Menelusuri Jejak Peradaban di Ponpes Canga’an Bangil, Ning Lia: Di Sini Akar Pengetahuan Berbangsa

Bagikan :

PASURUAN, TelusuR.id – Di tengah hiruk-pikuk Kota Bangil, Pasuruan, berdiri sebuah pondok pesantren tua yang tetap memancarkan kesahajaan dan nilai sejarah yang tak ternilai harganya.

Pondok Pesantren Canga’an, lembaga pendidikan Islam yang berdiri sejak tahun 1710 Masehi, mendadak hangat saat Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, melangkah menyusuri lorong-lorong bersejarahnya.

Napak tilas spiritual ini dilakukan Ning Lia menjelang helatan akbar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Bagi Ning Lia, pesantren tidak pernah sekadar tempat mentransfer hafalan kitab atau ilmu agama belaka dalam ruang-ruang kelas yang sunyi.

Pesantren adalah kawah candradimuka kehidupan yang secara konsisten menempa karakter, menanamkan wawasan kebangsaan, dan membentuk etika sosial seluruh elemen masyarakat Indonesia.

Eksistensi Ponpes Canga’an selama lebih dari tiga abad menjadi bukti otentik bagaimana tradisi pendidikan pesantren berkontribusi langsung pada fondasi peradaban bangsa.

Atas jejak emasnya mencetak tokoh-tokoh ulama pejuang, Senator asal Jatim ini tanpa ragu menobatkan Pesantren Canga’an sebagai ‘Rumah Besar Nahdlatul Ulama’.

Pesantren yang didirikan oleh Syekh Jalaluddin atau Mbah Lowo Ijo ini merupakan tempat menimba ilmu pilar-pilar utama NU, seperti Syaikhona Kholil Bangkalan, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, dan KH Hasbullah.

“Pondok Pesantren Canga’an ini punya nilai sejarah yang sangat tinggi. Pondok ini bukan sekadar tua, melainkan tempat menimba ilmu para pendiri NU, sehingga bisa dibilang titik awal NU berasal dari sini,” ujar Ning Lia kepada Telusur.id, Jumat (24/7/2026).

Langkah kaki Ning Lia di kompleks Canga’an juga membawa kekaguman tersendiri pada dedikasi para dzurriyah (keturunan) pengasuh yang teguh merawat keaslian fisik bangunan.

Bertahan di tengah desakan modernisasi dan pesatnya tata kota di jantung Bangil, keaslian arsitektur pesantren ini dinilainya sebagai bentuk penghormatan tertinggi pada warisan leluhur.

“Saya mengapresiasi keluarga besar Pesantren Canga’an yang tetap konsisten mempertahankan pesantren ini. Merawat Pesantren Canga’an sama artinya dengan merawat sejarah NU dan kebangsaan,” ungkapnya.

Namun, di luar lembaran sejarah besar organisasi, perjalanan sore itu juga menyentuh relung batin Ning Lia sebagai seorang anak.

Pesantren Canga’an menyimpan memori emosional yang amat mendalam karena almarhum ayahnya, KH Masykur Hasyim, pernah menjadi bagian dari santri yang mengaji di tempat ini.

Suasana haru menyelimuti saat Ning Lia menjejakkan kaki di Jerambah KH Hasyim Asy’ari, sudut bersejarah tempat almarhum ayahnya dulu mendalami ilmu agama dan menyerap nilai perjuangan.

Getaran batin itu kian membuncah tatkala pandangannya tertuju pada kamar nomor dua di sebelah kiri area Jerambah, ruang sederhana tempat sang ayah beristirahat usai menuntut ilmu.

Jejak sanad pendidikan sang ayah dari Canga’an inilah yang kelak berlanjut ke Tambakberas Jombang—pesantren yang kini bersiap menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU.

“Masyaallah, Pesantren Canga’an ini bukti nyata bahwa pendidikan pesantren adalah akar pengetahuan kehidupan berbangsa. Di sinilah ayah saya menimba ilmu sebelum melanjutkan ke Tambakberas Jombang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version