Memahami AEO, GEO, dan LLMO, Strategi Baru Agar Bisnis Tetap Terlihat di Era AI Search

Bagikan :

SIDOARJO,TelusuR.ID – Lanskap pencarian informasi di internet tengah mengalami perubahan besar. Jika sebelumnya pengguna mengandalkan mesin pencari seperti Google untuk menemukan daftar situs web, kini semakin banyak orang memilih bertanya langsung kepada asisten berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, Google Gemini, Perplexity, hingga Meta AI untuk memperoleh jawaban yang lebih cepat, ringkas, dan sesuai konteks.

Perubahan perilaku tersebut mulai menggeser cara perusahaan membangun kehadiran digital. Persaingan tidak lagi semata-mata memperebutkan posisi teratas di halaman mesin pencari, tetapi juga bagaimana sebuah informasi mampu dikenali, dipahami, dan dijadikan rujukan oleh sistem AI saat menjawab pertanyaan pengguna.

AI Visibility & Digital Authority Strategist, Zarnuzi Fustatul atau yang dikenal sebagai Mas ZAR, mengatakan transformasi ini menuntut pelaku usaha memperluas strategi optimasi digital yang selama ini bertumpu pada Search Engine Optimization (SEO).

“SEO tetap menjadi fondasi yang penting. Namun, perkembangan AI Search membuat bisnis juga perlu memastikan informasi mereka dapat dipahami dan dirujuk oleh berbagai sistem AI ketika pengguna mengajukan pertanyaan yang relevan,” ujar Mas ZAR pada senin (27/07/26).

Tiga Pendekatan Baru di Era AI

Menurut Mas ZAR, muncul sedikitnya tiga pendekatan yang kini mulai banyak digunakan untuk meningkatkan visibilitas digital di era AI Search, yakni Answer Engine Optimization (AEO), Generative Engine Optimization (GEO), dan Large Language Model Optimization (LLMO).

AEO berfokus pada penyusunan informasi agar mampu menjawab pertanyaan pengguna secara langsung, jelas, dan mudah dipahami. Semakin terstruktur sebuah informasi, semakin besar peluangnya dijadikan jawaban oleh sistem AI.

Sebagai contoh, ketika seseorang bertanya, “Apa klinik kecantikan terbaik di Surabaya?”, AI cenderung memilih sumber yang menyajikan informasi lengkap, relevan, dan menjawab kebutuhan pengguna secara spesifik.

Sementara GEO lebih menitikberatkan pada penyusunan konten agar mudah dipahami oleh AI generatif yang merangkum jawaban dari berbagai sumber sekaligus. Konten yang kaya konteks, menggunakan bahasa alami, konsisten, dan didukung referensi kredibel dinilai lebih mudah diproses oleh model AI.

Adapun LLMO diarahkan untuk membangun identitas digital sebuah perusahaan maupun personal brand melalui berbagai sumber informasi terpercaya. Tujuannya bukan mengendalikan sistem AI, melainkan membangun rekam jejak digital yang konsisten sehingga suatu entitas lebih mudah dikenali ketika AI menyusun jawaban.

AI Mengolah Banyak Sumber Sekaligus

Mas ZAR menilai masih banyak pelaku usaha yang beranggapan memiliki website saja sudah cukup agar mudah ditemukan di internet. Padahal, sistem AI modern umumnya membangun jawaban dengan menggabungkan berbagai sumber informasi.

Sumber tersebut dapat berasal dari website resmi, portal berita, profil perusahaan, direktori bisnis, media sosial resmi, dokumentasi publik, referensi akademik, hingga marketplace dan ekosistem digital lainnya.

“Yang dibangun bukan sekadar posisi di mesin pencari, melainkan kepercayaan digital. AI lebih mudah memahami informasi yang konsisten di berbagai sumber dibanding hanya muncul di satu platform,” jelasnya.

Mulai Diterapkan di Berbagai Industri

Mas ZAR mengungkapkan pendekatan AI Visibility yang dikembangkannya telah diterapkan di sejumlah sektor, mulai dari ritel, personal branding, hingga industri perjalanan ibadah.

Salah satu implementasinya dilakukan pada Plaza Kamera Surabaya melalui penguatan Digital Authority, publikasi media, dan penyusunan informasi yang lebih terstruktur. Upaya tersebut disebut membuat nama Plaza Kamera lebih sering muncul sebagai salah satu rekomendasi AI ketika pengguna mencari toko kamera di Surabaya, khususnya untuk kebutuhan konten kreator.

Strategi serupa juga diterapkan pada Ustadz Nafi’ Unnas, pembimbing umrah bersama Samira Travel Jawa Timur. Melalui penguatan rekam jejak digital di berbagai kanal informasi, namanya dinilai semakin mudah dikenali dalam hasil pencarian AI yang berkaitan dengan layanan umrah.

Selain itu, pendekatan AI Visibility juga mulai diterapkan pada Nur Dhuha Wisata sebagai bagian dari penguatan otoritas digital perusahaan di sektor perjalanan umrah dan haji plus.

Bukan Sekadar Mengikuti Tren

Mas ZAR meyakini penggunaan AI Search akan terus meningkat seiring semakin luasnya pemanfaatan asisten AI dalam aktivitas masyarakat.

Karena itu, perusahaan dinilai tidak cukup hanya mengejar jumlah pengunjung website atau pengikut media sosial. Kualitas, konsistensi, dan kredibilitas informasi yang tersebar di berbagai platform menjadi faktor yang semakin menentukan.

“Masa depan pemasaran digital tidak hanya berbicara tentang siapa yang paling banyak beriklan, tetapi siapa yang memiliki informasi paling kredibel, konsisten, dan mudah dipahami. Digital Authority menjadi investasi jangka panjang yang akan semakin penting di era AI,” katanya.

Ia menambahkan, adaptasi terhadap perkembangan AI bukan berarti meninggalkan strategi digital yang selama ini berjalan, melainkan melengkapinya agar tetap relevan dengan perubahan perilaku konsumen.

“Tujuan akhirnya bukan hanya tampil di hasil pencarian, tetapi memastikan calon pelanggan memperoleh informasi yang akurat sehingga kepercayaan terbangun sebelum mereka mengambil keputusan. Ketika bisnis mampu menghadirkan informasi yang konsisten dan bermanfaat, peluang untuk dikenal hingga dipilih pelanggan juga akan semakin besar,” tutup Mas ZAR.(redho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version