi.
