Di Tengah Riuh Kehidupan, Anak Muda Mencari Tuhan dan Menemukan Arah
SURABAYA,TelusuR.ID — Hidup anak muda hari ini bergerak dalam kecepatan yang nyaris tak memberi jeda.
Pendidikan harus diselesaikan. Pekerjaan harus didapatkan. Karier harus dibangun. Penghasilan harus ditingkatkan. Di saat yang sama, media sosial seolah terus mengingatkan bahwa selalu ada orang lain yang lebih sukses, lebih kaya, lebih terkenal, atau setidaknya terlihat lebih bahagia.
Di tengah riuh perlombaan itu, muncul sebuah pertanyaan yang sering kali tenggelam oleh kesibukan sehari-hari: sebenarnya, untuk apa manusia menjalani hidup?
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk dalam kajian bertajuk “Sepenting Apa Sih BERTUHAN Buat Anak Muda?” yang menghadirkan Ustadz Nur Fajri Romadhon, B.Sh., M.A. sebagai pemateri.
Pembicaraan tentang Tuhan dalam kajian itu tidak semata-mata ditempatkan sebagai persoalan identitas keagamaan. Lebih dari itu, bertuhan dipandang sebagai upaya manusia untuk menemukan pijakan ketika kehidupan menawarkan terlalu banyak arah.
Ketika Dunia Terus Menuntut
Menjadi muda berarti hidup di persimpangan.
Ada banyak pilihan yang harus diambil dan tidak sedikit keputusan yang terasa menentukan masa depan. Lingkungan memberikan standar. Dunia kerja menuntut produktivitas. Media sosial menawarkan ukuran keberhasilan yang terus berubah.

Seseorang didorong untuk sukses sejak usia muda.
Harus cepat memiliki pekerjaan.
Harus segera memiliki pencapaian.
Harus mampu membuktikan diri.
Namun, di tengah semua tuntutan itu, tidak sedikit anak muda yang diam-diam menyimpan pertanyaan lain.
“Sebenarnya, saya ingin menjadi siapa?”
Pertanyaan itu menjadi semakin rumit ketika seseorang kehilangan pijakan untuk menentukan apa yang benar-benar penting dalam hidupnya.
Di titik inilah pemahaman tentang Tuhan menemukan relevansinya.
Bertuhan bukan hanya tentang meyakini keberadaan Sang Pencipta. Ia juga menyangkut kesadaran tentang siapa manusia, dari mana ia berasal, untuk apa hidup dijalani, dan ke mana pada akhirnya perjalanan ini akan bermuara.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar itu mungkin tidak langsung menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan. Namun, ia dapat menjadi kompas ketika seseorang kehilangan arah.
Ketika Keinginan Tidak Lagi Menjadi Satu-Satunya Tujuan
Tanpa fondasi yang kuat, manusia mudah menjadikan keinginan sebagai pusat kehidupannya.
Apa yang diinginkan harus dimiliki. Apa yang belum dicapai harus terus dikejar. Apa yang dimiliki orang lain terkadang terasa harus dimiliki pula.
Padahal, tidak semua yang diinginkan manusia akan benar-benar membawanya menuju kebaikan.
Mengenal Tuhan dapat mengubah cara seseorang mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri.
Bukan sekadar, “Apa yang saya inginkan?”
Tetapi, “Apakah yang saya inginkan ini benar-benar baik?”
Bukan hanya, “Bagaimana saya bisa sukses?”
Melainkan, “Untuk apa kesuksesan itu saya gunakan?”
Dan bukan sekadar, “Bagaimana agar saya dikenal banyak orang?”
Tetapi, “Untuk apa saya ingin dikenal?”
Perubahan itu tampak sederhana. Namun, cara seseorang bertanya akan memengaruhi cara ia menentukan arah.
Gagal Bukan Berarti Kehilangan Nilai
Tidak ada masa muda yang sepenuhnya berjalan sesuai rencana.
Ada cita-cita yang kandas. Lamaran pekerjaan yang tak kunjung mendapat jawaban. Usaha yang mengalami kerugian. Hubungan yang berakhir. Rencana yang telah disusun bertahun-tahun tiba-tiba runtuh.
Kegagalan sering kali terasa lebih menyakitkan ketika seseorang menjadikan pencapaian sebagai satu-satunya ukuran harga dirinya.
Ketika gagal mendapatkan pekerjaan, ia merasa tidak berguna.
Ketika bisnisnya jatuh, ia merasa masa depannya berakhir.
Ketika tertinggal dari teman-temannya, ia merasa telah kalah dalam perlombaan hidup.
Di sinilah iman dapat menawarkan cara pandang yang berbeda.
Nilai manusia tidak semata-mata ditentukan oleh daftar keberhasilannya.
Seseorang tetap memiliki nilai ketika sedang berjuang. Ia tetap memiliki kesempatan ketika sebuah rencana gagal. Dan hidup tidak serta-merta kehilangan makna hanya karena seseorang belum sampai di tempat yang diinginkannya.
Ada hal-hal yang memang berada di luar kendali manusia.
Ada proses yang membutuhkan waktu.
Ada pula pelajaran yang baru dapat dipahami setelah seseorang berhasil melewati masa sulitnya.
Keimanan, dalam konteks ini, bukan berarti menjanjikan kehidupan tanpa masalah. Namun, ia dapat menjadi tempat seseorang kembali ketika merasa seluruh arah hidupnya mulai kabur.
Ketika Berhasil, Manusia Tetap Membutuhkan Tuhan
Kebutuhan manusia kepada Tuhan bukan hanya muncul ketika sedang jatuh.
Justru, keberhasilan juga dapat menjadi ujian yang tidak kalah berat.
Karier yang meningkat, penghasilan yang bertambah, karya yang mendapatkan apresiasi, dan nama yang semakin dikenal dapat membuat seseorang lupa bahwa dirinya tetap manusia dengan segala keterbatasannya.
Keberhasilan dapat menumbuhkan kepercayaan diri.
Tetapi tanpa kesadaran yang kuat, kepercayaan diri dapat berubah menjadi kesombongan.
Di titik itulah kesadaran bertuhan menjadi penting.
Iman bukan hanya tempat bersandar ketika seseorang berada di bawah. Ia juga dapat menjadi kompas ketika seseorang sedang berada di atas.
Sebab, manusia yang tahu kepada siapa ia bersandar akan lebih mudah mengingat bahwa tidak semua keberhasilan harus membuatnya merasa paling hebat.
Mimpi Besar Tetap Perlu Diperjuangkan
Memahami pentingnya bertuhan bukan berarti anak muda harus menjauh dari dunia.
Anak muda tetap boleh memiliki mimpi besar.
Boleh ingin menjadi pengusaha. Boleh membangun perusahaan. Boleh mengejar karier profesional. Boleh menghasilkan karya. Boleh memiliki kehidupan yang mapan.
Ambisi bukan sesuatu yang harus dimatikan.
Yang perlu dipertanyakan adalah ke mana ambisi itu diarahkan.
Kesuksesan dapat menjadi jalan untuk memberi manfaat. Kekayaan dapat menjadi sarana membantu sesama. Ilmu dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan. Popularitas pun dapat menjadi ruang untuk menyebarkan kebaikan.
Dengan cara pandang itu, dunia dan kehidupan spiritual tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling berlawanan.
Manusia tetap dapat bermimpi tinggi tanpa kehilangan kesadaran tentang ke mana hidupnya harus diarahkan.
Tiga Pertanyaan untuk Menemukan Arah
Di tengah kehidupan yang terus bergerak cepat, ada tiga pertanyaan mendasar yang layak diajukan setiap orang kepada dirinya sendiri.
Dari mana saya berasal?
Pertanyaan ini mengajak manusia memahami bahwa hidup bukan sekadar rangkaian kebetulan tanpa makna.
Untuk apa saya hidup?
Pertanyaan ini membantu seseorang membedakan antara keinginan sesaat dan tujuan yang benar-benar ingin diperjuangkan.
Ke mana saya akan kembali?
Pertanyaan terakhir mengingatkan bahwa kehidupan tidak hanya berbicara tentang apa yang berhasil dikumpulkan selama berada di dunia, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menggunakan waktu dan memperlakukan sesamanya.
Tiga pertanyaan tersebut tidak selalu menghasilkan jawaban yang mudah.
Namun, terkadang manusia memang tidak membutuhkan jawaban yang instan. Ia hanya perlu berhenti sejenak agar tidak terus berjalan tanpa mengetahui ke mana tujuan perjalanannya.
Di Era Media Sosial, Jangan Sampai Kehilangan Diri
Tantangan anak muda hari ini juga datang dari layar yang setiap hari berada di genggaman.
Media sosial memungkinkan seseorang melihat kehidupan orang lain hanya dalam hitungan detik.
Promosi jabatan.
Liburan ke berbagai tempat.
Pernikahan yang tampak sempurna.
Bisnis yang terlihat berkembang.
Pencapaian yang terus dipamerkan.
Tanpa fondasi yang kuat, semua itu dapat membuat seseorang merasa tertinggal.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial sering kali hanya potongan terbaik dari kehidupan seseorang.
Setiap manusia memiliki waktu dan jalan hidupnya masing-masing.
Mengenal Tuhan dapat membantu seseorang untuk tidak terus-menerus mencari pengakuan dari dunia.
Tidak harus selalu dipuji.
Tidak harus selalu terlihat berhasil.
Tidak harus membuktikan diri kepada semua orang.
Sebab, ada nilai yang jauh lebih dalam daripada sekadar angka pengikut, jumlah tanda suka, atau pujian manusia.
Pendopo Iman dan Ruang Tumbuh Anak Muda
Pembicaraan tentang bertuhan tentu tidak cukup berhenti di dalam sebuah ruang kajian.
Anak muda membutuhkan ruang untuk belajar, bertanya, berdiskusi, bahkan mencari jawaban atas kegelisahan yang mungkin selama ini tidak berani mereka ungkapkan.
Di tengah kebutuhan tersebut, Pendopo Iman hadir sebagai bagian dari semangat Pusat Dakwah Jalan Pelan, sebuah gerakan yang berupaya mendekatkan nilai-nilai dakwah kepada masyarakat, terutama generasi muda, melalui pendekatan yang hangat dan tidak menghakimi.
Semangat yang dibangun sederhana: berjalan menuju kebaikan tidak selalu harus dilakukan dengan lompatan besar.
Terkadang, seseorang cukup memulainya dengan satu langkah.
Di balik gerakan tersebut terdapat Ustadz Umaier Khaz yang aktif membangun ruang pembelajaran dan dakwah bagi masyarakat.
Pendekatan yang dekat dengan keseharian menjadi penting, terutama bagi generasi muda yang hidup dengan beragam pertanyaan dan tantangan.
Dakwah tidak selalu harus hadir dalam bahasa yang berat dan ruang yang kaku.
Terkadang seseorang hanya membutuhkan tempat untuk datang.
Mendengarkan.
Bertanya.
Lalu pulang dengan satu pemahaman baru.
Mungkin, dari sana, perlahan-lahan ia mulai menemukan kembali arah hidupnya.
Berjalan Pelan, Tetapi Tidak Berhenti
Bagi masyarakat yang ingin mengikuti informasi mengenai kajian dan berbagai kegiatan yang digelar, agenda terbaru dapat diakses melalui akun Instagram @pendopoiman dan @umaierkhaz.
Sebab perjalanan untuk mendekat kepada Tuhan tidak selalu dimulai dengan perubahan besar.
Terkadang cukup dengan satu kajian.
Satu pertanyaan.
Satu perenungan.
Satu keputusan untuk memperbaiki diri.
Dan satu langkah kecil yang terus dijaga secara konsisten.
Mungkin itulah makna dari Jalan Pelan.
Bukan berjalan tanpa tujuan.
Bukan pula berhenti karena perjalanan terasa panjang.
Tetapi memilih untuk tetap bergerak dengan kesadaran.
Pada akhirnya, kehidupan memang sering mengajukan pertanyaan tentang seberapa jauh seseorang telah berhasil.
Berapa banyak yang telah dimiliki.
Seberapa tinggi jabatan yang diraih.
Seberapa luas pengaruh yang dimiliki.
Namun, ada satu pertanyaan yang barangkali jauh lebih penting untuk dijawab:
Ke arah mana kita sebenarnya sedang berjalan?
Sebab seseorang dapat berlari sangat cepat, tetapi tetap tersesat apabila tidak mengetahui arah yang dituju.
Dan bagi mereka yang meyakini Tuhan, menemukan arah mungkin menjadi awal dari perjalanan untuk menemukan makna.
(Redho Fitriyadi)