JAKARTA,TelusuR.ID – Di tengah persaingan gagasan dari berbagai negara, nama Indonesia kembali bergema di panggung internasional. Bukan melalui diplomasi politik atau capaian olahraga, melainkan lewat sebuah karya ilmiah yang menawarkan cara baru membangun ekonomi kreatif dunia.
Adalah Edrida Pulungan, analis kebijakan sekaligus pendiri Creative Economy and Tourism Networks Indonesia (Cetnetwork.id), yang meraih Best Paper Award dalam International Forum on Economics, Sustainable Development and Civilization (IFESDC) 2026. Forum tersebut digelar di Markas Besar World Bank, Washington D.C., Amerika Serikat, pada 15–16 Juli 2026.
Penghargaan itu diberikan atas makalah bertajuk “Global Creative Ecosystem”, yang mengusung konsep Global Sharia Creative Economy Ecosystem—sebuah model kolaborasi lintas negara untuk memperkuat ekonomi kreatif berbasis nilai, inovasi, dan prinsip-prinsip ekonomi syariah.
Pengakuan itu bukan sekadar kemenangan personal. Di forum yang mempertemukan akademisi, pembuat kebijakan, pelaku industri, investor, hingga praktisi dari berbagai belahan dunia tersebut, gagasan yang lahir dari Indonesia mendapat ruang dalam percakapan global mengenai masa depan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Undangan Edrida sebagai pembicara internasional juga diperkuat melalui surat resmi dari Dr. Wempi Saputra, Executive Director South-East Asia Voting Group World Bank Group.
Ekonomi Kreatif Tak Bisa Dibangun Sendiri
Dalam paparannya, Edrida menegaskan bahwa ekonomi kreatif tidak lagi bisa dikembangkan melalui pendekatan sektoral atau berjalan sendiri-sendiri. Dunia, menurutnya, bergerak menuju model kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, industri kreatif, lembaga keuangan, investor, pelaku UMKM, hingga organisasi internasional dalam satu ekosistem.
Baginya, ekonomi kreatif bukan sekadar industri yang menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga instrumen yang mampu menciptakan pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Gagasan tersebut mendapat perhatian dalam sesi panel yang mempertemukannya dengan pembicara dari Amerika Serikat, Turki, dan Pakistan. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari transformasi digital, inovasi keuangan syariah, hingga tantangan pembangunan berkelanjutan di tengah disrupsi teknologi.
Penghargaan Best Paper Award yang diterima Edrida menjadi penanda bahwa pendekatan yang ditawarkan dinilai memiliki kebaruan, relevansi, sekaligus potensi implementasi dalam pengembangan ekonomi kreatif di tingkat global.
Indonesia Memiliki Modal, Tetapi Belum Sepenuhnya Dimanfaatkan
Di hadapan peserta forum, Edrida menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi salah satu pusat ekonomi kreatif syariah dunia.
Kekayaan budaya, besarnya populasi usia produktif, pertumbuhan ekonomi digital, hingga berkembangnya industri halal merupakan modal yang tidak dimiliki banyak negara sekaligus.
Namun, menurutnya, keunggulan tersebut belum akan menghasilkan daya saing apabila tidak dihubungkan dengan investasi, teknologi, riset, pengembangan talenta, serta akses pasar internasional.
“Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi pusat ekosistem ekonomi kreatif syariah dunia. Melalui kolaborasi global, khususnya dengan Amerika Serikat, kita dapat mempercepat inovasi, investasi, pengembangan talenta kreatif, riset, teknologi, dan perluasan akses pasar internasional,” ujar Edrida.
Ia juga menilai hubungan Indonesia dan Amerika Serikat memiliki ruang kerja sama yang semakin luas, mulai dari pengembangan startup, kecerdasan buatan (artificial intelligence), hak kekayaan intelektual, pendidikan, industri kreatif, investasi, hingga penyelenggaraan kegiatan meeting, incentive, convention, dan exhibition (MICE).
Di akhir presentasinya, Edrida menutup dengan sebuah kalimat sederhana yang mendapat sambutan dari peserta forum.
“Kita bisa maju dengan kebersamaan.”
Kalimat itu menjadi penegasan bahwa tantangan ekonomi global tidak dapat dijawab oleh satu negara, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas batas.
Diplomasi yang Tidak Selalu Berbentuk Negosiasi
Kehadiran Edrida di Amerika Serikat tidak berhenti pada forum ilmiah. Ia juga memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun jejaring dengan sejumlah diplomat Indonesia dan berbagai institusi internasional.
Ia bertemu dengan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indro Soesilo, Wakil Tetap RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Umar Hadi, serta Konsul Jenderal RI di New York Winanto Adi.
Pertemuan juga dilakukan dengan KADIN Amerika Serikat, US-ASEAN Business Council, akademisi George Washington University, Cultural Vistas, IMAAM Center, diaspora Indonesia, hingga komunitas budaya Indonesia di Washington D.C., New York, Virginia, Baltimore, dan Boston.
Dalam berbagai forum tersebut, konsep Global Sharia Creative Economy Ecosystem diperkenalkan sebagai peluang kerja sama Indonesia dengan berbagai negara di bidang ekonomi kreatif, industri halal, pendidikan, teknologi, investasi, riset, hingga pemberdayaan UMKM.
Bagi Edrida, diplomasi ekonomi tidak hanya dilakukan melalui meja perundingan, tetapi juga melalui pertukaran gagasan yang membuka ruang kolaborasi baru.
Membawa Produk Indonesia ke Forum Dunia
Yang menarik, Edrida tidak hanya membawa hasil riset. Ia juga menjadikan forum internasional itu sebagai etalase untuk memperkenalkan produk-produk kreatif Indonesia.
Dalam berbagai agenda resmi, ia mengenakan dan mempromosikan sejumlah merek lokal, di antaranya Metier Jewelry, Davina Gallery, Razkia Tours and Travel, ICA, Laz Peduli, Mika Fundraising, Colagel, Kan Asap, Kopi Sinjai, Tenun Atmapududu, La Suntu Tastio, Captain Joso Kubuz, Edith House, Mocafie, serta berbagai produk kreatif lainnya.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa diplomasi ekonomi tidak hanya berbicara tentang investasi dan perdagangan, tetapi juga bagaimana karya-karya lokal memperoleh panggung di tingkat internasional.
“Forum internasional bukan hanya menjadi ruang pertukaran gagasan, tetapi juga momentum memperkenalkan karya terbaik Indonesia kepada dunia,” ujarnya.
Saatnya Indonesia Tidak Hanya Menjadi Pasar
Ekonomi kreatif telah menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Di Indonesia, sektor ini menyumbang sekitar 7–8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menyerap lebih dari 24 juta tenaga kerja, sekaligus menjadi salah satu penopang ekspor nonmigas melalui subsektor kuliner, fesyen, kriya, film, musik, animasi, gim, desain, hingga konten digital.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang strategis untuk memimpin pengembangan ekonomi kreatif syariah. Sementara Amerika Serikat menawarkan kekuatan pada teknologi, inovasi, investasi, riset, dan perlindungan hak kekayaan intelektual.
Di tengah perubahan ekonomi global yang semakin ditopang oleh kreativitas, inovasi, dan teknologi, penghargaan yang diraih Edrida Pulungan menjadi lebih dari sekadar prestasi akademik. Ia menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak hanya memiliki sumber daya, tetapi juga gagasan yang mampu ikut membentuk arah percakapan dunia.
Sumber: Diolah dari pemberitaan SinarHarapan.id.
