CIREBON, TelusuR.id — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dinilai harus dimaknai lebih dari sekadar ritual organisasi lima tahunan.
Pakar komunikasi dan konsultan branding nasional, Gus Ipang Wahid, menegaskan bahwa momentum ini menjadi pijakan vital bagi NU untuk menentukan arah perjalanan memasuki abad kedua.
Pemilihan Jombang sebagai lokasi muktamar dinilai memiliki bobot sejarah yang sangat kuat karena lekat dengan jejak perjuangan para kiai pendiri organisasi.
Namun, cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari ini menekankan bahwa kembali ke Jombang tidak boleh sekadar menjadi nostalgia masa lalu.
“Ini bukan sekadar kembali ke akar untuk bernostalgia. Kembali ke Jombang harus menjadi momentum untuk melompat lebih jauh,” ujar Gus Ipang Wahid, dikutip Telusur.id Selasa (11/8/2026).
Gus Ipang menyebut tantangan NU pada abad kedua jauh lebih kompleks, tak terlihat, dan hadir langsung di genggaman setiap orang.
Ancaman seperti gempuran algoritma digital, disrupsi kecerdasan buatan (AI), kapitalisme global, hingga pergeseran otoritas keagamaan ke layar gawai menjadi tantangan nyata hari ini.
Oleh sebab itu, ia mendesak agar Muktamar ke-35 NU tidak habis dalam persaingan faksional maupun perdebatan rutin organisasi.
Jangkar utama relevansi NU di tengah perubahan zaman, menurutnya, terletak pada transformasi pesantren dan pencetakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul.
Ia mengingatkan bahwa penguasaan kitab kuning dan ilmu agama harus dilengkapi dengan penguasaan sains, teknologi, ekonomi global, dan bahasa internasional.
Pesantren pun didorong untuk bertransformasi menjadi laboratorium kemajuan peradaban, bukan sekadar ruang reproduksi pengetahuan masa lalu.
Gus Ipang mencontohkan praktik pendidikan di Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon yang sukses memadukan tradisi keislaman dengan kurikulum global yang adaptif.
Ia berharap Muktamar di Jombang mampu merumuskan cetak biru nasional pengembangan SDM unggul berbasis pesantren secara terstruktur.
Modal sosial (social capital) warga Nahdliyin yang sangat besar harus segera dikonversi menjadi modal manusia (human capital) yang siap bersaing secara global.
Gus Ipang mewanti-wanti agar perhelatan Muktamar ke-35 tidak terjebak dalam arus politik praktis maupun transaksi kekuasaan jangka pendek.
Sebaliknya, perhelatan di Kota Santri tersebut harus dijadikan panggung utama untuk melahirkan transaksi gagasan besar demi masa depan generasi muda NU.
“NU harus memilih: tetap nyaman menjadi penonton sejarah di abad kedua atau bangkit mengambil peran sebagai sutradara peradaban dunia,” pungkasi Gus Ipang.
