Soroti Fenomena Syahwat Kekuasaan, Gus Han Sebut Gus Mus Sebagai Sosok Kiai Paripurna

Bagikan :

Jakarta, TelusuR.id – Di tengah panggung publik yang kerap bising oleh perebutan eksistensi, otoritas, dan jabatan, sosok KH Mustofa Bisri atau Gus Mus dinilai hadir bagaikan oase menyejukkan bagi perjalanan kebangsaan dan keagamaan.

Sekretaris Jenderal Gerakan Nasional (Gernas) Ayo Mondok sekaligus Wakil Rektor Unipdu Jombang, HM Zahrul Azhar As’ad M.Kes—atau yang akrab disapa Gus Hans—menyoroti pentingnya merawat keteladanan moral luhur para kiai sepuh di tengah gempuran pragmatisme politik.

Menurut Gus Hans, kerinduan masyarakat terhadap Gus Mus bukan sekadar rindu pada figur seorang ulama besar, melainkan kerinduan kolektif akan keteladanan moral yang kini terasa makin langka.

Ia mengingatkan kembali peristiwa bersejarah dalam ingatan Nahdlatul Ulama, yaitu ketika Gus Mus dengan penuh keikhlasan menolak jabatan Rais Aam Syuriah PBNU, sebuah posisi spiritual tertinggi di organisasi Islam terbesar tersebut.

Gus Hans menegaskan bahwa langkah Gus Mus tersebut bukan sekadar keputusan personal, melainkan sebuah maklumat kultural tentang makna sejati dari sebuah integritas ulama.

Jabatan Rais Aam yang sering kali dipandang banyak pihak sebagai puncak pencapaian dan kehormatan, justru dinilai Gus Mus sebagai amanah maha berat yang seyogianya dihindari apabila masih ada sosok lain yang mampu mengembannya.

Sikap rendah hati tersebut, lanjut Gus Hans, menjadi sentilan dan tamparan lembut namun menghunjam bagi kultur modern yang cenderung haus akan kekuasaan.

Ia menilai laku hidup Gus Mus memberikan pelajaran berharga bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada tinggi rendahnya kursi jabatan, melainkan pada kemurnian niat dan pengabdian tanpa pamrih kepada masyarakat.

Lebih lanjut, Gus Han menggambarkan sosok Gus Mus sebagai karakter kiai kaffah atau ulama paripurna yang mampu mengintegrasikan seluruh dimensi kehidupan ke dalam nilai-nilai profetik.

Pengasuh Pondok Pesantren Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang ini menyebut bahwa Gus Mus tidak hanya menguasai khazanah keilmuan Islam klasik secara mendalam, tetapi juga lihai membumikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kedalaman ilmu yang dimiliki Gus Mus tidak melahirkan keangkuhan dogmatis, melainkan menjelma menjadi sikap santun, toleran, dan penuh kasih sayang kepada sesama manusia.

Gus Hans mengagumi gaya dakwah Gus Mus yang selalu menuntun dan merangkul tanpa menghakimi, serta diperkaya oleh jiwa seni dan budaya sebagai instrumen dakwah yang lentur.

Kendati demikian, Gus Han mengungkapkan keprihatinannya terhadap realitas hari ini di mana batas antara menuntun umat dan memburu pangkat justru semakin kabur.

Ia menyayangkan munculnya drama teatrikal dalam arena suksesi organisasi, di mana sebagian pihak berdalih tunduk “atas desakan jemaah” demi membungkus ambisi politik personal.

Pragmatisme semacam itu dinilai Gus Hans dapat menggerus kharisma keulamaan yang mestinya menjadi kompas moral bangsa, hingga rawan terkooptasi oleh kepentingan politik praktis.

Kendati fenomena pragmatisme nampak pekat, Gus Han optimistis harapan masih ada melalui keberadaan kiai-kiai sepuh dan pemikir muda di berbagai daerah yang konsisten memilih jalan sunyi mendidik santri.

Mengutip pandangan Gus Han, meneladani Gus Mus adalah pengingat bersama bahwa di tengah dunia yang serba transaksional, keikhlasan dan keberanian menjaga independensi dari jerat kekuasaan merupakan mahkota tertinggi yang sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version